99 Keinginan #44
"Kalau malam bisa dipilih, aku ingin mengajakmu ke tempat kunang-kunang masih berkedip sambil juga menyaksikan langit dengan bintang yang berkerlip." Bukan tempat mewah, bukan juga perjalanan besar. Hanya satu malam yang cukup sunyi untuk membuat dua orang merasa dekat tanpa harus banyak bicara.
"Kalau malam bisa dipilih, kamu maunya yang seperti apa?"
Kamu menanyakan itu sambil menutup jendela setengah, karena angin terlalu dingin dan tirai terus bergerak seperti tidak mau diam.
Aku tidak langsung menjawab.
Di luar, lampu-lampu rumah tetangga menyala biasa saja. Suara motor lewat satu kali. Lalu hilang.
Kamu menoleh.
"Jangan bilang kamu lagi mikir jawaban yang aneh."
"Memang."
"Aku tahu."
Aku tertawa kecil. Kamu juga. Dan seperti banyak hal lain di antara kita, percakapan itu berjalan tanpa terburu-buru, tanpa perlu dibuat tampak penting agar terasa berharga.
Aku lalu memandang ke luar sebentar, ke malam yang terlalu biasa untuk diingat orang, lalu berkata pelan:
"Aku ingin mengajakmu ke tempat kunang-kunang masih berkedip sambil juga menyaksikan langit dengan bintang yang berkerlip."
Kamu diam dua detik.
"Itu jawaban orang normal atau orang yang kurang tidur?"
"Campuran."
Kamu tersenyum. Lalu memeluk lutut sendiri di kursi.
"Lanjut."
Dan aku pun membayangkan tempat itu.
Bukan tempat yang ramai. Bukan tempat yang harus ditempuh dengan jadwal ketat dan itinerary panjang.
Aku membayangkan kita pergi ke tempat yang jalannya kecil, mungkin masih tanah atau batu, mungkin harus ditempuh dengan kendaraan yang pelan karena gelap terlalu cepat turun.
Di sana tidak ada gedung tinggi. Tidak ada suara klakson yang menyela. Tidak ada lampu toko yang terlalu terang sampai langit kehilangan bentuknya.
Mungkin hanya ada sawah yang sudah mulai gelap. Pohon-pohon yang tinggal jadi siluet. Rumah-rumah jauh dengan lampu kuning redup. Dan satu tempat terbuka yang cukup sunyi untuk membuat manusia ingat bahwa malam sebenarnya punya banyak bunyi kecil.
Bunyi daun. Bunyi serangga. Bunyi sandal yang menyeret tanah. Bunyi napas dua orang yang sengaja berjalan pelan agar tidak melewatkan apa-apa.
Aku ingin malam yang seperti itu.
Kamu akan bilang:
"Kalau ternyata nyamuknya banyak, romantisnya langsung hilang."
Aku akan menjawab:
"Romantis yang tahan nyamuk justru lebih bisa dipercaya."
Kamu akan mendengus. Tapi tetap ikut.
Mungkin di sana kita tidak banyak bicara. Bukan karena kehabisan topik. Justru karena beberapa tempat terlalu indah untuk diisi kalimat yang terburu-buru.
Aku membayangkan kita berdiri di pinggir jalan kecil itu, lalu kunang-kunang mulai muncul satu-satu.
Bukan banyak sekali seperti film. Justru sedikit. Pindah perlahan dari satu semak ke semak lain. Menyala. Padam. Menyala lagi.
Cahaya kecil yang tidak berisik. Tidak minta dilihat. Tapi justru karena itu membuat orang ingin diam lebih lama.
Kamu mungkin akan menepuk lenganku pelan.
"Eh, itu."
Aku akan mengangguk. Seperti orang yang sebenarnya sudah melihat, tapi tetap merasa lebih senang karena kamu yang menunjuk lebih dulu.
Lalu kita mendongak.
Dan di atas sana, langit tidak lagi terpotong kabel. Tidak lagi kalah oleh lampu kota. Hitamnya lebih utuh. Bintangnya lebih kelihatan.
Mungkin tidak semua rasi akan bisa kita kenali. Mungkin kita akan sok tahu menunjuk titik-titik cahaya sambil menebak-nebak nama yang salah.
"Itu Orion bukan?"
"Kayaknya bukan."
"Lalu apa?"
"Bintang yang berusaha."
Kamu akan tertawa. Aku juga.
Aku suka membayangkan tawa kita di tempat seperti itu. Tidak keras. Tidak meledak. Hanya cukup untuk menyatu dengan malam tanpa merusaknya.
Barangkali yang sebenarnya kuinginkan bukan cuma tempat itu.
Barangkali yang kuinginkan adalah kesempatan untuk melihatmu di dalam malam yang tidak menuntut apa-apa.
Tanpa layar ponsel. Tanpa jam. Tanpa pekerjaan yang menunggu dijawab. Tanpa suara-suara lain yang terlalu ramai sampai membuat isi kepala sendiri tidak terdengar.
Sebab belakangan aku sadar, jatuh cinta kita ini terlalu sering kalah oleh hal-hal yang kelihatannya biasa. Dingin pagi yang membuat kita buru-buru bangun. Mata yang masih berat tapi tetap harus terbuka. Pulang yang sering sudah sore sekali. Dan kerja yang entah kenapa selalu datang seperti orang yang merasa paling berhak didahulukan.
Kita berkali-kali dikejar urusan. Berkali-kali bilang nanti. Berkali-kali percaya akan ada waktu yang lebih longgar, padahal yang longgar justru jarang datang.
Kadang aku sampai bingung, kalau rindu yang terus ditunda itu akhirnya mati diam-diam di dalam dada, harus dikubur di mana. Karena ia tidak pernah benar-benar sempat hidup utuh di luar sana.
Dan mungkin yang paling kejam memang bukan pertengkaran besar. Melainkan masa depan yang datang pelan-pelan, lalu tanpa ribut mendorong kita dari belakang sampai kita lupa caranya berhenti dan saling menatap lebih lama.
Aku ingin melihat wajahmu saat cahaya kunang-kunang lewat sebentar di dekat rumput. Aku ingin tahu apakah kamu akan langsung menunjuk, atau diam-diam tersenyum dulu sebelum memanggilku. Aku ingin melihat caramu mendongak ke langit, menyipitkan mata, lalu pura-pura yakin pada nama bintang yang sebenarnya juga tidak kamu hafal.
Beberapa orang mungkin mengejar cinta lewat tempat yang mewah. Hotel bagus. Makan malam mahal. Kota yang lampunya tidak pernah tidur.
Aku tidak bilang itu buruk.
Aku cuma merasa ada bentuk bahagia yang lebih tenang dari semua itu. Bentuk yang tidak mengharuskan kita tampak istimewa di depan siapa pun. Bahagia yang cuma butuh malam cukup gelap, udara cukup dingin, dan satu orang yang tepat di sebelahmu.
Kamu pernah bilang, hal paling kamu suka dari cerita-cerita kecil kita adalah karena semua berjalan tanpa banyak dipaksa.
Kurasa itu sebabnya aku tidak ingin mengajakmu ke tempat ini untuk membuat sesuatu yang besar.
Aku tidak ingin menjadikannya pembuktian. Tidak ingin menjadikannya momen yang harus sempurna.
Kalau nanti sepatumu kotor, ya sudah. Kalau kita salah jalan sedikit, ya sudah. Kalau ternyata bintangnya tidak terlalu banyak karena langit sedang kurang baik, ya sudah.
Aku tetap ingin malam itu.
Karena mungkin cinta yang paling layak disimpan bukan cinta yang selalu berjalan sesuai rencana. Melainkan cinta yang tetap terasa indah meski harus diganggu hal-hal kecil yang sangat manusia.
Kamu menggaruk pelipis lalu berkata:
"Kalau aku capek di tengah jalan, gimana?"
"Aku tunggu."
"Kalau aku ngeluh terus?"
"Aku dengerin."
"Kalau aku takut gelap?"
Aku menatapmu sebentar.
"Ya berarti kita lihat kunang-kunang lebih dekat."
Kamu tersenyum dengan cara yang pelan sekali. Senyum yang biasanya datang waktu kamu tidak benar-benar ingin membalas sesuatu dengan kata-kata.
Dan anehnya, justru di momen-momen kecil seperti itu aku paling merasa dekat denganmu.
Aku tidak tahu apakah tempat seperti itu masih banyak tersisa.
Mungkin tidak. Mungkin semakin sedikit. Mungkin kita harus pergi cukup jauh untuk menemukannya.
Tapi bukankah beberapa hal memang layak dicari sejauh itu?
Tempat yang belum habis dirusak lampu. Malam yang belum habis dipotong notifikasi. Dan dua orang yang masih mau berdiri berdampingan tanpa merasa perlu mengisi setiap detik dengan suara.
Kalau suatu hari kita benar-benar sampai di sana, aku rasa aku tidak akan banyak bicara.
Mungkin aku hanya akan berdiri di dekatmu. Membiarkan bahu kita sesekali bersentuhan. Mendengar kamu bernapas. Melihat cahaya kecil hidup di semak, lalu padam lagi. Mendongak saat bintang-bintang tampak lebih jelas daripada biasanya.
Lalu pelan-pelan mengerti bahwa beberapa keinginan memang tidak perlu rumit agar terasa dalam.
Keinginanku malam itu sederhana. Aku ingin mengajakmu ke tempat kunang-kunang masih berkedip sambil juga menyaksikan langit dengan bintang yang berkerlip, lalu pulang dengan hati yang lebih tenang daripada saat kita berangkat.