7 Menit

99 Keinginan #37

Hari kedua di Jogja datang lebih pelan tapi lebih hidup. Ia bangun jam sembilan, sarapan gudeg yang tidak cocok di lidahnya, lalu berjalan dari Beringharjo sampai Taman Sari, tersasar ke cafe karena maps ojol ngawur, dan malamnya kembali ke Malioboro yang lebih sepi sambil merasa kota ini mulai membuka diri.

Hari kedua di Jogja, laki-laki itu bangun jam sembilan pagi.

Ia bangun bukan karena niat, melainkan karena dua orang di lorong hostel ngobrol terlalu keras soal rencana sarapan.

Matanya terbuka pelan. Lehernya dingin. Ujung jari kakinya juga dingin. AC kamar itu ternyata terlalu rajin bekerja semalaman sampai selimut tipis hostel tidak banyak menolong.

Ia menarik selimut lebih tinggi sebentar, lalu menatap langit-langit putih kamar dan butuh beberapa detik untuk ingat di kota mana ia sedang tidur. Sesudah itu semuanya kembali: tiket satu arah, carrier di sudut kamar, hujan semalam, wayang orang di Sonobudoyo, dan catatan kecil yang ia tulis sebelum tidur:

hari pertama selesai. aku enggak hancur.

Ia masih patah hati. Tentu saja. Tapi hari kedua punya rasa yang berbeda. Sedihnya belum hilang, hanya saja kota ini mulai memberi hal-hal lain untuk diperhatikan.

Ia mandi agak lama pagi itu. Membiarkan air jatuh lebih lama dari perlu. Menggosok wajah beberapa kali seperti orang yang ingin memastikan sisa kemarin sudah benar-benar lepas.

Sesudah itu ia keluar dengan kaos bersih, dompet tipis, ponsel, dan langkah yang belum terlalu tergesa. Hari itu hari Minggu. Dan Malioboro sudah hidup lebih cepat dari dugaannya.

Trotoarnya penuh oleh orang-orang yang seperti sepakat untuk keluar rumah bersamaan. Ada keluarga yang jalan rapat-rapat supaya anaknya tidak lepas. Ada mahasiswa yang baru kelihatan bangun tapi sudah sempat ngopi. Ada wisatawan yang berdiri mendadak tiap lima langkah hanya untuk foto.

Toko mulai buka. Pedagang mulai bersuara. Dan kota seperti menolak siapa pun untuk terlalu lama murung dengan nyaman.

Sarapan pertamanya hari itu adalah gudeg.

Ia memilih warung yang tampak ramai, duduk di bangku kayu yang catnya sudah aus, lalu memesan tanpa banyak pertimbangan. Waktu suapan pertama masuk, ia langsung tahu: ini bukan makanan yang akan ia rindukan.

Manis lagi.

Berbeda dengan nasi pecel kemarin, manis yang ini lebih halus, tapi tetap terlalu jauh dari lidahnya yang biasa. Ia tetap makan pelan-pelan, lebih karena menghormati pagi daripada benar-benar menikmati rasanya.

"Belum cocok, ya, Mas?" tanya ibu yang menghidang sambil tersenyum kecil.

Ia ikut tersenyum. "Masih belajar."

"Jogja memang ngajarin pelan-pelan."

Kalimat itu ringan. Tapi seperti banyak kalimat sederhana lain yang ia temui sejak datang ke kota ini, ia menyimpannya diam-diam. Karena kadang yang membuat hari terasa baik bukan kejadian besar, cuma satu kalimat ramah yang datang di waktu yang pas.

Sesudah sarapan, ia jalan ke Pasar Beringharjo.

Rute dari warung gudeg ke Beringharjo tidak jauh, tapi pagi itu terasa padat oleh macam-macam kehidupan. Suara klakson datang dari ujung jalan. Tukang becak menawarkan tumpangan tanpa benar-benar memaksa. Seorang bapak membawa balon berjalan pelan di antara kerumunan. Anak kecil merengek minta mainan yang baru dilihat sepintas. Ada pasangan yang berdebat kecil soal arah jalan, lalu selesai hanya dengan saling diam tiga detik.

Ia berjalan di tengah semua itu sambil sesekali menepi memberi jalan. Dan entah kenapa, keramaian hari Minggu membuat langkahnya lebih ringan. Ia jadi punya terlalu banyak hal untuk dilihat, dan itu menyenangkan.

Ia tidak benar-benar mencari apa-apa. Justru itu yang membuat langkahnya enak. Ia berhenti di kios batik lebih lama dari yang perlu. Menyentuh kain-kain yang digantung rapat. Melihat ibu-ibu menawar dengan nada yang sudah seperti lagu. Mencium campuran bau kain, kayu tua, plastik, dan debu yang anehnya terasa akrab meski jelas bukan bagian dari hidupnya sehari-hari.

Ada satu lorong tempat gelang-gelang kecil dijual bertumpuk. Ada penjual yang bersandar sambil kipas-kipas. Ada rombongan wisatawan yang bergerak terlalu ramai untuk lorong sesempit itu.

Ia suka memperhatikan kota lewat pasar. Karena di tempat seperti itu, hidup tidak sempat berpura-pura rapi. Semuanya kelihatan bekerja, menawar, lelah, bercanda, dan bertahan pada saat yang sama.

Dari Beringharjo, ia lanjut ke Taman Sari.

Matahari mulai naik lebih keras. Peluh muncul lagi di pelipis. Tapi hari kedua membuat capek terasa sedikit lebih bersahabat. Seolah tubuhnya mulai mengerti bahwa perjalanan ini bukan hukuman, cuma bentuk lain dari bertahan.

Di Taman Sari, ia masuk pelan-pelan. Melewati lorong, tembok pucat, dan halaman yang menyimpan gema langkah sendiri. Lalu sampai di Umbul Pasiraman.

Airnya tenang. Bentuk ruangnya rapi. Ada sesuatu yang cantik sekaligus tertutup di sana.

Ia berdiri cukup lama. Membaca penjelasan seperlunya. Lalu membiarkan sisanya diisi oleh pikirannya sendiri.

Tempat itu tetap membuatnya berpikir, tapi tidak selama kemarin-kemarin ia biasanya tenggelam dalam satu ingatan. Kali ini ia lebih tertarik pada bentuk jendelanya, pantulan airnya, dan cara suara orang berubah lebih pelan di dalam area itu. Untuk beberapa menit, ia berhasil jadi wisatawan biasa. Dan ia suka itu. Mungkin begini caranya pulih bekerja: bukan dengan tiba-tiba lupa, tapi dengan pelan-pelan kembali tertarik pada hal-hal di luar lukamu sendiri.

Jadi ia jalan lagi. Melewati beberapa sudut. Memandang langit lewat sela bangunan. Membiarkan pikirannya mereda bersama langkah.

Di luar area yang lebih ramai, ia membeli es teh dari penjual kecil di sekitar sana. Gerobaknya sederhana. Es batunya ditutup kain tipis. Tangannya cekatan.

"Satu, Mas?"

"Iya, satu."

Waktu hendak bayar, ia membuka dompet dan langsung sadar isinya menyebalkan: dua lembar dua ribuan, dan satu lembar seratus ribu.

Ia tertawa malu. "Bu, saya cuma ada dua ribuan dua sama seratus. Es tehnya berapa?"

"Lima ribu."

"Waduh."

Ia mengangkat dua lembar uang kecil itu. "Kurang seribu. Kalau seratus ribu takut nyusahin."

Penjual itu melihat uangnya, lalu melihat wajahnya yang kepanasan. Sesudah itu ia mengibaskan tangan ringan.

"Udah, enggak apa-apa. Empat ribu aja."

"Bener, Bu?"

"Iya. Masa gara-gara seribu kamu enggak jadi minum."

Laki-laki itu tertawa. "Terima kasih banyak."

Ibu itu ikut tertawa. "Besok kalau lewat sini lagi, baru balikin seribunya."

"Kalau saya enggak lewat?"

"Ya berarti saya sedekah ke orang patah hati yang mukanya kelihatan capek."

Ia terdiam sebentar, lalu tertawa lebih keras dari yang ia rencanakan. "Kelihatan banget ya, Bu?"

"Sedikit."

Es teh itu dingin sekali. Manis. Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di Jogja, manisnya terasa pas.

Ia membawa gelas plastik itu ke pinggir bangunan Taman Sari, lalu duduk cukup lama di situ. Bukan di tempat yang paling bagus untuk foto. Justru di sisi yang agak biasa. Tempat orang bisa lewat, berhenti, lalu hilang lagi dari pandangan.

Di sana ia melihat banyak hal kecil yang entah kenapa terasa manis dengan caranya sendiri.

Merpati berterbangan mendadak waktu seorang anak berlari terlalu dekat. Anak itu tertawa, lalu ibunya pura-pura marah sambil memanggil namanya. Ada pasangan muda bergantian mengambil foto satu sama lain, terlalu serius mengatur sudut sampai akhirnya mereka sendiri yang tertawa. Ada satu rombongan besar yang berkali-kali gagal membuat semua orang melihat kamera di waktu yang sama. Ada turis asing yang bingung bertanya arah ke orang lokal, lalu sama-sama tertawa karena bahasa tubuh mereka ternyata lebih berhasil daripada kata-kata.

Ia memperhatikan semuanya seperti orang yang sedang belajar lagi caranya berada di dunia.

Tidak ikut masuk ke setiap kebahagiaan yang ia lihat. Tidak juga menutup diri rapat-rapat. Hanya duduk. Menggenggam es teh yang mulai berair. Dan membiarkan hal-hal kecil itu lewat di depan matanya tanpa harus dibandingkan dengan hidupnya sendiri.

Itu baru. Dan karena itu, rasanya berharga. Ia tidak sedang melupakan siapa-siapa. Ia cuma mulai memberi dunia kesempatan untuk menarik perhatiannya lagi. Dan mungkin itu juga berarti mulai mengakui sesuatu yang selama ini sulit ia ucapkan: ia tidak menyesal pernah membantu, pernah tinggal, pernah sungguh-sungguh. Ia cuma sedang belajar bahwa tidak semua orang layak diperjuangkan sejauh itu.

Biasanya, sesudah patah hati, orang jadi mudah membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain. Tapi siang itu tidak begitu. Ia justru sibuk menikmati betapa banyak hal kecil yang ternyata lucu: merpati yang panik, anak kecil yang larinya miring, pasangan yang terlalu serius berfoto, dan bule yang akhirnya menunjuk-nunjuk sambil ketawa sendiri karena tak ada bahasa yang benar-benar cocok.

Menjelang sore, es tehnya tinggal air dingin yang hampir habis. Ia berdiri pelan. Melihat sekali lagi ke sekitar. Lalu melangkah keluar dengan ritme yang tidak lagi secepat kemarin.

Hari kedua belum selesai.

Ia masih punya satu pekerjaan yang harus dibereskan sore itu. Jadi ia memesan ojek online ke sebuah cafe yang ia temukan semalam. Di aplikasi, lokasinya terlihat tidak terlalu jauh.

Masalahnya, setelah hampir sampai, pengemudi ojek itu melambat lalu menoleh.

"Mas, ini titiknya aneh ya. Kayaknya masuk gang, tapi di sini enggak ada cafe."

Laki-laki itu melihat ponselnya. Maps memang menunjuk ke titik yang tidak masuk akal, di antara rumah-rumah dan pagar yang terlalu sepi untuk ukuran tempat ngopi.

"Saya juga bingung, Pak."

Pengemudinya tertawa kecil. "Biasanya gini kalau cafenya pindah tapi mapnya belum tobat."

Ia ikut tertawa. Capek, tapi pasrah.

Akhirnya ia turun di dekat jalan yang sedikit lebih ramai, membayar ongkos, lalu memutuskan masuk ke cafe terdekat yang tampak cukup tenang daripada terus memburu titik yang belum tentu ada.

Cafe itu tidak istimewa. Lampunya hangat. Mejanya kayu. Ada mesin espresso yang sesekali berbunyi nyaring dari balik bar. Dan ada sudut paling belakang dekat colokan listrik yang langsung ia pilih tanpa pikir panjang.

Ia duduk di situ, mengeluarkan laptop, memesan es kopi yang rasanya biasa saja, lalu memasang earphone. Lagu favoritnya diputar pelan. Bukan lagu baru. Justru lagu lama yang sudah terlalu ia hafal sampai bisa menenangkan tanpa perlu banyak tenaga.

Layar laptop menyala. File kerja dibuka. Dan untuk hampir dua jam, ia membiarkan dirinya jadi orang biasa lagi. Bukan mantan seseorang. Bukan laki-laki yang baru ditinggalkan. Cuma orang yang harus menyelesaikan pekerjaan sebelum malam.

Sesekali ia mendongak. Melihat barista membersihkan gelas. Melihat sepasang mahasiswa berdiskusi terlalu serius di meja depan. Melihat hujan tipis sempat turun lagi di luar kaca, lalu hilang sebelum benar-benar jadi.

Ia suka momen itu. Momen ketika hidup kembali terasa teknis dan kecil. Dan anehnya, justru dari hal-hal kecil begitu ia mulai merasa hari ini menyenangkan. Kadang satu pekerjaan yang selesai tepat waktu bisa lebih menenangkan daripada seratus nasihat tentang ikhlas.

Waktu laptop ditutup, langit sudah berubah. Bukan malam penuh, tapi jalanan jelas tidak seramai siang tadi.

Ia jalan lagi ke arah Malioboro. Kali ini suasananya berbeda. Masih ada orang, tentu. Tapi tidak sepadat hari Minggu pagi. Malam Senin punya ritme yang lebih longgar. Pedagang masih ada. Lampu masih menyala. Gerimis tipis sempat turun sebentar lalu berhenti, meninggalkan aspal yang memantulkan warna toko dan lampu kendaraan.

Ia berjalan lebih pelan dari sebelumnya. Tidak mengejar sarapan. Tidak mengejar pasar. Tidak juga mengejar jadwal apa-apa.

Ada pasangan yang duduk diam di bangku trotoar sambil berbagi jagung bakar. Ada bapak-bapak yang masih sibuk menawarkan andong dengan suara yang lebih malas. Ada petugas kebersihan yang menyapu sambil sesekali berhenti melihat lalu-lalang orang.

Jogja malam itu terasa seperti kota yang sudah lelah, tapi belum ingin tidur. Dan ia suka versi kota yang begitu. Lebih longgar, lebih santai, lebih gampang diajak jalan tanpa tujuan.

Sebelum benar-benar pulang ke hostel, ia mampir ke Malio Gelato.

Tempat itu masih cukup ramai, tapi tidak seramai siang. Lampunya terang. Kaca depannya memantulkan jalan yang masih basah. Ia berdiri sebentar di depan deretan rasa, membaca nama-namanya satu-satu seperti sedang memilih mood, bukan dessert.

Akhirnya ia memesan dua rasa. Satu yang aman. Satu lagi yang ia pilih cuma karena terdengar menarik.

Cup kecil itu dingin di tangan. Ia duduk di kursi dekat jendela, sendirian, menghadap ke luar. Dari situ ia bisa melihat orang lalu lalang tanpa harus ikut jadi bagian dari keramaian.

Ada keluarga kecil yang berjalan sambil berbagi satu payung. Ada dua remaja yang sibuk saling memotret dengan hasil yang mungkin akan mereka hapus lagi nanti. Ada sepasang turis yang berhenti terlalu lama di trotoar hanya untuk memastikan arah. Ada pengendara yang lewat pelan karena aspal masih licin.

Ia makan es krimnya pelan-pelan. Sendok kecil. Dua rasa yang berbeda. Satu lebih manis dari yang ia kira. Satu lagi justru ringan dan enak tinggal di lidah.

Dan entah kenapa, momen itu terasa pas sekali untuk hari keduanya: tidak besar, tidak dramatis, tapi cukup manis untuk diingat.

Untuk pertama kalinya sejak datang, ia merasa bukan cuma sedang kabur. Ia benar-benar sedang punya hari yang lumayan seru. Ada gudeg yang gagal di lidah. Ada pasar yang hidup. Ada Taman Sari yang cantik. Ada es teh murah hati. Ada cafe nyasar. Ada gelato dua rasa di dekat jendela. Ada kerjaan yang selesai. Dan ada malam yang tidak buru-buru menyuruhnya pulang.

Tidak semua perjalanan harus menyembuhkan. Sebagian cukup kalau berhasil membuatmu penasaran lagi pada hidupmu sendiri.

Keinginannya sederhana. Ia cuma ingin sesudah luka ini, hidupnya pelan-pelan lebih banyak diisi rasa penasaran daripada rasa kehilangan, sebab ternyata masih ada banyak kota, banyak lorong, dan banyak hal kecil yang bisa membuatnya senang lagi.