99 Keinginan #43
"Kalau suatu hari kita benar-benar pergi jauh, kamu mau ke mana?" tanyamu. Aku tidak menjawab gunung, kota besar, atau tempat yang ramai. Aku cuma membayangkan sebuah mercusuar di pulau paling pinggir negeri ini, dan satu petang ketika kita tidak perlu menjadi kuat.
"Kalau suatu hari kita benar-benar pergi jauh, kamu mau ke mana?"
Kamu pernah menanyakan itu saat kita sedang duduk di lantai, membagi sebungkus keripik yang terlalu asin, sementara hujan membuat kaca jendela tampak buram.
Waktu itu aku tidak langsung menjawab.
Kamu menebak-nebak sendiri.
"Gunung?"
Aku menggeleng.
"Kota yang banyak lampunya?"
Aku menggeleng lagi.
"Pantai?"
"Hampir."
Kamu menyipitkan mata, seperti sedang mencoba membaca sesuatu yang sengaja kusembunyikan.
"Jawabanmu pasti aneh."
Mungkin benar.
Kamu lalu mengambil keripik terakhir dari bungkusnya, mematahkannya jadi dua, dan memberiku bagian yang lebih besar sambil berkata, "nih, biar kamu punya tenaga buat mikir jawaban aneh itu."
Hal-hal kecil seperti itu yang sering membuatku diam-diam tersenyum. Bukan karena romantis dengan cara yang semua orang paham. Tapi karena bersamamu, aku tidak merasa harus selalu menjelaskan diriku dari awal.
Cerita kita kan berjalan perlahan dan sederhana. Saling mengerti hanya lewat bicara. Lewat pertanyaan yang kelihatannya remeh. Lewat keripik terakhir yang dibagi dua. Lewat caramu menunggu jawabanku tanpa membuatku merasa lambat.
Karena yang terpikir di kepalaku waktu itu bukan tempat yang ramai, bukan hotel bagus, bukan kota yang semua orang ingin datangi.
Aku justru membayangkan sebuah mercusuar.
Di pulau paling pinggir negeri ini.
Dan sejak hari itu, diam-diam aku menyimpan satu keinginan: aku ingin kita menghabiskan suatu petang di puncak mercusuar itu.
Bukan sore yang ramai. Bukan perjalanan yang penuh rencana. Bukan liburan yang harus dibuktikan lewat banyak foto.
Aku cuma ingin kita sampai di sebuah pulau kecil yang namanya jarang disebut orang, turun dari perahu dengan kaki sedikit gemetar, membawa tas seadanya, lalu berjalan pelan di jalan beton yang mulai retak karena garam dan angin.
Di kanan-kiri, rumah-rumah berdiri rendah. Ada jemuran yang bergerak pelan. Ada anak kecil main bola tanpa alas kaki. Ada ibu-ibu duduk di teras sambil membersihkan ikan. Ada anjing kurus yang malas menggonggong karena mungkin sudah terlalu sering melihat pendatang datang dan pergi.
Kamu akan mengeluh karena matahari terlalu tajam. Aku akan pura-pura kuat sambil diam-diam mengusap keringat di leher.
Lalu kamu akan tertawa dan bilang:
"Padahal yang ngajak ke pulau paling pinggir itu kamu."
Aku akan menjawab:
"Iya, tapi aku enggak bilang aku tahan panas."
Kamu akan memutar mata. Lalu kita tetap berjalan.
Mungkin di situlah aku paling ingin melihat kita: tidak sedang sempurna, tidak sedang cantik-cantik sekali, tidak sedang jadi pasangan yang punya hidup rapi. Hanya dua orang yang kepanasan, kehausan, dan tetap saling menunggu langkah.
Karena belakangan aku mulai tahu, cinta tidak selalu terlihat dari kalimat yang besar. Kadang ia cuma terlihat dari seseorang yang memperlambat langkahnya waktu tahu kamu mulai kelelahan.
Mercusuar itu mungkin tidak terlalu tinggi kalau dibandingkan dengan gedung-gedung kota. Tapi di pulau sekecil itu, ia akan terlihat seperti sesuatu yang menjaga banyak rahasia.
Catnya putih, sedikit kusam. Beberapa bagian besinya mulai karat. Tangga di dalamnya sempit, melingkar, dan mungkin membuatmu berhenti dua kali untuk mengambil napas.
"Kamu yakin ini aman?" tanyamu.
"Enggak tahu," jawabku.
"Jawaban yang sangat menenangkan."
"Tapi kalau roboh, setidaknya kita roboh di tempat yang bagus."
Kamu akan menatapku seperti ingin marah, tapi akhirnya tertawa juga.
Aku suka membayangkan tawamu pecah di dalam ruang sempit itu. Naik bersama gema kecil dari langkah kita. Menabrak dinding. Lalu hilang sebelum sempat jadi kenangan yang terlalu sedih.
Di tengah tangga, kamu mungkin akan berhenti. Memegang pagar besi dengan tangan kanan. Mengatur napas. Rambutmu berantakan oleh angin yang masuk dari lubang kecil di dinding.
Aku tidak akan menyuruhmu cepat. Aku tidak akan bilang sebentar lagi sampai kalau sebenarnya masih jauh.
Aku akan berdiri dua anak tangga di bawahmu, menunggu.
Karena aku ingin belajar mencintaimu tanpa membuatmu merasa dikejar. Aku ingin belajar hadir tanpa menjadikan kehadiranku sebagai beban.
Itu hal sederhana. Tapi tidak semua orang mengerti.
Kadang kita terlalu sibuk membuktikan bahwa kita bisa membawa seseorang sampai tujuan, sampai lupa bertanya apakah orang itu masih sanggup berjalan.
Kita tidak selalu mudah.
Aku tahu itu.
Ada hari ketika kamu terlalu diam dan aku terlalu banyak menebak. Ada hari ketika aku ingin semua hal segera jelas, sementara kamu butuh waktu untuk memahami isi kepalamu sendiri. Ada hari ketika percakapan kita berhenti di tengah karena salah satu dari kita terlalu takut mengatakan kalimat yang sebenarnya.
Kamu pernah bilang:
"Aku takut kalau nanti aku tidak bisa jadi orang yang kamu bayangkan."
Waktu itu aku hampir menjawab cepat. Hampir bilang kamu tidak perlu takut. Hampir bilang aku tidak punya bayangan apa-apa.
Tapi itu tidak sepenuhnya benar.
Semua orang punya bayangan. Tentang orang yang ia cintai. Tentang rumah yang ingin ia pulangi. Tentang masa depan yang ingin ia percaya.
Yang membuat cinta jadi sulit bukan karena kita punya bayangan. Yang sulit adalah ketika kita mulai memaksa orang lain hidup persis di dalam bayangan itu.
Jadi kalau suatu hari kita benar-benar berdiri di puncak mercusuar itu, aku ingin datang bukan sebagai orang yang membawa tuntutan.
Aku ingin datang sebagai seseorang yang akhirnya cukup dewasa untuk melihatmu sebagai manusia. Bukan penyelamat. Bukan jawaban. Bukan tempat menaruh seluruh sepi.
Manusia.
Yang bisa lelah. Bisa berubah. Bisa salah. Bisa takut. Dan tetap layak ditemani tanpa harus selalu tampak mudah dicintai.
Di puncak mercusuar, angin pasti lebih keras.
Kamu akan merapatkan jaket. Aku akan pura-pura tidak kedinginan. Lalu kamu akan menyuruhku menutup resleting jaket dengan nada yang membuatku merasa seperti anak kecil yang baru ketahuan sok kuat.
Dari atas sana, laut akan terlihat terlalu luas untuk dijelaskan. Perahu-perahu kecil akan tampak seperti titik yang bergerak pelan. Pulau itu akan terasa lebih kecil dari semua masalah yang pernah kita anggap besar.
Mungkin langit mulai berubah warna. Biru turun jadi abu. Abu pelan-pelan diberi jingga. Lalu cahaya terakhir jatuh di permukaan laut seperti sesuatu yang tidak bisa ditahan lama-lama.
Aku ingin duduk di sana bersamamu. Tidak perlu banyak bicara.
Mungkin kita hanya makan roti yang sudah penyok di dalam tas. Mungkin kamu membuka botol air dan bilang rasanya hangat karena terlalu lama kena matahari. Mungkin aku meminta satu teguk, lalu kamu bilang:
"Beli sendiri tadi enggak mau."
Aku akan mengambilnya juga. Kamu akan mengomel. Tapi membiarkan.
Aku ingin sore yang seperti itu. Sore yang tidak berusaha menjadi peristiwa besar. Sore yang justru terasa mahal karena kecil dan mungkin tidak akan terulang.
Aku tidak tahu apakah suatu hari kita benar-benar sampai ke sana.
Ada banyak hal yang bisa mengubah rencana. Uang. Pekerjaan. Keluarga. Jarak. Ketakutan. Atau kita sendiri, yang kadang terlalu pandai menunda hal baik sampai waktunya tidak lagi cukup.
Tapi kalau hidup memberi satu petang saja, aku ingin membawamu ke tempat yang paling pinggir.
Tempat di mana sinyal ponsel mungkin hilang. Tempat di mana orang tidak mudah mencari kita. Tempat di mana laut lebih banyak bicara daripada notifikasi.
Aku ingin melihat wajahmu saat lampu mercusuar mulai menyala. Tidak terang sekaligus. Pelan. Berputar. Menyapu laut. Lalu hilang sebentar sebelum kembali lagi.
Mungkin cinta yang sehat memang seperti itu. Tidak harus terus-menerus menerangi seseorang dari dekat. Kadang cukup hadir dengan ritme yang bisa dipercaya. Datang. Pergi sebentar. Lalu kembali pada waktunya.
Aku ingin kita punya cinta yang seperti itu.
Bukan cinta yang membuat orang merasa dikurung. Bukan cinta yang membuat seseorang harus selalu menjawab cepat supaya tidak dicurigai. Bukan cinta yang membuat dua manusia lupa cara bernapas.
Aku ingin cinta yang memberi ruang. Tapi tidak membuat orang merasa sendirian.
Nanti, saat petang hampir selesai, kita mungkin akan turun dengan kaki pegal.
Tangga mercusuar yang tadi terasa romantis mungkin berubah jadi menyebalkan. Kamu akan bilang kakimu sakit. Aku akan bilang kakiku juga. Kita akan tertawa karena ternyata keinginan yang indah tetap punya betis yang protes.
Di bawah, pulau mulai gelap. Warung kecil menyalakan lampu. Ada bau ikan dibakar dari arah rumah warga. Ada suara televisi dari ruang tamu yang pintunya terbuka. Ada orang memanggil anaknya pulang.
Kita akan berjalan lagi ke arah penginapan. Pelan. Tidak perlu saling menggenggam terus, mungkin. Cukup sesekali bahu bersentuhan. Cukup tahu bahwa yang satu tidak meninggalkan yang lain di belakang.
Dan kalau malam itu kamu bertanya kenapa aku ingin sekali ke mercusuar di pulau paling pinggir negeri ini, mungkin aku akan menjawab setelah cukup lama diam:
"Karena aku ingin tahu rasanya berada sejauh itu dari dunia, tapi tetap merasa pulang karena kamu ada."
Mungkin kamu akan pura-pura tidak terharu. Mungkin kamu akan bilang kalimatku berlebihan. Mungkin kamu akan berjalan lebih dulu supaya aku tidak melihat wajahmu.
Tidak apa-apa.
Aku tidak butuh jawaban yang besar.
Aku hanya ingin satu petang yang cukup sederhana untuk diingat lama: kamu, angin laut, tangga sempit, roti penyok, lampu mercusuar, dan rasa bahwa di ujung paling jauh sekalipun, manusia tetap bisa merasa dekat jika datang bersama orang yang tepat.
Keinginanku sederhana. Aku ingin kita menghabiskan suatu petang di puncak mercusuar di pulau paling pinggir negeri ini, lalu pulang sebelum malam benar-benar menelan jalan, dengan hati yang sedikit lebih tenang daripada saat kita datang.