7 Menit

99 Keinginan #41

Sesudah Jogja, laki-laki itu akhirnya mengerti sesuatu yang sempat ia tolak berbulan-bulan: ia tidak ditinggalkan karena kurang. Ia hanya terlalu lama ditahan di dalam hubungan yang dari awal dijalani perempuan itu karena rasa tidak enak dan balas budi. Dan anehnya, begitu benar-benar mengerti itu, yang datang justru lega.

Pagi sesudah malam terakhirnya di Jogja, laki-laki itu bangun dengan rasa ringan yang lebih utuh.

Bukan ringan yang euforia. Bukan juga ringan yang pura-pura kuat.

Lebih seperti tubuh yang akhirnya berhenti menggigit dirinya sendiri.

Ia duduk di tepi kasur, menatap carrier yang masih terbuka, charger yang melilit seadanya, botol minum yang tinggal setengah, dan sepasang sepatu yang sudah terlalu sering diajak jalan dalam lima hari terakhir.

Bandung sempat lewat lagi di kepalanya. Sebagai kemungkinan. Sebagai kota berikutnya. Sebagai rencana yang terasa cukup masuk akal.

Tapi pagi itu, yang lebih dulu datang justru satu kesadaran yang jauh lebih penting daripada soal tujuan: akhirnya ia paham bahwa selama ini perempuan itu tidak pernah benar-benar tinggal karena cinta yang utuh.

Bukan karena perempuan itu sengaja mau jahat. Bukan juga karena semuanya bohong dari awal. Justru kenyataannya lebih menyedihkan dari itu.

Perempuan itu terlalu lama tinggal karena rasa tidak enak. Karena balas budi. Karena laki-laki ini datang di waktu yang tepat, memperlakukan dia dengan baik, dan membuat hidupnya lebih mudah ditanggung. Lalu semua kebaikan itu pelan-pelan berubah jadi utang batin yang tidak pernah jujur diucapkan.

Yang dijalani laki-laki itu sebagai hubungan, rupanya lebih mirip cara perempuan itu membayar sesuatu yang tidak pernah diminta untuk dibayar.

Ia jadi ingat betapa sering ia yang datang lebih dulu. Ia yang membetulkan banyak hal kecil. Ia yang menjemput, menunggu, mendengar, membantu, dan memahami terlalu banyak. Ia yang menaruh tenang di hubungan itu. Sementara perempuan itu menaruh ragu, rasa kasihan, dan kebimbangan yang terlalu lama didiamkan.

Dan semakin dipikirkan, semakin jelas satu hal yang paling membuat dadanya sesak: bukan cuma karena ia ditinggalkan. Tapi karena semua usahanya sempat diterima sebagai hal yang nyaman, tanpa pernah sungguh-sungguh dibalas dengan kejujuran yang setara.

Padahal laki-laki itu bukan orang yang hidup dari pemberian mudah.

Ia tumbuh bukan dari rumah yang ringan. Ia membiayai banyak bagian hidupnya sendiri. Pernah kerja apa saja yang bisa dikerjakan. Pernah mengantarkan paket, menimbang besi, ikut kerja bangunan, lalu tetap belajar dan berdiri lagi esok harinya seperti semua itu memang bagian biasa dari menjadi dewasa.

Ia bukan lelaki yang terbiasa meminta dunia lunak padanya. Yang ia punya selama ini cuma kemauan untuk terus jalan, dan tangan yang mau dipakai bekerja.

Justru itu yang membuat kesadarannya pagi itu terasa pahit: orang seperti dia, yang mengusahakan banyak hal sendirian, ternyata sempat memberi tempat terlalu besar pada seseorang yang bahkan tidak selesai dengan pilihannya sendiri.

Ia berdiri. Masuk kamar mandi. Membasuh muka lebih lama dari perlu.

Air dingin selalu punya cara membuat kalimat-kalimat besar terdengar lebih jujur.

Waktu kembali ke kamar, ia membuka ponsel. Tanpa sengaja, ia menemukan lagi beberapa chat lama. Pesan-pesan pendek yang dulu ia baca sebagai tanda sayang. Yang sekarang, kalau dilihat dari jarak yang lebih sehat, terasa seperti sesuatu yang lain: usaha seseorang untuk bertahan di hubungan yang sudah sejak awal ia jalani dengan setengah hati. Kalimat-kalimat yang terdengar manis itu mendadak berubah arti. Bukan lagi tanda cinta yang tumbuh. Lebih seperti cara halus untuk menunda kejujuran.

Ia menatap layar cukup lama. Lalu mematikannya.

Kalau mau jujur, ada sedih kecil yang tetap tinggal. Bukan sedih karena masih ingin kembali. Lebih seperti sedih waktu akhirnya menerima bahwa ada bagian dari hidupmu yang ternyata tidak pernah setulus yang kau kira.

Tapi kali ini sedih itu tidak membuatnya hancur. Ia hanya membuat semuanya lebih terang.

Di titik itu, laki-laki itu tahu satu hal dengan sangat jelas: kesepian jauh lebih baik daripada sakit setiap hari.

Sunyi tidak membentak. Sunyi tidak membuatmu menebak-nebak. Sunyi tidak mengharuskanmu mengecil supaya tetap dipilih. Sunyi memang sepi, tapi setidaknya ia jujur.

Dan mungkin setelah terlalu lama hidup di tempat yang membuat dada sesak tiap hari, kejujuran terasa lebih mewah daripada kebersamaan palsu.

Ia turun untuk sarapan. Makan seadanya. Membalas dua pesan kerja. Mengecek saldo. Mengecek catatan.

Semuanya biasa. Justru karena biasa, ia jadi merasa lebih damai.

Tidak ada lagi dorongan untuk membuka profil perempuan itu. Tidak ada lagi kalimat yang ingin dibuktikan. Tidak ada lagi harapan untuk terlihat baik-baik saja di depan orang yang sejak awal lebih sibuk merasa tidak enak daripada benar-benar memilihnya.

Yang tersisa cuma dirinya sendiri. Dan anehnya, itu tidak terasa kurang.

Sesudah membereskan beberapa hal kecil, ia membuka aplikasi perjalanan.

Bandung.

Ia menatap nama kota itu sebentar. Membayangkan udara dingin, jalanan lain, kopi lain, hidup lain yang mungkin juga baik.

Lalu jarinya berhenti.

Entah kenapa, pagi itu Bandung mendadak terasa terlalu dekat. Terlalu mudah ditebak. Terlalu mirip dengan semua rencana yang pernah ia buat waktu hidupnya masih setengah-setengah.

Ia menutup layar pencarian. Membuka lagi. Kali ini tanpa banyak pertimbangan.

Singapura.

Nama kota itu muncul di layar dengan rasa yang berbeda. Bukan karena ia sedang ingin terlihat hebat. Bukan karena ingin kabur lebih jauh supaya lukanya tampak lebih dramatis.

Justru karena untuk pertama kalinya, pilihannya terasa lahir dari rasa ingin hidup, bukan dari rasa ingin lari.

Ia menatap beberapa pilihan tiket. Menghitung cepat. Menggeser tanggal. Berhenti.

Paspornya masih aktif. Tabungannya memang tidak besar, tapi cukup. Kerjaannya masih bisa dibawa. Dan untuk sekali ini, ia tidak ingin lagi menunda sesuatu yang jelas-jelas membuat dadanya hidup.

Ia tertawa kecil.

Bandung batal.

Beberapa menit kemudian, tiket itu masuk ke email.

Singapura.

Cepat. Sedikit nekat. Tapi entah kenapa, terasa pas.

Ia menatap layar cukup lama, memastikan itu bukan keputusan yang dibuat hanya karena emosinya sedang tinggi. Tapi tubuhnya tenang. Dadanya juga.

Berarti kali ini bukan impuls yang salah. Berarti kali ini ia benar-benar sedang memilih.

Penerbangannya malam itu. Jam delapan.

Ia berangkat ke bandara dengan rasa yang aneh: tidak terlalu meledak, tidak juga ragu. Carrier ada di punggung. Paspor aman di tas kecil. Kepalanya cukup tenang untuk pertama kalinya setelah lama.

Bandara malam selalu punya suasana sendiri. Lampu putih yang terlalu terang. Suara roda koper. Anak kecil yang mulai rewel. Orang-orang yang terlihat seperti punya tujuan yang lebih jelas daripada isi kepala mereka.

Ia check-in tanpa masalah. Duduk dekat gate. Membeli air minum dan roti bungkus yang rasanya biasa saja. Sesekali melihat pesawat lewat di balik kaca.

Lalu pengumuman itu datang.

Pertama bilang ada penyesuaian waktu. Lalu bergeser lagi. Lalu akhirnya jelas: penerbangan ditunda dua puluh empat jam oleh pihak maskapai.

Ia membaca layar berkali-kali, seperti berharap angka itu berubah kalau ditatap cukup lama.

Dua puluh empat jam.

Kalau itu terjadi beberapa hari lalu, mungkin ia akan merasa dunia memang sengaja mengerjainya. Tapi malam itu yang keluar dari mulutnya justru tawa pendek yang tidak percaya.

"Gila juga," gumamnya.

Bukan karena ia baik-baik saja. Tetap ada kesal. Tetap ada letih. Tetap ada keinginan untuk memaki sistem yang rasanya selalu punya cara baru menguji kesabaran orang.

Tapi entah kenapa, ia tidak hancur. Mungkin karena sesudah melewati rasa sakit yang lebih rapi dan lebih lama, delay semacam ini cuma terasa seperti hidup yang iseng, bukan tragedi.

Ia pindah kursi. Mencari colokan. Menghubungi pihak penginapan untuk menambah satu malam. Mengecek email kompensasi yang masih setengah jelas. Lalu duduk lagi sambil memandangi orang-orang lain yang sama bingungnya.

Di kursi sebelahnya ada laki-laki sekitar akhir tiga puluhan, kemeja digulung sampai siku, wajah capek tapi masih mau mengobrol. Awalnya cuma komentar soal maskapai. Lalu lanjut ke tujuan masing-masing. Lalu entah bagaimana berubah jadi percakapan yang lebih panjang dari yang direncanakan.

Orang itu bertanya ia kerja apa. Ia jawab seadanya. Website, sistem kecil, kadang bantu revisi, kadang bikin dari nol.

"Oh, programmer ya?" kata laki-laki itu, langsung lebih hidup sedikit. "Adik saya lagi nyari orang buat diajarin basic. Dia pengin masuk ke situ, tapi kalau belajar sendiri suka mentok."

Laki-laki itu mengangguk.

Obrolan mereka lanjut ke hal-hal yang tidak penting tapi menyenangkan: klien yang suka mengubah brief jam sebelas malam, orang-orang yang minta website besok jadi, anak muda yang terlalu cepat pengin hasil, dan kenapa dunia kerja kadang lebih lucu kalau diceritakan ke orang asing.

Satu jam kemudian, laki-laki itu minta nomor kontaknya. Bukan cuma buat adiknya. Ada proyek kecil juga, katanya. Masih belum tentu. Tapi siapa tahu cocok.

Ia menyimpan nomor itu. Tersenyum kecil.

Lucu juga hidup. Di malam ketika penerbangannya ditunda sehari penuh, ia justru dapat percakapan baik dan kemungkinan kerja dari kursi tunggu bandara.

Mungkin memang begitu cara hidup menyeimbangkan sesuatu. Tidak selalu adil. Tapi kadang cukup aneh untuk bikin seseorang bertahan.

Laki-laki itu lalu duduk diam di kursi tunggu bandara, ponsel masih di tangan, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama ia tidak merasa seperti orang yang baru kehilangan sesuatu.

Ia merasa seperti orang yang baru mengambil kembali dirinya sendiri.

Mungkin itu yang paling penting dari semua ini: ia tidak sedang menang atas siapa-siapa. Ia cuma akhirnya berhenti menyerahkan hidupnya pada keputusan orang yang tidak tahu caranya setia pada masa depan.

Perempuan itu memilih masa lalu. Itu haknya. Tapi laki-laki ini akhirnya memilih dunia yang lebih luas.

Dan dunia yang lebih luas, kadang, dimulai dari satu tiket yang tidak pernah masuk ke rencana awal.

Keinginannya hari itu sederhana. Ia cuma ingin sesudah ini hidupnya lebih banyak digerakkan oleh rasa penasaran daripada luka, dan lebih banyak dipenuhi keberanian untuk melangkah daripada kebiasaan menunggu orang yang salah selesai dengan dirinya sendiri.