99 Keinginan #47Dua Pilihan

99 Keinginan #47

Ia dihadapkan pada dua orang yang sama-sama tidak mudah dipilih. Satu membuat hatinya hidup, tapi masa depan bersama orang itu selalu tampak berkabut. Satu lagi tidak membuat dadanya berdebar sekeras itu, tapi bersamanya, hari esok terasa bisa ditinggali.

Pada umur tertentu, seseorang mulai sadar bahwa cinta dan masa depan ternyata tidak selalu duduk di kursi yang sama.

Perempuan itu baru benar-benar mengerti saat ia berdiri di depan rak susu sebuah minimarket, memegang dua kotak dengan rasa yang berbeda, dan tiba-tiba menangis tanpa suara.

Bukan karena susu. Tentu saja bukan.

Ia menangis karena ponselnya baru saja menerima dua pesan dari dua laki-laki yang berbeda.

Yang pertama dari laki-laki yang ia cintai.

Aku kangen. Nanti malam bisa ketemu?

Yang kedua dari laki-laki yang tidak pernah membuat dadanya berantakan, tapi selalu membuat hari-harinya terasa lebih mudah disusun.

Besok aku antar ke dokter ya. Jangan naik ojek sendiri kalau masih pusing.

Ia berdiri di sana cukup lama sampai pintu kulkas minimarket mengembun dan kasir mulai melirik dari jauh.

Di tangannya, dua kotak susu sama-sama dingin. Di kepalanya, dua bentuk hidup berdiri saling berhadapan.

Satu membuatnya merasa hidup. Satu membuat hidup terasa mungkin.

Dan tidak ada pilihan yang terasa sepenuhnya benar.


Laki-laki pertama bernama Arman.

Dengan Arman, dunia selalu terasa sedikit lebih terang, tapi juga lebih melelahkan.

Ia bukan laki-laki yang benar-benar baik dengan cara yang utuh. Ia bisa lembut, tapi tidak konsisten. Ia bisa membuat perempuan itu merasa istimewa, lalu beberapa jam kemudian membuatnya menunggu tanpa kabar. Ia bisa datang dengan kalimat manis, tapi jarang datang dengan tanggung jawab.

Arman pandai membuat hal kecil terasa besar. Mungkin karena hal baik darinya memang tidak datang terlalu sering, jadi setiap kali ia sedikit lembut, perempuan itu menyimpannya seperti bukti penting.

Pernah suatu malam, saat mereka makan ayam penyet di warung pinggir jalan, Arman mengambil sedikit nasi dan lauk dengan sendoknya, lalu menyuapkannya ke perempuan itu.

"Coba ini," katanya.

Padahal cuma suapan biasa. Tidak ada yang besar. Tidak ada yang benar-benar luar biasa.

Tapi perempuan itu mengingatnya terlalu lama.

Mengingat cara Arman meniup makanan itu sebentar supaya tidak terlalu panas. Mengingat ibu jarinya yang sempat menyentuh pinggir piring. Mengingat bagaimana ia merasa dipilih hanya karena disuapi satu kali di warung yang kursinya bahkan tidak rata.

Begitulah cara cinta kadang membuat seseorang tidak adil pada dirinya sendiri. Ia membesarkan satu kebaikan kecil untuk menutupi banyak hal yang sebenarnya menyakitkan.

Bersama Arman, ia merasa hidup. Tapi sering juga merasa dipakai saat Arman butuh ditemani, lalu ditinggalkan saat Arman sudah merasa cukup. Ia datang ketika kesepian. Menghilang ketika ditanya arah. Membuat perempuan itu belajar menerima remah perhatian, lalu menyebutnya cinta karena terlalu ingin percaya.

Setiap kali ditegur, Arman selalu bilang akan berubah.

Dua hari pertama, ia benar-benar terlihat berusaha. Pesan dibalas cepat. Nada bicara dijaga. Janji kecil ditepati. Perempuan itu hampir percaya lagi.

Lalu hari ketiga atau keempat, semuanya kembali seperti semula.

Arman menghilang lagi. Marah lagi. Membuat alasan lagi. Dan kalau perempuan itu mengingatkan dengan pelan, Arman justru merasa sedang diremehkan.

"Kamu ngomong kayak aku enggak pernah usaha," katanya suatu kali.

Padahal perempuan itu tidak sedang merendahkan. Ia hanya sedang meminta orang yang ia cintai berhenti menyakiti dirinya sendiri dan orang lain dengan cara yang sama.

Tapi ego Arman terlalu cepat berdiri di depan telinganya. Nasihat terdengar seperti serangan. Kepedulian terdengar seperti hinaan. Dan perempuan itu selalu berakhir minta maaf untuk luka yang bukan ia buat sendiri.

Tapi setiap kali percakapan sampai pada hal-hal yang lebih panjang dari malam itu, Arman selalu berubah kabur.

Rumah. Pekerjaan tetap. Tabungan. Kota mana yang akan mereka tinggali. Bagaimana kalau salah satu orang tua sakit. Bagaimana kalau hidup meminta mereka tidak hanya saling rindu, tapi juga saling bertanggung jawab.

Arman selalu punya cara untuk menghindar tanpa terdengar sedang menghindar.

"Nanti juga jalan."

"Kita lihat saja."

"Yang penting sekarang kita baik-baik dulu."

Kalimat-kalimat itu dulu terdengar romantis. Sekarang mulai terdengar seperti ruang tunggu yang tidak punya nomor antrean.


Laki-laki kedua bernama Genta.

Genta tidak pernah datang seperti badai. Ia datang seperti jadwal yang rapi.

Tidak terlalu mengejutkan. Tidak terlalu berisik. Tapi ada.

Ia mengingat jam dokter. Mengirim pesan kalau hujan mulai turun. Menanyakan apakah gas di kos masih cukup. Tidak membuat janji besar, tapi jarang melupakan janji kecil.

Pernah suatu sore, perempuan itu demam dan tidak membalas pesan siapa pun selama beberapa jam. Genta datang membawa bubur, obat, dan termometer.

"Kamu ini kalau sakit selalu sok kuat," katanya.

"Kamu ini kalau peduli selalu seperti petugas puskesmas."

"Yang penting pasien hidup."

Perempuan itu tertawa pelan. Bukan tawa yang membuat dada bergetar. Lebih seperti tawa orang yang merasa aman untuk tidak lucu-lucu amat.

Genta tidak membuatnya gelisah menunggu. Tidak membuatnya menebak. Tidak membuatnya membaca ulang pesan untuk mencari arti tersembunyi. Kalau ia salah, Genta bisa mendengar tanpa langsung menjadikan dirinya korban. Kalau diingatkan, ia tidak sibuk membela harga dirinya sebelum memahami maksud orang lain.

Bersamanya, hari esok punya bentuk.

Ada rumah kecil. Ada meja makan. Ada kalender di dinding. Ada seseorang yang mungkin tidak membuat hidup terasa seperti film, tapi membuat hidup terasa bisa dijalani tanpa terus-menerus memeriksa apakah lantainya akan runtuh.

Masalahnya, ia tidak mencintai Genta seperti ia mencintai Arman.

Dan kesadaran itu membuatnya merasa bersalah.

Karena Genta baik. Terlalu baik untuk dijadikan cadangan. Terlalu utuh untuk dicintai setengah.


Orang lain mungkin akan melihatnya dari jauh dan mengira pilihan itu mudah.

Pilih yang baik. Pilih yang aman. Pilih yang bisa diajak membangun masa depan.

Tapi manusia tidak sesederhana nasihat.

Kalau semua orang bisa memilih hanya dengan daftar pro dan kontra, tidak akan ada orang yang menangis di minimarket sambil memegang dua kotak susu.

Perempuan itu tahu Arman tidak cukup jelas. Ia tahu cinta mereka terlalu sering hidup dari hal-hal kecil yang ia paksa terlihat besar. Satu suapan. Satu jemputan yang telat tapi tetap ia syukuri. Satu pesan manis setelah seharian menghilang. Satu pelukan yang datang setelah ia hampir menyerah.

Ia tahu setiap kali ia membayangkan masa depan, wajah Arman ada di sana, tapi rumahnya tidak. Ada rindu. Ada tubuh yang ia kenal. Ada sedikit kebaikan yang ia simpan terlalu hati-hati.

Tapi tidak ada alamat.

Di sisi lain, ia tahu Genta bisa menjadi seseorang yang baik untuk pulang. Ia bisa membayangkan Genta memasang lampu dapur, menanyakan belanja bulanan, mengantar ibunya ke rumah sakit, dan menyimpan payung cadangan di mobil.

Semuanya terlihat mungkin.

Tapi hatinya tidak berlari ke sana.

Dan ia takut suatu hari rasa aman itu berubah menjadi rasa bersalah yang panjang.

Karena tidak ada yang lebih tidak adil daripada menjadikan seseorang rumah, sementara diam-diam hatimu masih menatap jalan lain. Apalagi ketika jalan lain itu bahkan berkali-kali membiarkanmu kehujanan sendirian, lalu kamu tetap mengingat satu kali ia meminjamkan jaket sebagai alasan untuk bertahan.


Malam itu, ia akhirnya bertemu Arman.

Mereka duduk di warung kopi kecil yang meja kayunya sedikit lengket. Arman datang dengan rambut basah setelah hujan, tersenyum seperti biasa, dan berkata:

"Aku hampir kehujanan."

"Hampir?"

"Iya. Kehujanannya sudah terjadi, tapi aku masih ingin terdengar menang."

Biasanya perempuan itu akan tertawa lebih lama. Malam itu ia hanya tersenyum.

Arman menyadarinya.

"Kamu kenapa?"

Ia menatap gelas teh di depannya. Ada ampas kecil berputar pelan di dasar gelas.

"Kalau lima tahun lagi, kamu membayangkan kita di mana?"

Pertanyaan itu membuat udara berubah.

Arman tidak langsung menjawab.

Di luar, suara motor lewat. Di meja sebelah, seseorang tertawa terlalu keras. Di antara mereka, diam mendadak bekerja lebih banyak daripada semua obrolan yang pernah mereka punya.

"Kenapa tiba-tiba tanya itu?"

"Karena aku capek mencintai sesuatu yang cuma jelas malam ini."

Arman menunduk. Mengusap bibir gelas dengan ibu jari.

"Aku sayang kamu."

"Aku tahu."

"Tapi?"

Perempuan itu menarik napas.

"Tapi aku tidak bisa tinggal hanya di rasa sayang."

Kalimat itu tidak keras. Tidak juga penuh tuduhan. Justru karena pelan, ia terdengar lebih menyakitkan.

Arman memandangnya seperti orang yang baru sadar bahwa cinta yang selama ini ia anggap cukup ternyata sedang diminta bentuk.

Dan ia belum punya bentuk itu.


Besok sorenya, Genta menjemputnya ke dokter.

Tidak bertanya macam-macam. Tidak menuntut kejelasan. Hanya membawa jaket karena udara mendung.

Di ruang tunggu, Genta duduk di sebelahnya sambil membaca nomor antrean.

"Kamu pucat," katanya.

"Aku memang lahir dengan konsep warna yang hemat."

Genta tertawa kecil.

Lalu diam.

Diam bersama Genta tidak membuatnya panik. Tidak membuatnya merasa harus mengisi ruang. Ia bisa duduk tanpa menjadi menarik. Tanpa menjadi lucu. Tanpa menjadi perempuan yang harus terus membuktikan bahwa ia layak ditemani.

Itu menenangkan.

Dan justru karena menenangkan, ia makin takut.

Karena aman bukan alasan yang cukup untuk melibatkan hati seseorang jika hatimu belum benar-benar sampai.

Ia menoleh ke Genta.

"Kamu baik banget."

Genta tidak langsung menjawab. Mungkin karena ia tahu kalimat seperti itu sering datang sebelum sesuatu yang tidak enak.

"Aku tahu," katanya akhirnya, mencoba bercanda.

Perempuan itu tertawa kecil, lalu matanya panas.

"Aku takut menyakitimu."

Genta menutup buku antrean di tangannya.

"Karena dia?"

Perempuan itu diam.

Jawaban kadang tidak perlu suara.

Genta mengangguk pelan. Tidak marah. Tidak juga terlihat baik-baik saja.

"Aku enggak mau jadi tempat kamu belajar lupa," katanya.

Kalimat itu membuat perempuan itu menunduk.

Karena Genta benar.

Dan kebenaran yang diucapkan orang baik sering kali jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.


Beberapa pilihan tidak bisa diselesaikan malam itu juga.

Perempuan itu tidak langsung memilih Arman. Tidak juga langsung memilih Genta.

Untuk pertama kalinya, ia memilih berhenti dulu.

Berhenti menjadikan cinta sebagai alasan untuk menunda pertanyaan yang harus dijawab. Berhenti menjadikan rasa aman sebagai tempat bersembunyi dari perasaan yang belum selesai. Berhenti menyeret dua orang baik ke dalam kebingungannya sendiri.

Mungkin kedengarannya pengecut. Tapi kadang berhenti adalah satu-satunya cara seseorang tidak semakin melukai.

Ia mengirim pesan kepada Arman:

Aku sayang kamu, tapi aku tidak bisa terus hidup di masa depan yang tidak pernah kamu berani bayangkan.

Lalu kepada Genta:

Kamu baik. Justru karena itu, aku tidak mau menjadikan kamu tempat singgah dari kebingunganku.

Setelah itu ia mematikan ponsel.

Bukan untuk dramatis. Hanya karena untuk pertama kalinya setelah lama, ia tidak ingin satu pun jawaban orang lain menentukan apakah ia boleh bernapas lega malam itu.


Keinginannya sederhana.

Ia ingin suatu hari tidak perlu memilih antara orang yang membuat hatinya hidup dan orang yang membuat hidupnya terasa mungkin.

Ia ingin mencintai seseorang yang bisa membuatnya berdebar tanpa membuat masa depan terlihat gelap.

Ia ingin pulang kepada orang yang tidak hanya nyaman, tapi juga dicintai dengan jujur.

Sebab pada akhirnya, cinta yang paling layak diperjuangkan bukan cuma cinta yang menyala. Ia juga harus cukup terang untuk menunjukkan jalan pulang.