7 Menit

99 Keinginan #39

Hari keempat di Jogja dimulai kacau. Ia bangun kesiangan, terlambat meeting dengan klien, lalu gagal berangkat ke pantai selatan sesuai rencana. Tapi justru dari hari yang berantakan itu, ia menemukan Ullen Sentalu, hujan di Kaliurang, teh hangat, dan satu pikiran kecil bahwa mungkin sakit hatinya tidak sebesar dunia.

Hari keempat di Jogja dimulai dengan kalimat yang paling tidak cocok untuk orang yang sedang berusaha romantis pada hidupnya sendiri:

Mas, meeting-nya udah mulai.

Laki-laki itu membaca pesan itu dalam keadaan setengah duduk, rambut berantakan, tenggorokan masih agak tidak enak, dan mata yang belum sepenuhnya sepakat untuk terbuka.

Jam di ponsel menunjukkan angka yang membuat perutnya langsung turun.

Ia kesiangan.

Bukan kesiangan manis seperti liburan yang bebas dari jadwal. Ini kesiangan yang membuat telapak tangan dingin, charger laptop dicabut sembarangan, dan satu kaki hampir tersangkut tali carrier waktu ia buru-buru turun dari kasur.

Meeting dengan klien sudah berjalan tujuh menit.

Ia membuka laptop. Wifi hostel lambat. Kamera menyala terlalu dekat ke wajah. Rambutnya masih kacau. Dan ketika ia masuk ruang meeting, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah:

"Maaf, tadi ada kendala teknis."

Kendala teknis itu tentu saja dirinya sendiri.

Klien tidak marah besar. Tapi cukup diam untuk membuatnya paham bahwa keterlambatan tujuh menit bisa terasa jauh lebih panjang kalau semua orang sudah menunggu di layar.

Meeting itu selesai dengan selamat, meski tidak anggun. Ia menutup laptop, menatap langit-langit kamar hostel, lalu tertawa kecil.

Kadang hidup tidak memberi pesan moral. Kadang hidup cuma menamparmu pakai alarm yang gagal bunyi.

Rencananya hari itu sebenarnya jelas: berangkat lebih pagi ke area pantai kidul. Main jauh. Melihat laut. Membiarkan angin selatan membereskan sisa-sisa yang belum selesai di dalam dada.

Tapi setelah meeting molor, mandi yang terburu-buru, perut yang belum diisi, dan tubuh yang masih sedikit sakit, rencana itu mulai terlihat tidak realistis.

Ia menatap maps. Menatap jam. Menatap dirinya sendiri di cermin kecil hostel.

"Enggak akan keburu," gumamnya.

Ada kecewa kecil, tentu. Tapi kali ini ia tidak ingin memaksa semuanya hanya demi membuktikan ia sanggup. Mungkin salah satu hal yang mulai ia pelajari dari empat hari ini adalah: tidak semua rencana yang gagal harus diperlakukan seperti kekalahan.

Jadi ia mengganti tujuan.

Pantai kidul batal. Kaliurang lagi. Ullen Sentalu.

Ia memesan ojek. Masih agak lemas. Masih sedikit kesal pada diri sendiri. Tapi saat motor mulai naik ke arah utara, udara pelan-pelan berubah. Pusat kota tertinggal di belakang. Jalanan mulai terasa lebih hijau. Dan hawa dingin yang datang dari arah gunung membuat badannya yang kurang fit justru merasa lebih bisa bernapas.

Di Ullen Sentalu, ia masuk dengan langkah yang lebih pelan dari biasanya.

Tempat itu tidak menyambutnya dengan suara besar. Lebih seperti seseorang yang membukakan pintu dan berkata: masuk saja dulu, jangan banyak ribut.

Ia menyukai itu.

Ruang-ruangnya terasa tenang. Ada sejarah keluarga. Ada kisah kerajaan. Ada nama-nama yang dulu cuma ia kenal sebagai bagian dari pelajaran sekolah, tapi di sana terasa lebih dekat karena ditaruh bersama benda, foto, kain, dan cerita manusia.

Ia mendengarkan pemandu. Tidak menangkap semuanya. Tapi cukup untuk merasa kecil dengan cara yang tidak menyedihkan.

Di kepalanya, waktu mendadak memanjang. Manusia berjalan jauh sekali sebelum sampai ke hari ini. Dari nenek moyang, dari kisah-kisah tua, dari kerajaan, dari masa kolonial, dari kemerdekaan, sampai kota yang sekarang penuh ojek online, bug website, dan orang-orang yang patah hati sambil membawa carrier.

Ia hampir tertawa sendiri memikirkan itu.

Dalam ribuan tahun perjalanan manusia, kenapa ia merasa begitu kerdil hanya karena satu orang memilih kembali ke masa lalunya?

Pertanyaan itu tidak langsung menyembuhkan. Tapi membuat lukanya mengecil sedikit. Seperti ada orang yang memindahkan masalah itu dari depan wajahnya ke salah satu sudut ruangan. Masih ada. Tapi tidak lagi menutupi semuanya.

Setelah keluar dari bagian museum, hujan turun.

Bukan hujan yang membuat orang panik. Lebih seperti hujan Kaliurang yang tahu cara membuat segala sesuatu tampak lebih pelan.

Ia berjalan ke area cafe baru yang terbuka di atas taman. Dari sana, pandangan langsung mengarah ke lanskap hijau dan arah Gunung Merapi yang sebagian tertutup kabut.

Bangunannya memakai banyak kayu. Warnanya hijau sage yang lembut. Di tengah taman, bentuknya terasa seperti tempat yang tidak sedang berusaha keras untuk cantik, dan justru karena itu tampak sangat indah.

Melihat warna itu, pikirannya tiba-tiba pergi ke rumahnya sendiri. Rumah yang belum sepenuhnya ia isi. Rumah yang selama ini lebih sering ia tinggalkan daripada tempati.

Cat rumahku disamakan begini saja, ya. Lebih tenang.

Pikiran itu datang begitu saja. Hampir hangat.

Lalu disusul pikiran lain:

Mungkin perlu tanaman lagi. Banyak tanaman. Biar tidak terlalu kosong.

Ia sempat tersenyum kecil. Membayangkan satu sudut rumah dengan warna yang lebih teduh, rak kayu, pot-pot kecil, dan cahaya sore yang tidak terlalu keras.

Tapi senyum itu tidak bertahan lama.

Sebab setelah bayangan rumah itu muncul, ada kesedihan yang ikut datang pelan: ia bahkan belum tahu alasan untuk pulang itu apa.

Rumah ada. Kunci ada. Pintu bisa dibuka kapan saja. Tapi siapa yang akan ikut berdiri di sana dan berkata, "yang ini bagus," atau "tanamannya jangan kebanyakan," atau "raknya mending di sebelah sini"?

Ia tahu rumah bisa dibangun sendirian. Bisa dicat sendirian. Bisa diisi pelan-pelan dengan uang dan waktu sendiri. Tapi beberapa pilihan kecil tetap terasa lebih manusia kalau ada orang lain yang ikut menaruh pendapatnya di sana.

Dan di tengah cafe hijau sage yang indah itu, ia tiba-tiba sedih karena pulang bukan cuma soal alamat. Pulang juga soal ada seseorang yang membuat tempat itu terasa layak dituju.

Lampunya hangat. Kursinya nyaman. Udara basah masuk dari sisi yang terbuka. Dan hujan membuat semuanya seperti diberi lapisan tipis yang menenangkan.

Ia memesan teh hangat. Membuka buku yang ia bawa sejak hari pertama tapi belum sempat benar-benar dibaca. Memasang lagu kesukaannya pelan-pelan dari earphone.

Untuk beberapa menit, tidak ada yang perlu ia kejar. Tidak ada pantai yang gagal. Tidak ada klien yang menunggu. Tidak ada chat dingin yang harus dipahami ulang.

Hanya teh hangat. Buku. Hujan. Kayu. Hijau sage. Dan Merapi yang setengah malu di balik kabut.

Ia duduk lama sekali di sana.

Kadang membaca dua halaman. Kadang berhenti dan menatap hujan. Kadang hanya memegang cangkir dengan dua tangan karena panasnya enak di telapak.

Di saat seperti itu, solo traveling tidak terasa gagah. Tidak terasa seperti keputusan besar yang perlu dibanggakan. Ia hanya terasa seperti ini: seseorang yang duduk sendirian, akhirnya tidak merasa harus menjelaskan kesendiriannya kepada siapa-siapa.

Sore agak turun ketika ia kembali ke pusat kota.

Masih ada pekerjaan yang harus dilanjutkan. Tentu saja. Hidup tidak pernah benar-benar memberi cuti penuh dari tanggung jawab, bahkan ketika seseorang sedang belajar pulih.

Ia masuk ke sebuah cafe, memilih tempat dekat dinding, membuka laptop, lalu menyelesaikan beberapa hal yang tertunda sejak pagi.

Badannya masih agak lelah. Tapi pikirannya lebih terang. Rencana pantai memang gagal. Namun hari itu tidak terasa gagal. Justru ada bagian dari dirinya yang merasa, beberapa improvisasi memang hanya bisa ditemukan setelah rencana pertama runtuh.

Di tengah jeda kerja, ia membuka ponsel dan tanpa sadar scrolling sebentar. Satu kalimat lewat di layar:

Kapan sesuatu terlihat indah dan istimewa?

Ia berhenti. Membaca lanjutannya.

Saat belum dimiliki.

Lalu kalimat berikutnya:

Kapan sesuatu terasa sangat berharga?

Saat sudah tiada.

Ia meletakkan ponsel pelan di meja.

Kalimat itu terlalu sederhana untuk pura-pura tidak kena.

Dulu, mungkin ia juga begitu. Terlalu sibuk mengejar seseorang waktu orang itu belum benar-benar jadi miliknya. Terlalu sibuk mempertahankan sesuatu karena takut kehilangannya. Lalu ketika semuanya selesai, barulah ia melihat bagian-bagian kecil yang dulu membuatnya bertahan.

Video pendek itu belum selesai. Ia hampir menutupnya, tapi potongan suara berikutnya membuat jarinya berhenti.

Kalau lu belum ngerasa bego, berarti lu belum jatuh cinta.

Ia tertawa kecil. Bukan karena lucu sepenuhnya. Lebih karena kalimat itu terasa terlalu jujur untuk ditolak.

Ia pernah merasa pintar waktu memutuskan bertahan. Merasa dewasa karena mau memahami. Merasa kuat karena tidak cepat pergi. Padahal mungkin di beberapa titik, ia hanya sedang menjadi bodoh dengan cara yang sangat manusiawi.

Video itu lanjut lagi.

Lepas dari hubungan toxic itu sangat-sangat susah. Kayak lu mencoba lepas dari ketergantungan rokok dan narkotika.

Kali ini ia tidak tertawa. Ia hanya menatap gelas di meja. Es di dalamnya sudah hampir habis.

Ada hubungan yang buruknya jelas, tapi tetap susah dilepas karena tubuh terlanjur hafal polanya. Tahu sakitnya. Tahu cemasnya. Tahu cara menunggunya. Tapi tetap kembali karena yang akrab sering terasa lebih mudah daripada yang sehat.

Lalu muncul potongan lain:

Lu enggak akan pernah ketemu solusi dari satu masalah kalau mengidentifikasi masalahnya aja lu sudah gagal.

Ia menurunkan volume sedikit. Kalimat itu masuk pelan-pelan.

Mungkin selama ini ia juga salah menamai masalah. Ia kira masalahnya adalah perempuan itu tidak cukup yakin. Ia kira masalahnya adalah waktu yang tidak tepat. Ia kira masalahnya adalah dirinya yang belum cukup sabar.

Padahal masalah paling sederhananya mungkin begini: ia sedang memperjuangkan orang yang masih ingin pulang ke tempat lain.

Ia hampir mengunci layar, tapi video itu masih menyisakan beberapa kalimat.

Cinta sendiri bukan sekadar kegagalan personal, melainkan fenomena struktural dalam relasi manusia.

Kalimat itu terdengar terlalu rapi untuk sore yang berantakan. Ia bahkan sempat membaca ulang subtitle-nya karena merasa otaknya belum sepenuhnya siap menerima istilah yang terlalu serius.

Tapi setelah beberapa detik, ia mengerti bagian sederhananya.

Mungkin yang membuat orang bertahan tidak selalu cuma perasaan. Kadang ada kebiasaan. Ada rasa utang budi. Ada takut memulai dari nol. Ada rasa rendah diri yang diam-diam membuat seseorang merasa harus bersyukur hanya karena masih dipilih. Ada banyak hal di luar cinta yang ikut membuat orang susah pergi.

Lalu suara itu berlanjut:

Ketika cinta lahir dari kelimpahan diri, dia membebaskan. Tapi ketika cinta lahir dari ketakutan dan ketimpangan, dia mengikat.

Ia diam.

Untuk pertama kalinya, ia bisa membedakan sesuatu yang dulu selalu ia campur aduk. Cinta yang sehat tidak membuat seseorang terus berjaga-jaga. Tidak membuat seseorang merasa harus mengecil supaya tetap diterima. Tidak membuat seseorang takut ditinggalkan setiap kali lawannya membaca pesan terlalu lama.

Yang dulu ia sebut cinta mungkin memang punya sayang di dalamnya. Tapi terlalu banyak takut yang ikut tinggal di sana.

Potongan terakhir muncul ketika ia sudah benar-benar ingin kembali ke laptop:

Banyak orang tidak berhenti bukan karena dia cinta, tapi karena dia takut.

Kalimat itu membuatnya menunduk sebentar.

Ia tidak langsung merasa kuat. Tidak langsung merasa bijak. Ia cuma akhirnya bisa mengakui satu hal tanpa membenci dirinya sendiri: sebagian dari bertahannya dulu bukan karena cinta sebesar itu, tapi karena ia takut kalau berhenti, hidupnya akan terasa kosong.

Dan sebelum ia benar-benar mengunci layar, ada kalimat yang membuatnya diam lebih lama:

Tidak ada badai yang tidak usai. Cepat atau lambat, tiap luka akan pulih dan mengering. Mungkin meninggalkan bekas, tapi tidak lagi menyakitkan.

Ia menghela napas. Untuk pertama kalinya hari itu, kalimat motivasi tidak terdengar terlalu menyebalkan. Mungkin karena ia tidak sedang memaksa dirinya langsung sembuh. Ia cuma sedang duduk di cafe, menyelesaikan kerjaan, dan membiarkan satu hari yang gagal ke pantai berubah jadi hari yang masih bisa disukai.

Tapi kali ini ia tidak ingin tenggelam terlalu lama. Ia sudah punya teh hangat hari ini. Sudah punya hujan di Ullen Sentalu. Sudah punya museum yang membuat lukanya terlihat kecil. Sudah punya pekerjaan yang akhirnya selesai meski paginya berantakan.

Jadi ia kembali ke laptop. Menyelesaikan tugas. Menutup file. Mengirim laporan singkat. Lalu duduk diam sebentar, menikmati rasa lega yang sederhana.

Malamnya, ia tidak langsung kembali ke kamar.

Sebelum benar-benar pulang ke hostel, ia mampir ke rooftop hotel kecil tidak jauh dari Malioboro. Tempatnya tidak terlalu mewah. Lampunya hangat. Mejanya tidak banyak. Tapi dari atas sana, ia bisa melihat night city view Jogja dengan cara yang lebih lapang: lampu kendaraan bergerak pelan, Malioboro yang tidak pernah benar-benar diam, atap-atap bangunan yang gelap, dan garis kota yang terasa lebih lembut dari siang hari.

Ia duduk di pinggir, memesan minuman hangat, lalu membiarkan angin malam menyentuh wajahnya.

Di bawah sana, orang-orang masih berjalan. Ada yang pulang. Ada yang baru mulai keluar. Ada yang tertawa sambil menyeberang. Ada yang berhenti di trotoar, membuka maps, lalu menunjuk arah dengan percaya diri yang mungkin belum tentu benar.

Ia suka melihat semuanya dari atas. Bukan karena merasa lebih jauh dari hidup. Justru karena dari tempat setinggi itu, hidup terlihat lebih utuh. Kacau, kecil, bergerak, dan tetap menyala.

Untuk beberapa menit, ia tidak memikirkan chat yang belum dibalas. Tidak memikirkan tiket pulang yang belum dibeli. Tidak memikirkan apakah Bandung benar-benar akan jadi tujuan berikutnya.

Ia hanya duduk di rooftop itu, melihat Jogja malam-malam, dan merasa hari yang dimulai dengan telat meeting ternyata bisa berakhir dengan pemandangan yang cukup baik.

Saat kembali ke kamar, carrier-nya masih terbuka. Tiket pulang masih belum ada. Dan anehnya, itu tidak lagi terdengar seperti masalah.

Ia membuka notes. Di bawah catatan hari-hari sebelumnya, ia menulis:

hari keempat: rencana gagal, tapi hidup tetap punya cara lain untuk jadi indah.

Lalu, entah dari mana, satu pikiran kecil lewat:

Bandung.

Bukan sekarang. Bukan besok. Mungkin sebulan lagi.

Ia membayangkan udara yang lebih dingin. Jalanan yang berbeda. Cafe lain. Kota lain yang belum tahu apa-apa tentang pengkhianatan itu.

Ia belum membeli tiket. Belum membuka aplikasi. Belum membuat rencana.

Tapi untuk pertama kalinya, pikiran tentang pergi lagi tidak terasa seperti kabur. Lebih seperti undangan kecil dari hidup yang ternyata belum selesai memberinya tempat-tempat baru.

Keinginannya sederhana. Ia cuma ingin mulai percaya bahwa rencana yang gagal tidak selalu berarti hari yang rusak, dan seseorang yang pergi tidak selalu berarti hidup harus berhenti di tempat yang sama.