99 Keinginan #36
Sesudah patah hati, ia mulai membuka lagi daftar keinginan yang dulu selalu ditunda. Kota pertama yang didatangi adalah Jogjakarta. Di hari pertama, ia belajar bahwa bepergian sendirian tidak membuat luka langsung hilang, tapi setidaknya membuatnya bergerak.
"Yang harus belajar menjauh itu kamu, bukan saya. Orang yang benar-benar cinta biasanya enggak pandai pergi. Kamu bisa, karena kamu memang enggak cinta."
Kalimat itu keluar di akhir pertengkaran yang sudah terlalu capek untuk disebut pertengkaran.
Malam sebelumnya, semuanya terjadi di layar ponsel.
Laki-laki itu masih mengetik panjang. Masih bertanya ada apa. Masih mencoba mengerti bagian mana yang mulai berubah. Masih menawarkan ketemu kalau memang ada yang perlu dibicarakan baik-baik. Karena beberapa minggu terakhir, perempuan itu memang terasa menjauh dengan cara yang aneh: masih hadir kalau sedang butuh tenang, tapi hilang waktu ia mulai diminta jelas.
Laki-laki itu sebenarnya sudah curiga sejak nama mantan itu mulai muncul lagi. Awalnya cuma sambil lalu. Katanya cuma mengabari. Katanya cuma minta maaf. Katanya tidak ada yang perlu dipikirkan.
Masalahnya, orang yang sedang kembali ke masa lalunya sering memang paling suka bilang tidak ada apa-apa.
Balasan perempuan itu datang lama. Pendek. Dingin. Seperti orang yang sedang menjawab notifikasi belanja, bukan hati seseorang.
aku capek.
Lalu:
enggak semua harus dibahas panjang.
Dan sesudah itu:
aku pengin sendiri. jangan bikin susah.
Padahal ternyata ia tidak ingin sendiri. Ia hanya ingin sendiri dari laki-laki ini. Karena pada waktu yang sama, ia sedang pelan-pelan membuka pintu lagi untuk seseorang yang dulu pernah menyakitinya, tapi tetap terasa akrab di hidupnya.
Di titik itu laki-laki itu masih mencoba sabar. Masih bilang kalau hubungan tidak bisa selesai cuma dengan tiga kalimat malas dan jeda dua puluh menit. Masih bilang kalau setidaknya mereka berdua pantas menutup semuanya dengan cara yang lebih manusia. Masih bilang kalau kalau memang ada orang lain, setidaknya jujurlah.
Tapi perempuan itu tetap sama. Cuek. Setengah hadir. Seolah-olah percakapan itu cuma sesuatu yang harus dibereskan sebelum ia tidur.
jangan drama.
aku udah bilang capek.
kalau kamu enggak bisa ngerti, ya udah.
Lalu, setelah jeda yang cukup lama untuk membuat tangan laki-laki itu dingin sendiri, masuk satu kalimat yang membuat semuanya akhirnya terang:
aku balik sama dia.
Tidak ada penjelasan sesudahnya. Tidak ada maaf yang sungguh-sungguh. Tidak ada pengakuan bahwa selama ini ia sempat menjadikan laki-laki ini tempat singgah sementara masa lalunya belum selesai.
Dan mungkin justru di situ semuanya selesai. Bukan waktu kata putus diucapkan. Tapi waktu ia sadar perempuan di seberang layar itu tidak benar-benar peduli apakah kata-katanya melukai atau tidak. Ia cuma ingin cepat selesai, cepat lepas, cepat pergi, lalu kembali ke tempat lamanya sambil meninggalkan semua bagian yang sempat ia pinjam dari laki-laki ini.
Yang paling membuat laki-laki itu diam bukan cuma fakta bahwa ia ditinggalkan. Tapi kenyataan yang jauh lebih memalukan: selama ini ia mengira sedang dicintai, padahal bisa jadi ia cuma dipakai untuk beristirahat sebentar dari luka lama perempuan itu.
Barulah sesudah itu ia mengatakan kalimat tadi.
Kalimat itu masih tinggal di kepalanya bahkan saat langit subuh belum benar-benar terang.
Kota pertama yang ia datangi sesudah patah hati adalah Jogjakarta.
Bukan karena kota itu paling jauh.
Bukan juga karena paling mewah.
Justru karena Jogja sudah terlalu lama ada di daftar kecil yang ia simpan di notes ponsel dengan judul yang sederhana:
hal-hal yang ingin kulakukan sebelum hidupku terlalu sibuk
Selama ini daftar itu cuma jadi pajangan. Ia selalu punya alasan untuk menunda. Kerja. Capek. Nanti saja kalau ada waktu lebih panjang. Nanti saja kalau ada teman. Nanti saja kalau hubungan sudah tenang.
Masalahnya, beberapa hubungan tidak pernah benar-benar tenang. Mereka cuma menghabiskan banyak waktumu sambil meyakinkan bahwa nanti masih ada.
Jadi waktu semuanya selesai, laki-laki itu membeli tiket tanpa banyak rapat dengan dirinya sendiri. Jogja. Subuh. Sendiri.
Ia hanya membeli tiket pergi.
Bukan karena lupa. Bukan juga karena ingin terdengar dramatis. Ia cuma benar-benar belum tahu mau pulang kapan. Atau lebih jujur lagi, ia belum tahu apakah ia sungguh ingin pulang ke kota yang beberapa bulan terakhir terasa terlalu penuh oleh sisa-sisa seseorang.
Jadi pagi itu, saat langit masih biru gelap dan udara bandara masih dingin seperti ruangan yang belum benar-benar bangun, ia datang dengan satu carrier, satu tas kecil, dan satu keputusan yang belum selesai: untuk sementara, ia hanya perlu pergi dulu.
Di kursi tunggu keberangkatan, kopi dari kafe bandara terasa terlalu pahit. Layar ponselnya menunjukkan itinerary pendek tanpa tanggal kembali. Dan untuk beberapa menit, melihat satu arah perjalanan itu membuat dadanya campur aduk.
Takut, tentu. Tapi juga lega dengan cara yang tidak ingin terlalu banyak dijelaskan.
Sudah lama sekali ia tidak melakukan sesuatu tanpa lebih dulu menyiapkan jalan mundurnya.
Di pesawat, ia duduk di dekat jendela. Kursi 17A. Ia tahu nomor itu karena membacanya tiga kali sejak boarding, seolah-olah dengan begitu dadanya akan lebih tertib.
Di sebelah lorong, ada pasangan muda yang tukar kursi dengan sopan karena si perempuan takut terbang kalau tidak duduk dekat jendela. Laki-laki itu mengalah sambil tertawa kecil, lalu menaruh botol air di tray meja perempuan itu tanpa diminta.
Sesederhana itu. Tapi hal sederhana memang kadang paling teliti melukai orang yang baru selesai patah hati.
Beberapa baris di depan, seorang anak tidur dengan kepala miring ke bahu ibunya. Pramugari membetulkan sandaran kursi pelan-pelan supaya kepalanya tidak jatuh. Di baris belakang, ada dua orang teman yang bergantian memilih lagu dari satu earphone yang dibagi dua.
Ia melihat semuanya terlalu sadar. Seolah-olah sejak hatinya retak, matanya jadi lebih peka terhadap semua bentuk kebersamaan yang dulu terasa biasa.
Lalu ia memandang ke luar jendela. Awan di bawah pesawat terlihat seperti sesuatu yang tenang dan tidak punya riwayat apa-apa. Ia iri sebentar.
Mungkin karena awan tidak harus menjawab pertanyaan yang sejak tadi duduk diam di kepalanya: kalau nanti kota ini terasa cukup baik, apakah ia harus benar-benar buru-buru pulang?
Patah hati ternyata tidak selalu datang sebagai satu luka besar. Kadang ia muncul kecil-kecil sepanjang hari. Dalam cara orang menyodorkan air minum. Dalam kepala yang bersandar ke bahu. Dalam satu earphone yang dipakai bergantian.
Dan laki-laki itu baru sampai separuh perjalanan bahkan sebelum hari pertamanya benar-benar dimulai.
Begitu mendarat, kekacauan kecil langsung datang.
Ia turun cukup cepat, jalan cepat ke area bagasi, lalu berdiri terlalu lama di depan conveyor belt yang seperti sengaja bergerak lambat hari itu. Tas hitam orang lain lewat dua kali. Kardus yang dililit lakban hijau lewat tiga kali. Baby stroller muncul. Sebuah koper merah muda muncul. Tasnya belum juga.
Ia melihat jam. Kereta bandara yang ingin ia kejar tinggal sedikit lagi.
"Ayo," gumamnya sendiri, seolah carrier itu bisa disuruh cepat muncul.
Waktu tasnya akhirnya keluar, ia langsung menariknya nyaris tanpa elegan. Lalu berlari kecil, setengah jalan cepat, setengah panik, menyeberangi lorong bandara sambil berkali-kali memastikan tiket kereta di ponselnya belum hangus.
Ia sampai dengan napas setengah putus. Pintu hampir ditutup. Petugas sempat melihat wajahnya yang kusut, lalu memberi jalan.
Laki-laki itu masuk, duduk, dan untuk beberapa detik cuma bisa menatap lututnya sendiri.
Ia tertawa kecil. Capek. Keringat mulai keluar di punggung. Dan entah kenapa itu jadi momen pertama hari itu ketika ia merasa benar-benar hidup lagi.
Bukan bahagia besar. Cuma lega kecil karena masih berhasil mengejar sesuatu. Setelah sekian lama hidupnya terasa seperti daftar hal yang lolos dari genggaman.
Kereta itu melaju keluar bandara, dan dari jendela ia melihat kota yang belum dikenalnya datang pelan-pelan. Untuk sesaat, ia sadar betapa anehnya hari itu: ia sedang menuju tempat yang sudah lama ingin ia datangi, sambil membawa tiket satu arah dan hati yang belum tahu harus pulih di mana.
Dari stasiun, panas Jogja menyambutnya tanpa basa-basi.
Matahari siang itu keras. Aspal memantulkan cahaya. Tas kecil di pundaknya mulai terasa berat. Ia sebenarnya bisa pesan ojek. Tapi hostel yang dipesannya cuma terlihat "dekat" di peta, dan seperti banyak orang keras kepala yang baru patah hati, ia kadang suka menukar capek dengan perasaan sedang berusaha.
Jadi ia jalan.
Dari stasiun ke arah hostel, peluh cepat terasa di pelipis. Kaosnya menempel tipis di punggung. Beberapa kali ia berhenti sebentar, pura-pura lihat maps, padahal sebenarnya cuma ingin memberi napasnya waktu untuk tidak terdengar terlalu kalah.
Di trotoar yang panas itu, ia tiba-tiba ingat sesuatu yang tidak penting: dulu ada orang yang selalu cerewet kalau ia jalan siang-siang tanpa minum cukup.
"Nanti pusing sendiri."
Kalimat itu datang begitu saja, lengkap dengan nada suaranya. Ia diam sebentar di bawah bayangan pohon yang tidak terlalu teduh. Lalu membeli air mineral di warung kecil dan menghabiskannya setengah botol sekali teguk, seolah-olah dengan begitu kenangan itu juga bisa ikut turun.
Sore menjelang ketika ia akhirnya meletakkan tas di hostel. Kasurnya kecil. Sprei putihnya agak kusut. Kamar itu tidak istimewa. Justru itu yang ia suka. Tidak ada yang menuntut hari pertama ini jadi indah dengan sempurna.
Ia menaruh ponsel di samping bantal, membuka aplikasi maskapai sebentar, lalu menatap bagian kepulangan yang masih kosong. Tidak ada jadwal balik. Tidak ada kursi yang dipilih. Tidak ada kota tujuan setelah ini selain yang sedang ia pijak sekarang.
Dan anehnya, kekosongan itu tidak langsung menakutkan. Sedikit bikin limbung, iya. Tapi juga membuat napasnya terasa lebih panjang. Seolah-olah untuk pertama kalinya setelah lama, hidup berhenti memaksanya menjawab semua hal di hari yang sama.
Ia mandi cepat, ganti kaos, lalu keluar lagi dengan perut yang mulai mengingatkan diri.
Target pertamanya sederhana: mencari makan di sekitar Malioboro.
Ia berhenti di warung nasi pecel yang tampak ramai. Duduk di bangku plastik. Memesan yang paling aman menurutnya. Waktu suapan pertama masuk, ia langsung diam.
Manis.
Bukan sedikit. Benar-benar manis.
Ia menelan, berkedip dua kali, lalu tertawa sendiri.
"Oh, begini toh," gumamnya pelan.
Ibu penjual melihatnya. "Belum biasa ya, Mas?"
Ia mengangguk sambil tersenyum malu. "Baru hari pertama."
"Nanti juga biasa."
Kalimat itu sederhana sekali. Tapi ia menyimpannya. Mungkin karena banyak hal memang seperti itu. Awalnya terasa aneh. Terlalu manis. Terlalu asing. Lalu pelan-pelan tubuh belajar menerima bahwa tidak semua yang berbeda berarti salah.
Sesudah makan, ia jalan tanpa tujuan yang terlalu ketat. Malioboro ramai. Suara kendaraan, sandal yang menyeret trotoar, penjual suvenir, wisatawan yang berhenti mendadak untuk foto, semuanya seperti bergerak dengan ritme sendiri.
Ia suka itu. Keramaian kota yang tidak mengenalnya membuat ia merasa aman. Tidak ada yang tahu ia datang ke sini sambil membawa hati yang masih sensitif. Tidak ada yang tahu beberapa bulan terakhir hidupnya habis untuk bertahan tampak biasa.
Menjelang magrib, hujan turun.
Awalnya gerimis tipis. Lalu jadi lebih rapat. Orang-orang mulai menepi. Ia bisa saja balik ke hostel. Tapi di hari pertama itu ada satu tempat yang tetap ingin ia datangi: Museum Sonobudoyo.
Jadi ia tetap jalan sambil merapatkan tas ke dada, setengah basah, setengah nekat, seperti orang yang akhirnya sadar bahwa daftar keinginan tidak pernah selesai kalau terus ditunggu cuaca baik.
Halaman museum basah waktu ia sampai. Udara berubah dingin. Lengan kaosnya lembap. Sepatu sedikit bunyi waktu melangkah.
Di dalam, semuanya terasa lebih tenang. Kayu, kaca, benda-benda lama, dan suara langkah yang teredam. Hujan di luar seperti sengaja menurunkan volume dunia.
Ia berjalan pelan. Membaca keterangan seperlunya. Berhenti lebih lama di beberapa benda yang tidak ia mengerti sepenuhnya, tapi tetap berhasil membuat dadanya diam.
Di salah satu ruangan, ia duduk sebentar di bangku kayu. Basah di ujung celana mulai dingin. Ponselnya hampir habis baterai. Dan entah kenapa, justru di situ ia merasa hari pertamanya baru benar-benar sampai.
Bukan di pesawat. Bukan di stasiun. Bukan juga di warung nasi pecel yang terlalu manis.
Tapi di bangku museum itu. Saat ia akhirnya tidak sedang mengejar apa-apa. Tidak kereta. Tidak notifikasi. Tidak penjelasan. Tidak orang yang sudah memilih pergi.
Ia cuma duduk. Mendengar hujan. Dan untuk pertama kalinya setelah lama, kesepiannya tidak terasa seperti hukuman. Lebih seperti ruang kosong yang akhirnya bisa dipakai bernapas.
Waktu petugas mulai memberi tanda bahwa ruangan akan ditutup untuk persiapan pertunjukan malam, ia baru sadar di halaman depan nanti ada wayang orang.
Judulnya Gandamana Luweng.
Ia sebenarnya tidak terlalu paham cerita wayang. Kalau ditanya tokohnya satu-satu pun mungkin ia banyak salah. Tapi malam itu ia tetap beli tiket. Mungkin karena hujan masih turun tipis. Mungkin karena ia belum ingin kembali ke hostel secepat itu. Mungkin juga karena sesudah patah hati, orang jadi lebih mudah tertarik pada kisah pengkhianatan orang lain.
Ia duduk di bangku penonton yang tidak terlalu depan. Kaosnya masih menyimpan lembap. Udara malam mulai dingin. Di panggung, suara gamelan pelan-pelan mengisi ruang.
Lalu cerita itu berjalan. Tokoh-tokoh masuk. Bahasa yang tidak seluruhnya ia tangkap tetap terasa sampai. Tubuh-tubuh bergerak dengan ketegangan yang anehnya mudah dimengerti bahkan tanpa semua penjelasan.
Ia tidak menangkap setiap detail kisah Gandamana malam itu. Tapi ia menangkap cukup banyak untuk merasa tertusuk: tentang orang yang setia pada tempat yang salah, tentang niat baik yang dibalas licik, tentang seseorang yang jatuh bukan karena ia lemah, tapi karena ia percaya pada tangan yang seharusnya tidak ia percaya.
Di tengah pertunjukan, laki-laki itu duduk lebih tegak. Ada satu rasa getir yang pelan-pelan muncul. Bukan karena ia merasa hidupnya semegah kisah wayang. Justru karena luka manusia sehari-hari kadang sangat kecil bentuknya, tapi tetap membawa pola yang sama: ia juga pernah percaya. Pernah mengira sedang dituju. Pernah mengira dirinya dipilih. Padahal selama ini ia cuma dipakai untuk membuat seseorang punya tempat singgah sebelum kembali ke masa lalunya sendiri.
Dan anehnya, mengetahui bahwa pengkhianatan sudah jadi cerita manusia sejak lama tidak membuat dadanya lebih ringan. Tapi setidaknya malam itu ia tidak merasa bodoh sendirian.
Waktu pertunjukan selesai, hujan tinggal sisa. Ia keluar bersama penonton lain. Langkah pelan. Pikiran lebih padat dari sebelumnya.
Malamnya ia pulang ke hostel dengan langkah pelan. Jogja masih basah. Lampu-lampu memantul di jalan. Kaosnya sudah hampir kering sendiri. Capek menumpuk di lutut dan pundak.
Di kamar hostel, ia menjatuhkan tubuh ke kasur sambil masih pakai celana.
Lalu membuka notes di ponselnya.
Judulnya masih sama:
hal-hal yang ingin kulakukan sebelum hidupku terlalu sibuk
Di bawah kata Jogja, ia menambahkan satu baris baru:
hari pertama selesai. aku enggak hancur.
Kalimat itu tidak puitis. Tidak juga besar. Tapi cukup jujur untuk membuatnya tersenyum sedikit sebelum tidur.
Sesudah itu ia membuka email tiket pesawat sekali lagi. Satu arah. Tanpa jadwal pulang.
Kali ini ia tidak merasa panik melihatnya. Ia cuma merasa, mungkin untuk sekarang memang itu yang paling ia butuhkan. Bukan kepastian. Cuma sedikit jarak dari hidup lamanya, dan beberapa hari untuk melihat apakah dirinya masih bisa merasa ingin tinggal di dunia.
Keinginannya sederhana. Ia cuma ingin sesudah patah hati ini, hidupnya tidak habis untuk mengenang orang yang pergi, tapi pelan-pelan mulai diisi kota-kota yang dulu sempat ia tunda sendiri.