99 Keinginan #38
Hari ketiga di Jogja datang dengan sesuatu yang tidak ia duga: senyum yang tidak lagi terasa dipaksakan. Luka itu belum benar-benar hilang, tapi kota ini pelan-pelan membuatnya lebih penasaran pada hidup daripada pada orang yang pergi.
Hari ketiga di Jogja, laki-laki itu bangun dengan satu hal yang belum sempat ia rasakan dua hari sebelumnya: senyum yang tidak palsu.
Bukan senyum lebar. Bukan juga senyum bahagia besar. Hanya satu tarikan kecil di sudut bibir waktu ia membuka mata dan menyadari kamar hostel itu tidak lagi terasa seperti tempat bersembunyi.
Carrier-nya masih di sudut. Kaos yang ia cuci semalam sudah setengah kering. Dan ponselnya masih menyimpan tiket satu arah yang belum ia sentuh lagi.
Ia meregangkan badan pelan. Punggungnya masih pegal. Lututnya sedikit berat. Tenggorokannya juga agak perih. Hidungnya sedikit mampet. Tubuhnya seperti sedang memberi tahu bahwa tiga hari berjalan dan kehujanan tidak selalu bisa dibayar hanya dengan tidur semalam.
Tapi untuk pertama kalinya sejak datang ke Jogja, tubuhnya tidak bangun sambil langsung mengingat siapa yang meninggalkannya.
Ia justru lebih dulu ingat satu hal kecil: hari ini ia bebas ke mana saja.
Di ruang bersama hostel, ada dua backpacker asing sedang makan mi instan sambil baca peta. Di kulkas kecil dekat dispenser, seseorang menempel stiker yang warnanya mulai pudar:
risk it all for the plot
Laki-laki itu berdiri cukup lama di depan kalimat itu. Lalu tertawa kecil.
Konyol juga, pikirnya. Tapi mungkin benar. Sebagian orang pergi liburan karena sudah punya rencana yang rapi. Sebagian lain pergi karena hidupnya baru berantakan dan ia butuh cerita baru sebelum tenggelam terlalu jauh di cerita lama.
Pagi itu ia memilih jadi yang kedua.
Paginya ia mampir dulu ke cafe kecil dekat Malioboro karena butuh kopi dan colokan. Cafe itu sudah ramai bahkan sebelum jam sepuluh. Ada orang yang rapat daring dengan suara terlalu yakin. Ada dua mahasiswa rebutan charger. Ada barista yang bergerak cepat seperti baru bertengkar dengan waktu.
Ia duduk di meja kecil yang nyaris terlalu sempit untuk laptop dan gelasnya. Memesan kopi panas, berharap tenggorokannya membaik. Tapi pagi itu segala sesuatu terasa sedikit hectic. Wifi sempat putus. Salah satu file yang ia butuhkan tidak langsung terbuka. Dan rencana ke Suroloka Zoo yang dari semalam sudah ia susun di kepala akhirnya mundur satu jam, lalu hampir dua.
Belum selesai sampai di situ, ponselnya bergetar berkali-kali. Nomor kantor. Lalu nomor developer freelance yang sempat ia ajak bantu. Lalu nomor kantor lagi.
Ia mengangkat panggilan ketiga dengan suara yang masih serak.
"Mas, homepage-nya kenapa ya? Tombolnya enggak bisa diklik."
Laki-laki itu menutup mata sebentar. "Yang mana?"
"Yang kemarin."
"Kemarin banyak."
Di seberang sana hening dua detik. "Yang... pokoknya yang atas."
Ia menahan tawa capek. Ada jenis masalah kerja yang memang lahir dengan niat menguji tekanan darah orang lain.
Laptop dibuka lagi. Bug-nya ternyata sepele. Satu style bentrok. Satu class nyasar. Satu masalah kecil yang seperti biasa terdengar darurat hanya karena semua orang baru panik setelah tombolnya mati.
Ia membetulkannya sambil menyeruput kopi yang mulai tidak terlalu panas. Lalu ponselnya bergetar lagi.
"Mas, udah bisa. Maaf ya."
"Iya."
"Mas lagi libur?"
Ia melihat kaca luar cafe yang masih sibuk, lalu menjawab datar, "Sekarang lagi pura-pura santai."
Orang di seberang sana tertawa canggung. Ia ikut tersenyum. Sedikit.
Biasanya penundaan kecil seperti itu cukup untuk membuatnya kesal. Tapi pagi itu ia justru menatap stiker di kulkas kecil dekat dispenser sekali lagi.
risk it all for the plot
Ia tertawa kecil. Kalimat itu terdengar bodoh, tapi lumayan berguna. Mungkin sebagian perjalanan memang jadi menarik justru karena ada hal-hal yang meleset dari rencana.
Jadi ia berhenti mengeluh dalam hati. Menutup laptop. Menghabiskan kopi. Lalu memesan ojek ke arah Kaliurang.
Di jalan menuju ke sana, kota perlahan berubah. Bangunan jadi tidak sepadat pusat. Udara sedikit bergeser. Dan waktu motornya mulai menanjak, laki-laki itu membuka sedikit resleting jaket tipisnya karena hawa yang lewat tidak lagi sepanas Jogja bawah.
Suroloka Zoo datang dengan cara yang lebih lembut dari yang ia duga. Tidak terlalu ramai. Tidak terlalu berisik. Dan tepat saat ia masuk, hujan turun.
Bukan hujan besar yang bikin orang lari. Lebih seperti hujan yang datang untuk menurunkan suhu dan membuat semua yang tadinya keras jadi sedikit lunak.
Laki-laki itu berhenti sebentar di bawah atap. Melihat rintik jatuh di jalur setapak. Menghirup udara yang mendadak dingin dan basah. Lalu, untuk pertama kalinya hari itu, tubuhnya terasa benar-benar nyaman.
Sakitnya masih ada. Tenggorokan masih kasar. Badan masih tidak enak. Tapi hujan di Kaliurang seperti meletakkan telapak tangan dingin di keningnya dan berkata: sudah, pelan-pelan saja.
Ia lalu berkeliling seperti biasa. Tidak terburu-buru. Tidak mengejar semua kandang. Kadang cuma berhenti lebih lama dari orang lain, lalu pindah setelah merasa cukup.
Di salah satu sudut ia duduk di bangku kayu yang setengah lembap. Melihat orang-orang berlalu. Anak-anak yang terlalu semangat menunjuk hewan. Orang tua yang pura-pura sabar sambil memegang payung dan tas sekaligus. Pasangan muda yang saling gantian memotret. Rombongan sekolah yang lebih ribut dari burung-burung di dekat mereka.
Ia suka cara dunia bergerak di tempat seperti itu. Tidak peduli siapa yang sedang sedih. Tidak peduli siapa yang habis dikhianati. Tidak peduli siapa yang masih bangun dengan dada sesak beberapa hari lalu.
Bahwa separah apa pun patahnya seseorang, dunia memang tidak akan berhenti berputar. Dan anehnya, kali ini pikiran itu tidak terdengar kejam. Justru melegakan.
Karena kalau dunia tetap berjalan, berarti ia juga boleh.
Ia sempat membuka ponsel, melihat satu arsip chat lama yang belum sempat ia hapus, lalu menutupnya lagi tanpa banyak rasa. Kalau suatu hari perempuan itu kembali dengan penjelasan baru, mungkin ada satu kalimat yang sekarang sudah ia tahu: sayangnya, ia tidak pernah benar-benar mengerti bagaimana perasaan seseorang yang ditinggalkan sambil diminta tetap tenang.
Tapi siang itu kalimat itu tidak terasa seperti luka terbuka lagi. Lebih seperti bekas yang masih ada, tapi sudah tidak perlu terus disentuh.
Hujan turun sedikit lebih rapat. Ia merapatkan jaket, tersenyum sendiri melihat seekor hewan yang tampak lebih malas dari dirinya, lalu duduk lebih lama. Mungkin tenang memang kadang sesederhana punya tempat duduk, udara dingin, dan hal-hal hidup yang bergerak tanpa menuntut apa-apa darimu.
Di bangku itu, ponselnya kembali berbunyi. Kali ini bukan panggilan. Notifikasi mobile banking.
Ia membuka layar, awalnya dengan curiga yang sudah otomatis terbentuk dari hidup kerja. Tapi ternyata bukan tagihan. Bukan juga permintaan revisi.
Itu pelunasan dari satu proyek website yang selesai ia kerjakan dua minggu lalu. Nominalnya masuk utuh. Tanpa perlu ditagih. Tanpa perlu ditanya berkali-kali.
Ia menatap angka itu lebih lama dari yang perlu, lalu tertawa kecil sendirian di tengah udara dingin Kaliurang. Lucu juga hidup. Pagi tadi ia dikejar orang karena satu tombol mati. Siang ini ia dibayar lunas oleh orang lain yang bahkan tidak banyak bicara.
Untuk beberapa detik ia merasa dunia seperti sedang minta maaf dengan caranya sendiri.
Sore harinya ia kembali ke pusat kota. Badan masih tidak benar-benar fit, tapi langkahnya anehnya lebih ringan. Tidak mengejar tempat wisata besar. Tidak juga memburu foto. Ia cuma jalan, berhenti, makan sedikit, minum lagi, lalu duduk cukup lama di satu cafe kecil yang jendelanya menghadap jalan.
Di situ ia membuka laptop, tapi tidak langsung bekerja. Ia malah membuka notes yang sejak hari pertama terus ia isi.
Di bawah kalimat hari pertama selesai. aku enggak hancur.
dan hari kedua ternyata lumayan seru.
ia menambahkan satu baris baru:
hari ketiga: aku mulai percaya hidupku tidak berhenti di orang yang salah.
Ia membaca kalimat itu sekali. Lalu menutup notes.
Senja turun pelan di luar jendela. Orang-orang masih lalu lalang. Ada yang terburu-buru. Ada yang santai. Ada yang ketawa terlalu keras. Ada yang hanya lewat dan hilang.
Dan laki-laki itu duduk di sana sambil sadar bahwa dua hal bisa benar sekaligus: ia memang pernah disakiti, dan hidupnya tetap bisa menarik sesudah itu.
Mungkin itu inti dari semua perjalanan kecil ini. Bukan untuk menyembuhkan seluruh luka dalam tiga hari. Tapi untuk membuktikan bahwa sesudah dikhianati pun, ia masih bisa penasaran pada besok. Masih bisa senyum tulus. Masih bisa bangun dan memilih kota, gang, makanan, atau arah jalan hanya karena ingin.
Waktu ia kembali ke hostel untuk bersih-bersih, langit sudah hampir benar-benar gelap. Ia mandi cepat. Ganti kaos. Mengusap sepatu yang masih menyimpan lumpur tipis dari Kaliurang.
Baru saja ia selesai merapikan isi carrier, ponselnya berbunyi. Nama yang muncul membuatnya mengernyit sebentar, lalu tersenyum.
Arga. Teman organisasi lama yang ternyata sedang ada urusan di Jogja.
lo di jogja?
iya.
makan yuk. gue deket malioboro.
Laki-laki itu sempat menatap layar dua detik lebih lama. Bukan karena ragu. Lebih karena hidup kadang lucu juga. Di hari ketika ia sedang belajar lagi menikmati waktunya sendiri, malam justru memberinya seseorang untuk diajak duduk tanpa perlu menjelaskan terlalu banyak.
Mereka ketemu di tengah Malioboro. Salaman cepat. Tertawa sebentar karena sama-sama tampak lebih capek dari foto profil masing-masing.
Sesudah itu mereka jalan kaki pelan sampai ujung Malioboro, seperti dua orang yang tahu obrolan enak justru sering lahir kalau kaki terus bergerak.
Malam sudah lebih longgar. Toko-toko masih menyala. Gerimis tipis tinggal bekas di aspal. Mereka jalan sambil sesekali menepi memberi jalan buat orang lain, lalu akhirnya singgah makan di warung dekat samping BNI yang lampunya terang dan mejanya plastik semua.
Tidak ada topik besar di awal. Tidak ada pertanyaan, "Lo kenapa?" Tidak ada nasihat tentang ikhlas. Dan justru itu yang membuat pertemuan itu terasa enak.
Arga melihat carrier-nya yang disandarkan ke kursi. "Masih enak bawa Osprey itu?"
Laki-laki itu tertawa. "Enak. Backsystem-nya nyelametin punggung gue sejauh ini."
"Gue bilang juga apa. Carrier bagus tuh bikin capek tetap capek, cuma enggak nyusahin."
"Bijak banget lo."
"Iya, karena miskin ngajarin gue milih barang."
Mereka ketawa. Lalu pindah ke topik lain dengan mudah, seperti dua orang yang sudah lama kenal lalu tahu bahwa obrolan random sering kali lebih menyelamatkan daripada obrolan serius.
Mereka ngomongin sepatu gunung yang sekarang makin mahal tapi kualitasnya justru terasa menurun. Ngomongin koin-koin antik yang dulu sempat mereka rebutkan waktu bazar kampus. Ngomongin harga perak yang makin gila. Ngomongin emas yang sempat turun di Indonesia gara-gara satu kasus yang bikin banyak orang panik.
Arga, yang sekarang bantu usaha keluarganya, cerita pahit manisnya berbisnis emas di kotanya. Tentang orang yang datang mau jual cepat karena butuh uang sekolah. Tentang orang yang beli sedikit-sedikit cuma supaya merasa punya pegangan. Tentang bagaimana logam kecil bisa jadi sumber tenang sekaligus sumber ribut dalam satu keluarga.
"Kadang gue ngerasa," kata Arga sambil mengaduk teh, "emas tuh bukan cuma benda. Dia kayak bentuk panik yang dipadatkan."
Laki-laki itu tertawa sampai sedikit batuk. "Kalimat lo makin aneh."
"Tapi bener, kan?"
"Iya."
Ia tidak sadar sudah tersenyum selama itu. Bukan senyum sopan. Bukan senyum yang dipasang supaya orang lain tidak khawatir. Benar-benar senyum yang muncul karena obrolan bisa loncat dari carrier, ke sepatu gunung, ke koin antik, ke harga perak, ke emas, tanpa perlu satu pun dari mereka menyentuh luka yang sebenarnya semua orang sudah tahu ada.
Dan mungkin itu juga satu bentuk ditolong. Bukan selalu dengan dipeluk atau dinasihati. Kadang cukup dengan diberi meja, makanan hangat, dan percakapan yang tidak menuntutmu membuka bagian paling rusak dari dirimu malam itu.
Malamnya, sebelum tidur, ia kembali melihat tiket satu arah di ponselnya. Kali ini ia tidak merasa limbung. Ia malah merasa agak bangga.
Karena ternyata satu keputusan nekat itu membawanya sampai ke hari ketiga. Ke senyum yang tidak dibuat-buat. Ke langkah yang tidak lagi terburu-buru. Ke hidup yang masih belum rapi, tapi sudah mulai terasa lapang.
Keinginannya sederhana. Ia cuma ingin sesudah ini, hidupnya lebih banyak diisi keberanian kecil untuk mencoba daripada ketakutan besar untuk ditinggalkan lagi.
Lalu, tepat ketika ia hendak mematikan layar, satu chat baru masuk.
Nama pengirimnya masih disimpan aneh sejak lama: ikon kuda dan satu kata yang dulu pernah terdengar lucu.
Pesannya pendek.
hei kamu, udah di mana?
Lalu satu pesan lagi menyusul, beberapa detik setelahnya.
baliklah. rindu.
Laki-laki itu menatap layar cukup lama. Tidak langsung tersenyum. Tidak juga langsung menolak.
Di luar, Jogja sudah lebih sunyi. AC hostel berdengung pelan. Dan tiket satu arahnya masih tetap tersimpan di ponsel, belum berubah ke mana-mana.