8 Menit

99 Keinginan #42

Penerbangannya ke Singapura ditunda dua puluh empat jam, dan di waktu tunggu yang terlalu panjang itu, laki-laki tersebut akhirnya melakukan hal yang sejak lama ia tunda: berkata jujur kepada perempuan yang pernah membuatnya merasa seperti sesuatu yang bisa dipakai untuk menutup sepi, lalu ditinggalkan ketika masa lalu memanggil lagi.

Penerbangannya ke Singapura ditunda dua puluh empat jam.

Kalimat itu masih terasa tidak masuk akal bahkan setelah ia membacanya berkali-kali di layar bandara.

Dua puluh empat jam.

Cukup lama untuk kesal. Cukup lama untuk mengubah rencana. Cukup lama untuk membuat seseorang yang tadinya sudah siap pergi harus duduk lagi dan menunggu hidup selesai bercanda.

Malam itu ia kembali ke penginapan dengan carrier di punggung dan kepala yang setengah kosong. Kota sudah lebih pelan. Jalanan menuju tempat menginap tidak seramai siang. Di beberapa sudut, warung masih buka, lampunya kuning, dan orang-orang yang makan tampak tidak peduli pada penerbangan siapa pun yang tertunda.

Ia menyukai itu.

Ada sesuatu yang menenangkan dari dunia yang tetap biasa ketika hidupmu terasa baru saja berubah arah.

Di kamar, ia meletakkan carrier dekat dinding. Membuka sepatu. Mengecek ulang email maskapai. Membalas pesan calon klien yang ia temui di bandara. Lalu duduk di tepi kasur tanpa langsung menyalakan lampu besar.

Ponselnya menyala lagi.

Nama perempuan itu muncul.

Bukan panjang. Bukan dramatis. Cuma satu pesan yang datang terlalu malam untuk disebut biasa:

kita enggak bisa berteman lagi. aku dilarang sama dia.

Ia menatap pesan itu lama.

Dulu, pesan dari perempuan itu bisa membuat seluruh tubuhnya siaga. Ia akan menebak nada. Menebak maksud. Menebak apakah perempuan itu rindu, merasa bersalah, atau hanya sedang kesepian.

Dulu, satu pesan dari perempuan itu bisa membuatnya membatalkan marah, membatalkan tidur, bahkan membatalkan dirinya sendiri.

Tapi malam itu ia hanya duduk diam. Capek, iya. Sedih, masih. Tapi tidak lagi terburu-buru menjawab seperti orang yang takut kehilangan kesempatan terakhir.

Beberapa menit kemudian, pesan kedua masuk.

maaf ya. aku cuma enggak mau bikin masalah lagi.

Ia hampir tertawa.

Bukan karena kalimat itu lucu. Tapi karena ia akhirnya bisa melihat pola yang dulu selalu ia bela.

Perempuan itu selalu datang dengan kalimat yang tampak baik. Selalu cukup lembut untuk membuatnya merasa bersalah kalau tidak menjawab. Selalu cukup samar untuk tidak benar-benar mengakui apa yang sedang terjadi.

Dan malam itu yang terjadi sebenarnya sederhana: ia kembali disingkirkan dari hidup perempuan itu, bukan karena ia melakukan sesuatu yang salah, tapi karena laki-laki dari masa lalu perempuan itu tidak mengizinkannya ada.

Rasanya aneh. Bukan cemburu. Bukan juga ingin berebut tempat.

Lebih seperti dihina dengan cara yang sangat pelan. Seolah seluruh kebaikannya boleh diterima waktu perempuan itu butuh ditenangkan, tapi keberadaannya harus segera disapu begitu orang lama itu meminta ruang.

Ia mengambil napas panjang. Lalu untuk pertama kalinya, ia tidak berusaha menyusun jawaban yang membuat perempuan itu nyaman.

Ia menulis:

Aku paham. Tapi aku perlu jujur sekali ini.

Jarinya berhenti sebentar.

Dadanya berdenyut, tapi tidak seperti dulu. Kali ini bukan cemas karena takut ditinggalkan. Lebih seperti rasa sakit yang muncul ketika seseorang akhirnya mencabut duri yang sudah terlalu lama dibiarkan masuk ke kulit.

Ia lanjut mengetik.

Aku sakit karena selama ini rasanya aku diperlakukan seperti tempat istirahat. Kamu datang waktu butuh ditenangkan, waktu butuh dipahami, waktu hidupmu berat. Tapi ketika kamu sudah cukup kuat untuk memilih, kamu kembali ke masa lalumu.

Ia membaca ulang. Tidak menghapus.

Lalu mengetik lagi:

Aku tahu kamu mungkin tidak bermaksud jahat. Tapi akibatnya tetap sampai ke aku. Aku merasa seperti orang yang disimpan karena kamu tidak enak, bukan karena kamu benar-benar ingin tinggal.

Ia berhenti. Menatap layar.

Kalimat berikutnya terasa paling sulit.

Karena ada kata-kata yang kalau akhirnya diucapkan, tidak bisa lagi ditarik kembali ke tempat aman.

Tapi mungkin memang itu yang ia butuhkan. Bukan tempat aman. Kejujuran.

Jujur, aku merasa sangat direndahkan. Seperti aku ini cuma sesuatu yang bisa kamu pakai untuk menutup sepi, lalu kamu tinggal begitu masa lalumu memanggil lagi. Aku merasa seperti kotoran yang kamu injak pelan-pelan sambil bilang kamu tidak sengaja.

Ia memejamkan mata sebentar setelah mengirim itu.

Kalimatnya keras. Tapi tidak dibuat-buat. Ia memang pernah merasa sekecil itu.

Ponselnya lama tidak berbunyi.

Di luar kamar, ada suara orang berjalan di lorong. Ada pintu dibuka. Ada suara tawa kecil yang langsung menjauh.

Lalu balasan perempuan itu masuk.

aku nggak pernah bermaksud bikin kamu merasa kayak gitu.

Ia menatap kalimat itu tanpa marah sebesar dulu.

Mungkin benar. Mungkin perempuan itu memang tidak pernah bermaksud sejauh itu. Tapi salah satu hal yang akhirnya ia pelajari adalah: luka tidak selalu butuh niat jahat untuk tetap menjadi luka.

Ia membalas:

Aku percaya kamu tidak bermaksud. Tapi aku juga tidak bisa terus memaafkan akibatnya hanya karena niatmu tidak seburuk itu.

Pesan berikutnya datang lebih lambat.

aku cuma bingung waktu itu. aku merasa nggak enak sama kamu. kamu baik banget.

Nah.

Akhirnya kalimat itu muncul juga.

Ia menatap layar dengan dada yang anehnya tidak meledak.

Rasa sakitnya ada. Tapi bentuknya lebih jelas sekarang. Seperti sesuatu yang selama ini kabur akhirnya diberi nama.

Tidak enak. Balas budi. Bingung.

Tiga kata yang cukup untuk menjelaskan kenapa ia selama ini merasa dicintai setengah, dipilih setengah, dan ditinggalkan penuh.

Ia membalas pelan:

Kalau kamu tidak enak, seharusnya kamu jujur. Bukan mengajakku masuk ke hubungan yang dari awal kamu jalani seperti sedang membayar utang.

Ia mengirimnya.

Lalu menambahkan:

Aku tidak butuh dibalas budi. Aku butuh dipilih dengan sadar. Kalau kamu tidak bisa, harusnya kamu bilang dari awal.

Setelah itu tidak ada balasan untuk beberapa menit.

Ia meletakkan ponsel di kasur. Menatap langit-langit.

Ada nyeri yang tetap bekerja di dalam dada, tapi kali ini nyeri itu tidak membuatnya ingin kembali. Justru membuatnya yakin bahwa ia sudah terlalu lama berdiri di tempat yang salah.

Kesepian memang menakutkan. Ia tahu itu.

Kesepian berarti makan sendiri. Jalan sendiri. Bangun tidur tanpa pesan tertentu. Melihat hal lucu tanpa tahu harus mengirimkannya ke siapa. Membawa carrier sendiri. Memesan kamar sendiri. Menunggu penerbangan sendiri.

Tapi kesepian tidak memalsukan perasaan.

Kesepian tidak membuatmu merasa harus bersyukur hanya karena seseorang masih mau tinggal setengah hati. Kesepian tidak memintamu menahan sakit setiap hari lalu menyebutnya sabar. Kesepian tidak menyuruhmu mengecil supaya orang lain tetap nyaman dengan kebimbangannya.

Malam itu ia akhirnya mengerti: sendiri memang sepi, tapi tidak setiap sepi menyakiti.

Yang menyakiti adalah bersama seseorang yang membuatmu meragukan nilai dirimu setiap hari.

Ponselnya menyala lagi.

maaf.

Ia membaca pesan itu.

Untuk pertama kalinya, kata itu tidak membuatnya ingin memperbaiki apa pun.

Dulu, satu maaf bisa membuatnya melunak. Satu maaf bisa membuatnya menunda pergi. Satu maaf bisa membuatnya kembali percaya bahwa mungkin kali ini semuanya akan berubah.

Tapi malam itu maaf terdengar seperti pintu yang sudah terlalu lama dibiarkan rusak. Ia bisa melihat pintu itu. Bisa mengingat bagaimana dulu ia mengetuknya. Bisa mengerti bahwa mungkin di dalam sana juga ada orang yang menyesal.

Namun ia tidak perlu masuk lagi.

Ia mengetik jawaban terakhirnya:

Aku terima maafmu. Tapi aku tidak mau kembali ke hari-hari yang penuh kepalsuan dan sakit hati. Aku lebih memilih sepi yang jujur daripada ditemani dengan cara yang membuatku merasa kurang.

Ia berhenti sebentar.

Lalu menambahkan:

Aku pergi bukan karena benci. Aku pergi karena akhirnya aku sayang pada diriku sendiri dengan cara yang benar.

Ia mengirim pesan itu.

Tanda dibaca muncul beberapa detik kemudian.

Lalu pesan perempuan itu masuk lagi.

maaf. aku baru sadar sekarang.

Beberapa detik setelahnya:

aku tahu aku telat. tapi aku benar-benar minta maaf.

Ia membaca dua pesan itu tanpa bergerak.

Ada bagian kecil di dalam dirinya yang masih bisa mengenali penyesalan perempuan itu. Mungkin kali ini perempuan itu sungguh-sungguh. Mungkin untuk pertama kalinya, ia benar-benar mengerti apa yang sudah ia rusak.

Tapi laki-laki itu sudah capek.

Capek menjelaskan luka yang seharusnya bisa dilihat. Capek menunggu seseorang jujur setelah semuanya terlanjur patah. Capek menjadi orang yang selalu menyediakan ruang untuk penyesalan orang lain.

Jadi ia tidak membalas.

Ia tidak menghapus percakapan itu. Belum.

Tidak semua yang selesai harus dibuang malam itu juga. Beberapa hal cukup dipindahkan ke tempat yang tidak lagi mudah dijangkau.

Ia mematikan notifikasi chat itu. Tidak membuka lagi profil perempuan itu.

Layar ponselnya gelap. Di meja kecil yang sama, paspornya tergeletak dengan sampul sedikit terbuka.

Untuk beberapa detik, ia menatap dua benda itu seperti melihat dua arah yang berbeda. Ponsel itu masih menyimpan masa lalu. Paspor itu menyimpan kemungkinan.

Ia menangis sebentar.

Bukan karena ingin kembali. Bukan karena berharap perempuan itu mengejarnya. Ia menangis karena akhirnya menerima bahwa sesuatu yang ia rawat dengan sungguh-sungguh memang pernah membuatnya sekecil itu.

Tangisnya tidak lama. Hanya cukup untuk membiarkan tubuhnya tahu bahwa ia tidak perlu pura-pura tidak sakit.

Setelah itu ia menaruh ponsel dengan layar menghadap ke bawah, menyalakan lampu tidur, lalu mulai merapikan carrier untuk keberangkatan yang tertunda sehari.

Besok, kalau tidak ada perubahan lagi, ia akan terbang ke Singapura.

Kota yang awalnya tidak ada dalam rencana. Negara yang ia pilih bukan karena ingin terlihat hebat, tapi karena hidupnya mendadak terasa terlalu luas untuk berhenti di satu orang yang tidak tahu cara memilih.

Ia memasukkan paspor ke tas kecil. Melipat baju. Mengecek charger. Menyimpan tiket di aplikasi.

Semua gerakannya pelan. Tapi tidak ragu.

Di luar, Jogja malam itu tetap berjalan. Ada motor lewat. Ada orang tertawa di bawah. Ada suara pintu kamar lain ditutup. Dan di dalam kamar kecil itu, seorang laki-laki yang beberapa hari lalu datang dengan hati berantakan akhirnya bisa duduk tanpa merasa dirinya kurang.

Ia masih sakit hati. Tentu saja.

Tapi sakit hati bukan lagi rumah. Hanya tamu terakhir yang pelan-pelan sedang diminta pergi.

Keinginannya malam itu sederhana. Ia cuma ingin sesudah ini tidak lagi mengizinkan siapa pun menjadikan kebaikannya sebagai tempat singgah, lalu menyebut kepergian mereka sebagai kebingungan.