3 Menit

99 Keinginan #46

Aku ingin kita masuk ke photo box kecil yang tirainya susah ditutup itu, lalu gagal empat kali berturut-turut sampai akhirnya sadar bahwa foto yang bagus memang kadang bukan yang rapi, tapi yang paling mirip kita.

Aku ingin suatu hari kita masuk ke photo box kecil yang tirainya selalu susah ditutup itu.

Bukan dengan baju terbaik. Bukan setelah hidup rapi. Bukan juga karena ada tanggal penting yang harus dirayakan.

Aku ingin kita masuk begitu saja, mungkin setelah jalan kaki terlalu lama, mungkin setelah beli minum dingin di minimarket, mungkin waktu rambutmu sudah sedikit berantakan dan aku sudah mulai tidak tahu harus bilang apa supaya tetap terdengar tenang di dekatmu.

Lalu kita berdiri di dalam bilik sempit itu dan langsung bingung.

"Ini pencet yang mana?"

"Yang hijau kayaknya."

"Kok kayaknya? Kamu pernah kan?"

"Pernah. Tapi gagal."

Kamu pasti akan menatapku seperti sedang mempertimbangkan apakah masih aman mempercayai laki-laki sepertiku.

Lalu, karena ruangnya terlalu sempit, siku kita akan saling bersentuhan dan tak ada satu pun dari kita yang pura-pura tidak sadar.

Lalu hitung mundur mulai.

Tiga. Dua. Satu.

Foto pertama gagal karena aku masih melihat layar. Wajahku setengah panik, matamu sudah siap, dan hasilnya membuatku tampak seperti orang yang baru sadar dompetnya hilang.

Kamu tertawa duluan. Yang keras. Yang membuat bahumu naik sedikit. Yang membuat orang di luar mungkin menoleh sebentar.

"Ulang."

Foto kedua gagal karena kamu belum selesai membereskan poni. Tanganku sudah membentuk pose sok santai, tapi kamu masih setengah menunduk dan hasilnya seperti aku sedang foto dengan seseorang yang menyesal datang.

"Ini lebih jelek."

"Diam. Ulang lagi."

Aku akan refleks ingin membenarkan rambutmu, lalu berhenti setengah jalan.

"Kenapa?"

"Takut salah."

"Udah, sini."

Dan kamu akan menunduk sedikit, membiarkanku merapikan satu helai yang jatuh di dekat mata kirimu seperti itu hal paling biasa di dunia, padahal jantungku kemungkinan besar sudah ribut sendiri.

Foto ketiga hampir berhasil. Hampir.

Tapi tepat sebelum lampu menyala, aku menoleh ke kamu karena kamu bilang, "jangan bikin muka aneh."

Dan hasilnya jadi foto yang sangat jujur: kamu menahan tawa. aku melihatmu. dan tak satu pun dari kami menghadap kamera dengan benar.

Entah kenapa, justru itu yang paling aku suka.

Karena mungkin memang begitu bentuk kita waktu sedang dekat: tidak pernah benar-benar siap, tidak terlalu rapi, tapi selalu lebih sibuk melihat satu sama lain daripada melihat dunia lurus-lurus.

Foto keempat baru jadi lumayan.

Kamu akhirnya menyerah membenarkan rambut. Aku akhirnya berhenti sok tahu. Kita duduk lebih rapat karena biliknya terlalu sempit. Bahu kita saling menempel. Lutut kita juga hampir saling bertabrakan.

Aku bisa mencium samar wangi parfum yang mulai tipis dari lehermu. Dan entah kenapa, hal sekecil itu cukup untuk membuat bilik sempit itu terasa lebih berbahaya daripada seharusnya.

"Udah, senyum biasa aja," katamu.

"Aku biasa aja memang begini."

"Berarti biasa kamu jelek."

Lampu menyala tepat ketika aku mau protes.

Dan hasilnya, anehnya, bagus.

Bukan bagus seperti foto pasangan di internet yang semua warnanya pas dan semua senyumnya simetris. Bagus dengan cara yang lebih menyenangkan: matamu masih menyimpan sisa tawa, bibirku setengah protes, dan ada jarak yang sudah hilang tanpa kita sadari sejak tadi.

Di foto itu, aku kelihatan seperti orang yang sedang jatuh cinta tapi telat sadar. Dan kamu kelihatan seperti orang yang sudah tahu duluan.

Setelah strip fotonya keluar, kamu pasti akan bilang:

"Yang pertama jangan dilihat siapa-siapa."

Tapi aku tahu kita akan tetap menyimpannya.

Mungkin kamu akan memasukkannya ke dompet. Mungkin aku akan pura-pura tidak melihat. Lalu beberapa minggu sesudahnya, waktu kita membeli sesuatu dan kamu membuka dompet itu sebentar, aku akan melihat strip foto kita terselip di sana dan diam-diam merasa hari itu menang lebih banyak daripada yang kukira.

Karena kadang yang paling ingin disimpan dari satu hari bukan versi terbaiknya. Justru versi gagalnya. Versi yang miring. Versi yang terlalu jujur untuk dipoles.

Aku ingin kita punya kenangan yang seperti itu.

Bukan kenangan yang sempurna. Kenangan yang lucu. Yang kalau dilihat lagi beberapa bulan kemudian, tetap bisa membuat kita senyum sendiri karena ingat betapa sempit biliknya, betapa paniknya kita, dan betapa anehnya aku di foto pertama.

Dan mungkin juga karena di hari itu, tanpa ada pengakuan besar, tanpa ada momen yang sengaja dibuat dramatis, kita sama-sama tahu bahwa mesra ternyata bisa sesederhana tidak menjauh saat bahu sudah telanjur menempel.

Keinginanku sederhana. Aku ingin kita masuk ke photo box, gagal empat kali, lalu pulang sambil membawa satu strip foto yang jelek-jelek lucu, tapi cukup mirip kita untuk disimpan lama-lama.