8 Menit

99 Keinginan #45

Perempuan itu ingin membuat pesta kecil tanpa mengundang keluarganya. Bukan karena ia membenci mereka, tapi karena ia mulai mengerti bahwa tidak semua rumah benar-benar pernah menjadi tempat pulang. Kadang, keluarga yang paling mencintaimu adalah orang-orang yang kamu temukan setelah cukup berani pergi.

"Kamu yakin enggak mau undang keluargamu?"

Pertanyaan itu datang dari Nesa, teman kos yang sedang berdiri di depan kulkas kecil sambil memegang satu plastik es batu.

Perempuan itu sedang menata piring kertas di meja lipat. Ada kue kecil. Ada mi goreng dalam wadah besar. Ada buah potong. Ada teh hangat di teko kaca yang tutupnya sedikit longgar.

Di dinding, poster-poster yang baru ia bingkai minggu lalu tergantung agak miring, tapi ia membiarkannya begitu. Di kursi, ada baju lama yang baru ia celup warna cokelat muda karena ia bosan melihatnya kusam. Di lantai, sandal-sandal teman mulai berkumpul seperti bukti bahwa malam itu benar-benar terjadi.

Ia menatap piring terakhir di tangannya.

"Yakin."

Nesa tidak langsung menjawab. Ia hanya memasukkan es batu ke mangkuk, lalu bertanya lebih pelan:

"Enggak merasa jahat?"

Perempuan itu tersenyum sedikit.

"Merasa."

Jawaban itu keluar terlalu cepat. Terlalu jujur.

Lalu ia menaruh piring terakhir di meja dan mengusap telapak tangannya ke celana.

"Tapi aku capek selalu merasa jahat setiap kali memilih diriku sendiri."


Waktu kecil, ia punya sepeda tua berwarna merah yang catnya sudah mengelupas di dekat stang.

Sepeda itu terlalu besar untuk tubuhnya, jadi setiap kali berhenti, ia harus turun miring supaya kakinya bisa menyentuh tanah. Rantainya sering bunyi. Rem belakangnya tidak selalu nurut. Tapi ia tetap memakainya keliling gang karena sepeda itu satu-satunya benda yang membuat sore terasa seperti miliknya.

Di rumah, tidak banyak hal yang terasa seperti miliknya.

Kamar dipakai bergantian. Meja belajar sering menjadi tempat menaruh cucian. Buku-bukunya berpindah tanpa ditanya. Kalau ia menangis, selalu ada yang bilang ia terlalu sensitif. Kalau ia marah, selalu ada yang bilang anak perempuan tidak enak dilihat kalau banyak melawan. Kalau ia diam, orang rumah menganggap masalah selesai.

Lama-lama ia belajar cara paling aman untuk hidup di rumah itu: ikat rambut. rapikan wajah. senyum sedikit. katakan tidak apa-apa.

Bahkan ketika apa-apanya tidak pernah benar-benar baik.

Tidak ada satu kejadian besar yang bisa ia tunjuk dan berkata, di sinilah semuanya rusak. Justru itu yang membuatnya lama bingung.

Rumahnya tidak selalu berteriak. Tidak selalu memukul. Tidak selalu tampak buruk dari luar.

Tapi ada anak-anak yang tidak harus dipukul untuk tumbuh dengan perasaan tidak diinginkan. Ada anak-anak yang hanya perlu terlalu sering tidak didengar. Terlalu sering disuruh mengerti. Terlalu sering dibuat merasa keberadaannya merepotkan.

Dan anak itu, tanpa sadar, tumbuh menjadi perempuan yang selalu minta maaf bahkan sebelum melakukan kesalahan.


Ia baru benar-benar paham setelah pindah.

Di kamar kos pertama, ia membeli cangkir sendiri. Cangkir murah dengan gambar bunga yang terlalu ramai.

Waktu itu ia menaruh cangkir itu di rak kecil, lalu berdiri cukup lama hanya untuk memandanginya.

Tidak ada yang memindahkan. Tidak ada yang memakai tanpa izin. Tidak ada yang berkata, buat apa beli begitu.

Cangkir itu tetap di sana. Menunggunya pulang.

Hal sekecil itu membuat matanya panas.

Malam-malam pertama di kos tidak selalu mudah. Ia sering merasa bersalah. Setiap kali ponsel berbunyi dan nama keluarga muncul, tubuhnya langsung tegang. Kadang hanya pesan singkat. Kadang permintaan uang. Kadang kabar yang sebenarnya lebih mirip pengingat bahwa ia masih punya kewajiban, meski jarang sekali punya tempat.

Kalimat yang paling sering ia dengar adalah:

"Jangan lupa keluarga."

Tapi tidak ada yang pernah bertanya apakah keluarga pernah mengingatnya dengan cara yang membuatnya merasa aman.

Jadi ia belajar hidup pelan-pelan. Membuat teh sendiri. Membakar roti sampai sedikit gosong. Menggantung poster-poster yang dulu selalu disebut tidak penting. Mengecat ulang baju lama. Membeli lampu tidur kecil. Menyimpan kunci kamar di gantungan berbentuk ikan.

Hal-hal sederhana itu tidak langsung menyembuhkan. Tapi mereka mengajarinya satu hal: ruang yang kecil pun bisa terasa seperti rumah, kalau tidak ada yang membuatmu takut menjadi diri sendiri di dalamnya.


Beberapa minggu sebelum pesta kecil itu, ia mendengar lagu yang membuatnya berhenti di depan wastafel.

Air keran masih menyala. Busa sabun masih menempel di piring. Di luar jendela kos, hujan turun tipis dan membuat jemuran tetangga tidak jadi kering.

Satu kalimat pendek terdengar dari speaker kecil di dekat kompor:

You can let it go.

Lalu beberapa saat kemudian, kalimat lain menyusul:

You don't have to go home.

Ia tidak langsung menangis.

Justru itu yang membuatnya takut.

Karena ada beberapa kalimat yang tidak langsung menghancurkanmu. Mereka hanya duduk di dalam dada. Pelan-pelan. Lalu membuatmu sadar bahwa selama ini kamu memegang sesuatu yang sebenarnya sudah lama melukaimu.

Lagu itu seperti bicara kepada bagian dirinya yang paling lama disembunyikan. Bagian yang selalu merasa harus pulang meski rumah membuatnya mengecil. Bagian yang merasa perlu meminta maaf karena tumbuh menjauh. Bagian yang diam-diam ingin merayakan hidupnya sendiri tanpa harus mengundang orang-orang yang tidak pernah benar-benar datang untuknya.

Ia mematikan keran. Mengeringkan tangan. Duduk di lantai dapur kos.

Lalu untuk pertama kalinya, ia bertanya kepada dirinya sendiri: kalau suatu hari ia membuat pesta, apakah ia harus mengundang orang-orang yang tidak pernah benar-benar membuatnya merasa dirayakan?

Pertanyaan itu tampak sederhana. Tapi bagi perempuan seperti dirinya, sederhana sering kali datang terlambat.


Hari pesta kecil itu, ibunya menelepon dua kali.

Ia tidak mengangkat.

Bukan karena tidak sayang. Bukan karena ingin membalas dendam. Bukan karena ingin menjadi anak yang buruk.

Ia hanya tahu, kalau mendengar suara ibunya sebelum teman-temannya datang, mungkin seluruh keberaniannya akan bocor begitu saja.

Lalu pesan masuk.

Kamu sibuk sekali sekarang.

Lalu satu lagi.

Jangan lupa dari mana kamu berasal.

Ia membaca pesan itu sambil berdiri di dekat meja. Di depannya ada kue kecil yang sudah diberi lilin. Di belakangnya Nesa sedang tertawa karena gagal membuka botol soda. Di kamar, dua teman lain sedang berdebat soal lagu apa yang pantas diputar untuk pesta sekecil itu.

Ia menatap layar.

Dulu, pesan seperti itu cukup untuk membuatnya merasa bersalah seharian. Dulu, ia akan langsung menelepon balik. Minta maaf. Menjelaskan. Mengecilkan bahagianya sendiri supaya tidak terdengar seperti ia sedang meninggalkan siapa pun.

Tapi malam itu ia hanya membalik ponsel. Meletakkannya di meja. Lalu membantu Nesa membuka botol soda.

Sodanya tumpah sedikit ke lantai.

Nesa panik.

Perempuan itu tertawa. Benar-benar tertawa.

"Lihat," kata Nesa, "makanya kalau pesta jangan terlalu serius."

Dan untuk pertama kalinya setelah lama, ia merasa mungkin benar. Mungkin hidup memang tidak harus selalu dijalani seperti sidang pembuktian. Mungkin ia tidak harus terus membuktikan bahwa ia anak baik hanya karena ia memilih bahagia di tempat lain.


Teman-temannya datang satu per satu.

Ada yang membawa martabak. Ada yang membawa es krim yang hampir meleleh. Ada yang datang hanya dengan diri sendiri dan berkata, "maaf, aku bokek, tapi aku bawa cerita lucu."

Itu cukup.

Malam itu kamarnya penuh suara. Tidak terlalu banyak. Tidak terlalu rapi. Tapi cukup untuk membuat dinding-dindingnya terasa lebih hangat.

Mereka duduk di lantai. Makan dari piring kertas. Bernyanyi fals. Memotret kue dari sudut yang membuatnya terlihat lebih besar dari ukuran aslinya.

Perempuan itu memperhatikan semuanya dari dekat jendela.

Tidak ada orang yang bertanya kenapa keluarganya tidak datang. Tidak ada yang memaksanya menjelaskan masa kecilnya. Tidak ada yang berkata, bagaimanapun juga mereka tetap keluarga.

Mereka hanya hadir.

Dan kadang, hadir tanpa menuntut penjelasan adalah bentuk cinta yang sangat besar.

Saat lilin dinyalakan, Nesa mematikan lampu. Ruangan menjadi gelap sebentar. Api kecil di atas kue membuat wajah teman-temannya tampak lembut.

"Make a wish," kata seseorang.

Perempuan itu menutup mata.

Ia tidak meminta keluarga yang berbeda. Tidak meminta masa kecil yang bisa diulang. Tidak meminta orang-orang rumah tiba-tiba mengerti semua yang pernah mereka rusak.

Ia hanya meminta satu hal yang terasa mungkin: semoga ia berhenti merasa bersalah karena bertahan hidup dengan caranya sendiri.

Semoga ia percaya bahwa pergi tidak selalu berarti durhaka. Semoga ia bisa membangun keluarga kecil dari orang-orang yang benar-benar menunjukkan cinta, bukan hanya menuntutnya atas nama darah. Semoga suatu hari, ketika ia bahagia tanpa mereka di ruangan yang sama, ia tidak lagi merasa harus menundukkan kepala.

Lalu ia meniup lilin.

Tepuk tangan pecah. Seseorang bersiul. Nesa memeluknya dari samping sampai bahunya hampir menabrak meja.

Perempuan itu tertawa lagi. Namun kali ini, ada air mata yang ikut jatuh.

Tidak ada yang membuatnya malu. Tidak ada yang menyuruhnya berhenti. Tidak ada yang berkata ia terlalu sensitif.

Salah satu temannya hanya mengambil tisu, memberikannya, lalu berkata:

"Nangis aja. Di sini enggak ada yang nyuruh kamu kuat dulu."

Kalimat itu membuat tangisnya makin pelan, tapi lebih dalam.

Karena ternyata yang ia cari selama ini bukan keluarga yang sempurna. Ia hanya mencari orang-orang yang tidak membuatnya minta izin untuk merasa.


Malam sudah lewat ketika pesta selesai.

Piring kertas menumpuk. Lantai lengket sedikit karena soda. Kue tinggal separuh. Poster di dinding masih miring. Cangkir bunga yang dulu ia beli di kos pertama terisi teh hangat yang mulai dingin.

Teman-temannya belum pulang semua. Ada yang tertidur menyandar ke dinding. Ada yang masih mencuci piring sambil mengantuk. Ada yang duduk di lantai, membuka playlist pelan-pelan.

Perempuan itu berdiri di ambang pintu kamar, memandangi semuanya.

Keluarga, ternyata, tidak selalu datang dari orang-orang yang punya nama yang sama di kartu keluarga.

Kadang keluarga adalah orang yang tahu kamu tidak baik-baik saja, lalu tidak memaksamu bercerita malam itu juga. Orang yang datang membawa martabak meski uangnya tinggal sedikit. Orang yang memperbaiki lampu kamarmu tanpa menjadikannya utang. Orang yang duduk di lantai, makan kue murah, dan membuatmu merasa tidak sedang merepotkan siapa pun.

Ia mengambil ponsel. Membuka pesan ibunya lagi.

Jangan lupa dari mana kamu berasal.

Ia membaca kalimat itu tanpa tubuh yang tegang seperti dulu.

Ia memang tidak lupa.

Ia ingat semuanya. Rambut yang diikat supaya tampak rapi. Senyum yang dipakai supaya tidak ditanya. Sepeda merah yang remnya kadang tidak berfungsi. Kamar yang tidak pernah benar-benar menjadi miliknya. Kalimat-kalimat yang membuatnya merasa harus minta maaf karena tumbuh.

Ia tidak lupa.

Ia hanya tidak ingin tinggal di sana selamanya.

Malam itu ia tidak membalas pesan ibunya. Belum.

Ia hanya meletakkan ponsel, mengangkat cangkir tehnya, lalu duduk di lantai bersama orang-orang yang membuat kamarnya terasa penuh tanpa membuat dadanya sempit.

Keinginannya sederhana. Ia ingin suatu hari bisa membuat rumah yang tidak membuat siapa pun merasa harus menjadi kecil agar boleh dicintai.

Rumah yang pintunya terbuka untuk orang-orang yang datang dengan baik. Rumah yang tidak harus sedarah untuk setia. Rumah yang selalu menunjukkan cinta, bukan hanya menuntutnya.