99 Keinginan #40
Hari kelima di Jogja dimulai dengan semangat yang anehnya terasa ringan. Ia bangun pagi, mandi, lalu sadar perempuan itu sudah tidak lagi ada di daftar orang yang ia ikuti. Aneh, yang datang bukan sedih. Justru lega. Mungkin karena untuk pertama kalinya ia benar-benar merasa: ia tidak kehilangan apa-apa.
Hari kelima di Jogja dimulai dengan tubuh yang lebih ringan.
Bukan karena semua masalahnya selesai. Bukan juga karena ia tiba-tiba bangun sebagai manusia baru.
Ia cuma membuka mata, melihat cahaya pagi masuk tipis dari sela tirai hostel, lalu sadar ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak lagi seberat kemarin.
Ia meraih ponsel. Jam masih pagi. Notifikasi belum terlalu ramai. Kepalanya juga tidak terlalu penuh.
Tanpa niat khusus, ia membuka media sosial. Masuk ke profil perempuan itu. Lalu berhenti sebentar.
Tombol following itu sudah tidak ada.
Perempuan itu sudah unfollow dirinya.
Ia menatap layar beberapa detik lebih lama.
Kalau kejadian itu terjadi seminggu lalu, mungkin dadanya akan langsung sempit. Mungkin ia akan duduk diam cukup lama hanya untuk memikirkan banyak hal yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan lagi. Mungkin ia akan membaca ulang semuanya sebagai tanda yang besar, padahal tidak semua hal harus ditafsirkan.
Tapi pagi itu yang datang justru sesuatu yang lain: lega.
Lega yang sederhana. Lega yang hampir lucu. Seperti tubuhnya sendiri akhirnya sepakat untuk berhenti berjaga.
Ia meletakkan ponsel di kasur. Duduk. Mengusap wajah sekali.
Ternyata begini rasanya waktu satu pintu benar-benar ditutup dari dua arah. Sunyi, iya. Tapi juga bersih.
Ia mandi lebih pagi dari biasanya. Air dingin membuat kepalanya lebih hidup. Sabun hostel yang wanginya terlalu generik pun tidak terlalu masalah hari itu. Ia memilih baju dengan lebih cepat, merapikan carrier sebentar, lalu turun dengan langkah yang tidak lagi terasa diseret-seret.
Rencananya hari itu jelas: ke Prambanan.
Tapi sebelum benar-benar ke sana, ia masih punya rapat singkat dan beberapa pekerjaan yang harus dibereskan. Jadi ia memesan kendaraan ke arah timur, mencari cafe yang cukup tenang untuk membuka laptop sambil menunggu sore, jam yang menurutnya paling enak untuk masuk ke area candi.
Perjalanan ke arah Prambanan terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya. Jalanan tidak terlalu padat. Langit pucat. Ada awan yang sepertinya sedang menahan hujan tipis.
Driver-nya banyak bercerita. Tentang wisatawan yang sekarang makin suka berangkat pagi. Tentang jalan tikus yang lebih cepat. Tentang warung soto yang menurutnya paling jujur di daerah situ.
Ia mengangguk sambil sesekali melihat ke luar. Sesekali menanggapi. Sesekali tertawa kecil waktu driver itu mencela maps dengan terlalu serius.
Sampai di cafe, ia membayar sambil membulatkan ongkos tanpa banyak hitung-hitungan kecil. Mengucapkan terima kasih dua kali, sekali waktu turun, sekali lagi ketika driver itu pamit sambil bilang, "semoga harinya enak, Mas."
Semua tampak biasa. Sawah. Motor. Toko bangunan. Spanduk kos. Masjid. Orang-orang yang memulai hari tanpa tahu bahwa laki-laki asing di kursi belakang itu sedang pelan-pelan merasa hidupnya balik ke tangan sendiri.
Cafe yang ia pilih tidak terlalu besar. Bangunannya sederhana, banyak jendela, meja kayunya ringan, dan dari salah satu sisi luar, kalau langit cukup baik, ujung Prambanan bisa terlihat dari jauh seperti potongan bentuk yang sengaja disimpan di horizon.
Ia duduk dekat colokan. Memesan kopi dan roti bakar yang terlalu manis. Membuka laptop. Masuk ke rapat. Menjawab beberapa hal yang tertunda. Mengirim revisi. Membalas pesan klien dengan nada yang lebih manusia daripada kemarin-kemarin. Dan sebelum rapat ditutup, ia tetap minta maaf soal keterlambatan file yang sempat molor, lalu mengirim ringkasan hasil meeting lebih cepat dari yang dijanjikan.
Hari itu tidak ada yang mewah. Tapi semuanya berjalan cukup baik untuk membuatnya ingin tersenyum tanpa alasan besar.
Di sela kerja, ia sempat membuka ponselnya lagi. Bukan untuk melihat profil siapa-siapa. Hanya kebiasaan kecil.
Lalu ia sadar sesuatu yang membuat bahunya turun pelan.
Ia memang tidak rugi. Ia tidak kehilangan apa-apa.
Yang pergi darinya bukan rumah. Bukan arah. Bukan harga dirinya. Bukan kemampuannya untuk menyayangi dengan sungguh-sungguh.
Yang pergi hanya seseorang yang tidak sanggup melihat nilai dari semua itu.
Ia tidak lahir dari keluarga yang serba siap. Tidak tumbuh di rumah yang tenang. Tidak punya warisan yang bisa membuat hidupnya otomatis ringan.
Kalau hari ini ia bisa duduk di cafe dekat Prambanan, membuka laptopnya sendiri, membayar kopinya sendiri, dan menyusun hidupnya tanpa menunggu siapa-siapa datang menolong, itu karena ia pelan-pelan membangunnya dengan kakinya sendiri.
Ia pernah mencicipi banyak pekerjaan kecil sebelum sampai di hidup yang sekarang. Pernah ikut jadi kuli bangunan walau cuma seminggu, cukup lama untuk tahu panas semen di punggung tangan dan bagaimana tubuh bisa pegal sampai ke tulang. Pernah menimbang besi sehari penuh hanya supaya ada uang tambahan untuk beli baju Lebaran. Pernah jadi kurir paket untuk olshop, mondar-mandir mengantar pesanan sambil berharap hujan jangan turun dulu sebelum semua alamat selesai.
Ia tidak selalu berhasil besar. Tapi ia tidak pernah pelit berusaha.
Bukan hidup yang mewah. Tapi hidup yang ia usahakan sendiri. Dan ada martabat yang tidak kecil di sana.
Mungkin itu juga sebabnya, di beberapa malam tertentu, ia sempat mengira semua yang sedang ia alami adalah bentuk karma.
Sebelum perempuan yang ini, pernah ada satu perempuan lain yang tidak sempat benar-benar pergi dengan cara biasa. Mereka tidak putus. Hidup saja yang lebih dulu mengambilnya.
Di hari-hari terakhir hidupnya, perempuan itu sempat mencari laki-laki ini. Sempat ingin bertemu. Sempat ingin ada dirinya di sana.
Tapi ia tidak datang.
Bukan karena tidak peduli. Bukan karena cintanya kurang. Justru karena ia terlalu takut. Terlalu tidak tega melihat orang yang ia cintai terbaring lemah dan pelan-pelan menjauh dari dunia.
Rasa bersalah itu tidak benar-benar hilang. Kadang datang lagi begitu saja, lalu duduk di satu sudut kepala seperti orang lama yang tidak pernah benar-benar pamit.
Dan waktu hubungan yang terakhir ini hancur, ia sempat berpikir: mungkin ini balasannya. Mungkin ini caranya hidup membuatnya merasakan ditinggalkan dari sisi yang lain.
Tapi pagi itu, di cafe dekat Prambanan, pikiran itu tidak lagi terdengar sekuat dulu. Ia tahu ia punya salah yang belum selesai ia maafkan pada dirinya sendiri. Tapi ia juga tahu tidak semua luka harus dibaca sebagai hukuman.
Kalau dipikir-pikir, justru perempuan itu yang kehilangan kesempatan besar. Ia memilih kembali ke masa lalu yang dulu juga sempat melukainya. Memilih sesuatu yang akrab meski tidak sehat. Memilih cerita lama daripada kemungkinan masa depan yang belum sempat dibuka.
Kalau itu bukan bentuk mundur, ia tidak tahu harus menyebutnya apa.
Ia menatap gelas kopinya yang tinggal setengah. Lalu tertawa kecil, sendirian.
Bukan tawa marah. Bukan tawa ingin menang. Lebih seperti tawa seseorang yang akhirnya melihat semuanya dari jarak yang cukup.
Ternyata bukan dirinya yang kalah. Ia cuma sempat salah memberi tempat pada orang yang tidak tahu bagaimana caranya tinggal. Orang yang tidak tahu bahwa laki-laki sederhana yang berdiri tanpa banyak sandaran kadang jauh lebih layak dipilih daripada masa lalu yang hanya pandai memanggil, tapi tidak pernah benar-benar berubah.
Dan yang paling menenangkan, ia tidak perlu menjatuhkan siapa-siapa untuk sampai pada kesimpulan itu. Ia tidak perlu menyebut perempuan itu jahat supaya dirinya terlihat pantas. Nilainya tidak bertambah dari menghina orang lain. Ia cukup tahu siapa dirinya, lalu lanjut berjalan.
Menjelang sore, langit mulai berubah.
Hujan tipis turun waktu ia akhirnya berangkat masuk ke area Prambanan. Tidak deras. Cuma rapat kecil yang membuat batu-batu terlihat lebih gelap dan udara terasa lebih enak.
Dari jauh, siluet candi-candi itu tampak seperti sesuatu yang tetap tenang walau cuaca berubah. Ia berdiri sebentar di satu titik, membiarkan gerimis menempel di lengan.
Entah kenapa, melihat Prambanan dari kejauhan dalam hujan tipis membuatnya ingin tertawa lagi.
Ia membayangkan, kalau perempuan itu melihat dirinya sekarang, mungkin ia akan bingung. Selama ini ia mungkin mengira laki-laki yang ditinggalkan akan tetap diam di tempat yang sama, sibuk merapikan luka, sibuk menebak-nebak, sibuk menunggu.
Padahal ternyata tidak.
Ia bisa sampai sejauh ini. Bisa berdiri di depan candi dalam cuaca yang nyaris romantis, dengan sepatu agak basah, rambut sedikit kena gerimis, dan hati yang tidak lagi sibuk memohon dipilih.
Ia berjalan pelan di antara batu, rumput, turis, pasangan yang saling memotret, rombongan keluarga, dan anak kecil yang berlari sambil diteriaki ibunya karena hampir terpeleset.
Ada suara payung dibuka. Ada orang tertawa. Ada guide yang bicara cepat. Ada bunyi langkah di jalan batu yang basah.
Di satu tikungan kecil, seorang bapak sibuk memotret istrinya dengan hasil yang entah bagaimana selalu memotong kepala. Laki-laki itu sempat menawarkan bantuan. Memotret dua tiga kali sampai si ibu puas. Mereka berdua mengucapkan terima kasih seperti itu hal besar. Padahal buatnya cuma beberapa detik kecil yang enak dilakukan.
Semua itu terasa hidup. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa hidup itu tidak sedang mengejeknya.
Ia duduk sebentar di satu sisi yang tidak terlalu ramai. Menatap bangunan tinggi itu lebih lama.
Manusia membangun sesuatu sebesar ini dari cinta, kuasa, keyakinan, tenaga, dan waktu. Lalu berabad-abad kemudian, orang-orang datang, memotret, pulang, dan hidup mereka lanjut lagi.
Di hadapan sesuatu yang sudah berdiri selama itu, masalahnya terasa kecil dengan cara yang melegakan.
Bukan berarti tidak penting. Hanya tidak perlu dibawa seolah seluruh hidup harus ikut runtuh karenanya.
Ia menunduk sebentar, merapikan tali jam tangan, lalu menghela napas panjang.
Mungkin beginilah bentuk pulih yang lebih jujur. Bukan melupakan. Bukan menangis lebih sedikit.
Tapi akhirnya bisa berkata tanpa pahit: aku tidak rugi.
Malam belum datang waktu ia keluar dari area candi. Gerimis masih ada sisa. Lampu-lampu mulai menyala pelan. Dan udara setelah hujan membuat semuanya terasa sedikit lebih bersih.
Ia berdiri di luar cukup lama untuk menatap ke belakang sekali lagi.
Tidak jauh dari pintu keluar, ada penjual minuman hangat dengan termos besar dan meja kecil yang kakinya sedikit goyang. Ia membeli teh panas. Gelas kertasnya tipis. Panasnya terasa sampai ke jari.
Lalu ia duduk di bangku semen yang menghadap agak serong ke arah jalan, cukup jauh dari keramaian pintu masuk, cukup dekat untuk masih bisa melihat siluet candi di belakang pagar.
Motor lalu-lalang. Beberapa orang masih datang terlambat dan berjalan lebih cepat dari yang perlu. Seorang anak kecil merengek minta jas hujan warna biru. Sepasang wisatawan bingung mencari titik jemput. Dan di sela semua itu, uap tipis dari tehnya naik pelan ke udara yang mulai dingin.
Ia minum sedikit demi sedikit. Tidak buru-buru. Tidak membuka ponsel. Tidak merasa perlu mengabari siapa pun bahwa hari ini ternyata berjalan cukup baik.
Itu mungkin bagian yang paling menenangkan. Hari yang bagus tidak selalu harus dibagikan supaya terasa nyata. Kadang cukup dinikmati sendiri sampai habis, seperti teh hangat di luar Prambanan sesudah hujan.
Tapi malam itu ia belum ingin langsung kembali ke tempat menginap.
Ada dorongan kecil yang datang tanpa banyak alasan: sekali lagi ke utara. Sekali lagi ke Kaliurang.
Mungkin karena sejak hari pertama, Jogja sudah memberinya banyak bentuk yang berbeda. Panas. Manis. Ramai. Basah. Dan ia ingin malam terakhirnya ditutup oleh udara yang lebih dingin.
Ia memesan kendaraan lagi. Jalanan malam terasa lebih lengang. Lampu-lampu kota makin jarang. Angin dari jalan menabrak wajahnya dengan suhu yang pelan-pelan turun.
Tidak ada rencana besar di sana. Ia cuma ingin lewat. Melihat jalan yang menanjak. Mencium bau tanah dan daun yang lebih kuat daripada asap kendaraan. Membiarkan Jogja menutup dirinya dengan cara yang tenang.
Sesampainya di Kaliurang, ia tidak melakukan apa-apa yang istimewa. Hanya berdiri sebentar di dekat warung yang masih buka, memesan minuman hangat lagi, lalu melihat jalan gelap yang sesekali disapu lampu motor lewat.
Ada beberapa anak muda tertawa terlalu keras. Ada penjual jagung yang kipas arangnya masih menyala merah. Ada kabut tipis yang tidak benar-benar turun, tapi cukup untuk membuat malam terasa punya kulit yang berbeda.
Di sana, tanpa musik besar, tanpa kalimat puitis yang memaksa, ia akhirnya mantap pada satu pikiran: sesudah ini, ia akan lanjut ke Bandung.
Bukan malam ini. Bukan dengan terburu-buru. Tapi cukup pasti untuk membuat dadanya terasa lebih rapi.
Jogja tidak menyembuhkan semuanya. Tapi kota ini sudah cukup baik untuk mengembalikan langkahnya. Dan mungkin itu sudah lebih dari cukup.
Hari kelima ini tidak memberinya jawaban besar. Tidak juga memberi pertanda ajaib.
Tapi ia menutup hari itu dengan satu hal yang terasa lebih berharga daripada jawaban: ringan.
Ringan karena ternyata melepaskan bukan selalu tentang menyerah. Kadang itu cuma caranya hidup mengembalikan beban ke pemiliknya yang semula.
Keinginannya hari itu sederhana. Ia cuma ingin sesudah ini tidak lagi salah mengira kehilangan sebagai kerugian, dan tidak lagi mengecilkan dirinya sendiri hanya karena seseorang memilih kembali ke tempat yang jelas-jelas lebih sempit dari apa yang sebenarnya bisa ia dapatkan.