UNSENT
Correspondence #33

99 Keinginan #33

From: Tama To: Nadine

Sesudah Nadine datang ke rumah itu, aku sempat menulis banyak hal yang tidak jadi kukirim. Tentang memperbaiki, tentang rencana yang tidak sampai, tentang lelah memulai hidup dari awal. Pada akhirnya, surat itu tidak pernah sampai ke mana-mana karena aku baru paham: kadang bentuk terakhir dari cinta adalah berhenti mengganggu orang yang tidak memilihmu.

Log Status
Written31 Mar 2026
StatusDraft Deleted

"Ada pesan-pesan yang tidak perlu diteruskan agar hidup bisa tetap tenang."

Sesudah Nadine pulang dari rumah itu, aku tidak langsung tidur.

Gelas tehnya masih ada di teras. Bekas bibirnya samar di pinggir kaca. Kolam ikan di depan masih berbunyi pelan. Dan rumah yang selama ini kupikir akan menenangkanku justru terasa terlalu luas malam itu.

Aku melihat bekas itu lebih lama dari yang perlu. Tipis sekali, tapi masih ada warna yang tertinggal. Aku hafal kebiasaan Nadine yang satu itu. Ia selalu bilang bibir yang pucat bikin wajahnya ikut kelihatan capek. Karena itu, ke mana pun pergi, di tasnya hampir selalu ada satu lipstik.

Aku pernah menemaninya lama sekali cuma buat pilih warna. Berpindah dari satu toko ke toko lain. Duduk di kursi kecil depan cermin. Melihat punggung tangannya penuh garis-garis warna.

"Yang ini terlalu tua enggak?" tanyanya sambil menoleh.

Lalu aku, seperti laki-laki yang sudah terlalu senang dilibatkan dalam hal-hal kecil, benar-benar belajar membedakan mana merah yang terlalu berani, mana cokelat yang terlalu gelap, mana warna yang menurutnya bikin bibirnya terlihat hidup.

Kadang ia menghapusnya lalu coba lagi. Kadang ia mendekat ke kaca, memiringkan wajah, lalu bertanya sekali lagi seolah pendapatku penting sekali.

"Kalau buat sore, mending yang ini," kataku suatu hari.

Ia tersenyum. "Kamu sekarang udah jago."

Mungkin cinta memang sering tumbuh dari hal-hal seperti itu. Bukan cuma dari janji besar, tapi dari kesediaan duduk lama di bawah lampu toko kosmetik, menunggu seseorang merasa cantik dengan tenang.

Dan malam itu, melihat bekas bibirnya di pinggir kaca rumahku sendiri, aku justru merasa paling sedih karena aku tahu persis warna-warna kecil yang dulu membuatnya senang, tapi tetap gagal jadi orang yang benar-benar ia pilih untuk tinggal.

Aku duduk sendirian di ruang tamu. Dinding maroon itu tampak lebih gelap kena lampu malam. Ponselku di meja sejak tadi menyala lalu padam. Ada keinginan kecil yang bodoh sekali untuk membuka chat Nadine, lalu mengetik sesuatu sebelum keberanian itu hilang.

Aku sempat membuka kolom pesan. Lama.

Jempolku bergerak sendiri.

Kalau suatu hari pilihanmu ternyata tidak mencintaimu balik, temui aku.

Aku baca sekali. Lalu kuhapus.

Aku mengetik lagi.

Kalau memang ada yang salah kemarin, entah salahku atau salahmu, gimana kalau kita perbaiki lagi saja?

Hapus.

Ketik lagi.

Aku capek mulai dari awal terus. Tapi kalau sama kamu, dulu aku mau.

Hapus lagi.

Ada hal-hal yang kelihatannya seperti keberanian, padahal sebenarnya cuma sisa putus asa yang belum sempat duduk tenang.

Malam itu aku belum benar-benar ikhlas. Aku hanya sedang terlalu lelah untuk terus terdengar tegar.

Aku bangkit, ke dapur, lalu kembali bawa kotak kecil dari laci bawah. Kotak itu sudah kubeli hampir tiga bulan lalu. Warnanya krem. Isinya hand mixer kecil yang dulu pernah Nadine tunjuk di etalase toko rumah tangga.

"Lucu ya. Kalau nanti dapurku ada beginian, aku pasti lebih rajin bikin kue."

Nadine memang suka bikin kue. Tapi yang paling ia banggakan selalu cheesecake.

Ia pernah gagal dua kali waktu bikin itu. Sekali terlalu retak di tengah. Sekali lagi bagian bawahnya masih terlalu lembek waktu dipotong.

Hari itu ia kesal setengah mati. Tepung di meja dapur berantakan. Wajahnya kusut. Tapi minggu depannya ia coba lagi.

Dan waktu akhirnya jadi, ia datang ke aku sambil bawa kotak putih kecil.

"Coba."

Aku masih ingat rasa kejunya yang lembut dan dingin itu. Tidak terlalu manis. Bagian bawahnya pas. Dan Nadine berdiri di depanku dengan mata terang seperti anak kecil yang baru berhasil menyalakan lampu sendiri.

"Enak, kan?"

Aku mengangguk. "Enak banget."

Ia tersenyum lebar sekali malam itu. Senyum puas orang yang akhirnya berhasil setelah dua kali gagal.

Waktu itu ia bilang dapurku sambil tertawa. Aku mendengarnya sebagai dapur kita. Mungkin itu salahku. Mungkin dari awal aku memang terlalu gampang menambahkan arti pada kalimat yang belum selesai.

Hand mixer itu belum pernah kubuka dari dusnya. Aku menabung sedikit-sedikit buat membelinya. Setelah potong cicilan tanah. Setelah bayar tukang. Setelah kebutuhan lain yang lebih masuk akal.

Dan aneh sekali rasanya menyadari: di waktu aku masih sibuk menyisihkan uang untuk membeli benda yang kau suka, kau justru sedang sibuk menimbang apakah masa depan bersamaku layak dipilih atau tidak.

Itu bagian yang paling lama melukai. Bukan cuma karena kamu pergi. Tapi karena aku pernah mencintaimu dengan sangat sungguh di saat kamu sendiri belum selesai menentukan arah.

Jam sebelas lewat, Yuda menelepon. Mungkin karena sore tadi aku sempat kirim foto gelas teh di teras dan cuma bilang, dia datang.

"Lo di rumah?" tanyanya.

"Iya."

"Gue ke sana."

Aku bilang tidak usah. Ia tetap datang.

Yuda selalu begitu. Beberapa orang menyelamatkan kita bukan dengan kalimat bijak, tapi dengan kebiasaan datang tanpa menunggu diundang dua kali.

Ia datang pakai kaus hitam kusut dan sandal jepit. Masuk tanpa banyak basa-basi. Lihat kotak hand mixer di meja. Lihat wajahku. Lalu duduk di lantai ruang tamu sambil mengusap tengkuk.

"Masih mau kirim pesan ke dia?" tanyanya.

Aku tidak jawab.

Yuda tertawa pendek. "Berarti iya."

Aku menyandarkan kepala ke dinding. "Gue cuma kepikiran... apa mungkin masih bisa diperbaiki."

Ia menoleh. "Perbaiki apanya?"

"Entahlah. Yang kemarin salah gue, yang salah dia. Apa pun."

"Tama." Suaranya datar. "Lo tuh kadang terlalu setia sama kemungkinan."

Aku diam.

"Dia datang ke rumah yang lo bangun sendiri, liat semuanya, bilang menyesal, terus apa?" lanjutnya. "Lo mau mulai lagi dari awal, terus nunggu dia bingung lagi?"

Kalimat itu menusuk karena terlalu dekat dengan hal yang sebenarnya sudah kutahu.

"Gue cuma..." aku berhenti sebentar. "Gue cuma sedikit sedih."

"Sedih karena?"

Aku menatap ruang tamu itu. Krem, maroon, abu-abu, dan suara air kecil dari luar.

"Karena ternyata rencana kita enggak sampai ke tempat yang dulu pernah kita bahas berdua."

Yuda mengangguk pelan. Untuk beberapa detik ia tidak bercanda. Mungkin karena beberapa luka memang tidak sopan kalau langsung ditertawakan.

"Wajar kalau lo sedih," katanya akhirnya. "Yang enggak wajar itu kalau lo terus maksa tinggal di tempat yang jelas-jelas enggak milih lo."

Aku menunduk.

"Angkat dagu lo, bajingan" katanya lagi. "Dengar gue baik-baik. Lo royal. Lo loyal. Lo serius. Yang rugi dia."

Aku tertawa kecil. "Bangsat."

"Ya memang." Ia ikut tertawa. "Tapi bener, kan?"

Aku mengusap muka sendiri. Capekku terasa sampai ke tulang.

"Gue tuh malu, Yud."

"Kenapa?"

"Karena setelah semua ini, gue masih kepikiran pengin bilang ke dia kalau kalau pilihannya enggak balik milih dia, dia bisa datang ke gue."

Yuda langsung menoleh. "Nah itu. Itu yang harus lo berhentiin."

Ia menunjuk dadaku, bukan ponselku.

"Lo bukan rumah singgah buat orang yang gagal dicintai pilihannya sendiri."

Ruang tamu mendadak sunyi. Hanya ada suara kipas angin dari dapur dan air kolam di luar.

Yuda berdiri, jalan ke teras, lalu balik lagi bawa dua gelas air putih. Ia menaruh satu di depanku.

"Cinta itu bukan lomba tahan paling lama," katanya. "Dan setia itu bagus, tapi kalau dipakai buat nunggu orang ragu-ragu terus, jadinya nyakitin diri sendiri."

Aku menatap layar ponsel yang masih terbuka di kolom chat Nadine. Kursor kecil itu berkedip-kedip. Seolah menunggu keputusan yang sudah terlalu lama kutunda.

"Lo tahu enggak yang paling bikin gue kesel?" lanjut Yuda. "Lo ini sampai nabung buat beliin dia hadiah yang dia suka, sementara dia malah balik ke masa lalu yang dari awal bikin dia bingung. Bayangin, Tam. Lo lagi nyusun rumah, nabung, nyiapin hadiah, dan di waktu yang sama hati lo dijadiin tempat cadangan. Enggak adil."

Aku menelan ludah. Ada beberapa kalimat yang kalau datang dari kepala sendiri terdengar dramatis, tapi waktu diucapkan orang lain justru terasa seperti kebenaran yang telat dibukakan pintu.

Malam itu Yuda pulang hampir jam satu. Sebelum pergi, ia menepuk pundakku keras sekali.

"Kalau besok lo masih mau nangis, nangis aja," katanya. "Tapi habis itu lo beresin hidup lo lagi. Rumah ini udah jadi. Jangan kasih orang yang salah hak buat bikin lo ikut runtuh di dalamnya."

Sesudah pintu kututup, rumah kembali sepi. Tapi sepi yang itu berbeda. Tidak lagi seperti ruang kosong yang menungguku jatuh. Lebih seperti jeda panjang sebelum seseorang bicara jujur pada dirinya sendiri.

Aku duduk lagi. Buka chat Nadine sekali lagi. Bukan untuk mengirim yang tadi. Justru untuk menulis sesuatu yang akhirnya membuat dadaku terasa lebih lapang.

Nadine,

aku sempat ingin mengajakmu memperbaiki semuanya. Aku sempat ingin pura-pura bahwa yang kemarin cuma salah waktu, salah langkah, atau salah suasana. Aku sempat ingin bilang kalau kamu bisa datang lagi kalau pilihanmu ternyata tidak mencintaimu seperti yang kamu harapkan.

Tapi itu tidak adil buat aku.

Aku capek jadi orang yang selalu siap menampungmu setelah kamu selesai bingung di tempat lain.

Aku juga capek menyiapkan masa depan sambil menunggu kamu memutuskan apakah aku memang ada di dalamnya atau tidak.

Aku berhenti. Menatap layar. Lalu lanjut lagi.

Aku cuma sedikit sedih waktu sadar rencana kita berhenti di tengah jalan, padahal dulu kita pernah membahasnya pelan-pelan seperti orang yang benar-benar akan sampai.

Tapi mungkin memang ada hal-hal yang tidak gagal karena kurang cinta. Kadang mereka selesai karena satu orang siap membangun, sementara yang lain masih sibuk menoleh ke belakang.

Dadaku terasa panas. Tapi kali ini bukan panas yang membuatku ingin memohon. Lebih seperti luka yang akhirnya berani dibersihkan, meski perih.

Aku mengetik kalimat terakhir.

Sebagai tindakan terakhir dari cintaku padamu, aku memilih mundur. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku tidak akan mengirim pesan sesudah ini, tidak akan menunggu balasanmu, dan tidak akan berharap kamu tiba-tiba berubah pikiran.

Aku pernah mengira cinta itu soal bertahan selama mungkin. Sekarang aku tahu, kadang cinta juga soal tahu kapan harus berhenti mengetuk pintu yang tidak dibukakan.

Aku sudah memberimu banyak bagian dari tenagaku. Sekarang aku ingin mengembalikan sisanya ke hidupku sendiri.

Aku harap kamu menemukan yang memang kamu cari. Dan kalau suatu hari kamu mengingatku, semoga bukan dengan rasa bersalah, tapi dengan cukup jujur untuk mengakui bahwa aku pernah mencintaimu dengan sungguh.

Aku membaca semuanya dari atas sampai bawah. Lama.

Itu surat paling jujur yang pernah kutulis untuknya. Dan mungkin justru karena itu, aku tahu surat itu tidak perlu dikirim.

Ada beberapa hal yang harus selesai di dalam dada dulu, bukan di kotak masuk orang lain.

Aku menyalin teksnya ke catatan. Lalu menghapus seluruh isi chat. Kolom yang tadi penuh akhirnya kosong lagi.

Ponselku kupadamkan. Kotak hand mixer itu kubawa ke dapur. Belum kubuka juga. Entah nanti akan kupakai sendiri, entah akan kuberikan ke orang lain, aku belum tahu.

Aku berdiri cukup lama di depan kitchen set abu-abu yang baru selesai dipasang minggu lalu. Di atas mejanya ada gelas, piring kecil, dan ruang kosong yang dulu sempat kubayangkan akan diisi loyang hangat atau potongan kue yang baru keluar dari oven.

Mungkin itu yang paling membuatku muram. Aku tidak kalah karena kurang sayang. Aku kalah karena sayangku datang ke orang yang salah, di waktu orang itu masih sibuk membuktikan bahwa ia belum selesai dengan dirinya sendiri.

Kalau aku mau jujur sepenuhnya, aku tidak marah sebesar itu. Aku cuma lelah. Lelah berharap pada orang yang kebiasaannya selalu membuatku menebak-nebak. Lelah merasa aku harus lebih sabar, lebih paham, lebih tenang, hanya supaya hubungan itu tidak pecah. Lelah jadi orang yang terus menahan pintu supaya masa depan tidak keburu ditutup seseorang yang masih menoleh ke belakang.

Dan justru karena lelah itu akhirnya terasa sampai ke tulang, aku mulai mengerti sesuatu yang selama ini kutolak: aku tidak perlu membuktikan apa pun lagi. Tidak perlu membuktikan kalau aku cukup sabar. Tidak perlu membuktikan kalau aku bisa jadi pilihan yang lebih baik. Tidak perlu membuktikan kalau aku pantas diperjuangkan.

Kalau suatu hari aku terlihat baik-baik saja, itu bukan karena aku lupa. Itu karena aku akhirnya berhenti memohon pada hal yang sudah berkali-kali memilih pergi.

Sementara itu, beberapa jalan dari rumahku, Nadine belum benar-benar bisa pulang ke dirinya sendiri.

Di perjalanan pulang, ia beberapa kali hampir minta motornya berhenti. Bukan karena ingin muntah. Lebih karena dadanya penuh sekali. Lampu-lampu toko lewat sebagai garis-garis pendek di sisi jalan. Angin malam dingin di lengan. Tapi tidak ada yang cukup kuat untuk mengusir kalimat-kalimat Tama dari kepalanya.

Ia duduk di jok belakang dengan tangan mencengkeram ujung jaket sendiri. Napasnya pendek-pendek. Ada rasa sesak yang aneh di tengah dada, seperti menangis yang tertahan tapi tidak menemukan jalan keluar. Beberapa kali ia menelan ludah hanya untuk memastikan dirinya tidak benar-benar roboh di jalan.

Ia membayangkan lagi wajah Tama waktu membuka pintu. Tenang. Tidak tinggi suaranya. Tidak memaki. Tidak juga memohon. Justru itu yang membuat penyesalannya terasa lebih berat. Kalau Tama marah besar, mungkin Nadine masih bisa pulang sambil diam-diam menyalahkan keadaan. Tapi Tama terlalu tenang. Dan ketenangan orang yang sudah lelah berharap sering kali jauh lebih menghukum daripada bentakan.

Sampai di kos, ia tidak langsung ganti baju. Tasnya masih tersandar di kursi. Sepatu belum dilepas. Lampu kamar kosnya kuning dan redup.

Begitu pintu tertutup, Nadine berdiri cukup lama membelakangi kamar. Seolah kalau ia bergerak sedikit saja, semua yang ditahannya sejak tadi akan jatuh berantakan. Tenggorokannya kering. Ujung jarinya dingin. Dan untuk pertama kalinya setelah lama, ia merasa benar-benar sendirian dengan pilihannya sendiri.

Ia membuka lagi foto rumah yang tadi sempat ia lihat. Krem di ruang tamu. Maroon di sisi kiri. Abu-abu di dapur. Kolam ikan kecil di depan.

Rumah itu membuat satu hal jadi terlalu jelas untuk dibantah: ada orang yang sungguh-sungguh membangun masa depan, dan ada orang yang terlalu lama sibuk memastikan apakah ia berani tinggal di dalamnya.

Ponselnya bergetar. Nama yang dulu ia pilih muncul lagi di layar. Orang yang sempat ia kira bisa menjadi pulang hanya karena suaranya sudah terlalu akrab.

Nadine menatap nama itu lama sekali. Lalu membiarkannya berdering sampai mati.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus menjelaskan apa-apa.

Ia hanya duduk di sana, memeluk lutut, lalu menyadari sesuatu yang selama ini ia tunda karena terlalu takut terdengar jahat: ia bukan lagi bertahan karena cinta. Ia bertahan karena sudah terlalu lama terbiasa capek.

Ia hafal rasanya menunggu balasan yang datang sesukanya. Hafal rasanya menebak-nebak nada bicara orang yang hari ini bisa lembut, besok bisa asing. Hafal rasanya merasa harus lebih sabar, lebih paham, lebih tenang, hanya supaya hubungan itu tidak pecah. Dan lebih melelahkan lagi, ia hafal rasanya jadi orang yang terus menahan pintu supaya masa depan tidak keburu ditutup seseorang yang masih menoleh ke belakang.

Air matanya jatuh pelan. Bukan tangis yang meledak. Lebih seperti rasa sesal yang terlalu lama ditunda, lalu akhirnya menetes sedikit demi sedikit.

Ia sedih bukan cuma karena Tama mungkin benar-benar akan pergi. Ia sedih karena akhirnya paham bahwa ada bagian dari hidup yang rusak bukan karena orang lain merebutnya, tapi karena ia sendiri terlalu takut tinggal di sesuatu yang baik.

Dan rasa itu menyesakkan sekali. Karena penyesalan selalu datang belakangan. Selalu datang sesudah pilihan selesai diambil, sesudah seseorang terlanjur lelah, sesudah rumah yang dulu hanya dibicarakan sudah benar-benar punya pintu, warna, dan suara air sendiri.

Di kepala Nadine, suara Tama datang lagi. Tenang. Tidak memaksa. Tidak juga memohon.

Dan yang paling menyakitkan justru itu. Ia baru menyadari nilai sebuah ketenangan setelah terlalu lama hidup di tempat yang memaksanya terus siaga.

Ia membuka chat Tama. Kolomnya kosong. Tidak ada pesan baru.

Nadine menatap layar lama sekali, lalu mengetik pelan:

Aku hanya sedikit sedih ketika menyadari rencana kita tidak pernah sampai ke tujuan yang dulu kita bahas berdua.

Ia berhenti. Menghapus setengah kalimat. Mengetik lagi.

Aku enggak tahu apakah orang sepertiku masih pantas minta waktu.

Hapus.

Ketik lagi.

Aku capek hidup di tempat yang selalu bikin aku ragu.

Ia menatap kalimat itu. Lama. Lalu memindahkannya ke catatan. Bukan ke chat.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah lama, Nadine tidak mengejar siapa pun. Ia hanya duduk di tepi ranjang, membiarkan ponselnya diam, dan menerima kenyataan yang paling telat datang: orang yang baik bisa datang di waktu yang salah, tapi itu tidak berarti kita berhak menjadikannya tempat singgah sambil memutuskan hati di tempat lain.

Menjelang subuh, aku keluar ke teras. Udara dingin. Kolam ikan bergerak pelan. Langit belum terang.

Rumah ini akhirnya benar-benar sunyi. Tapi untuk pertama kalinya, sunyi itu tidak terdengar seperti kalah.

Keinginanku sederhana saja. Aku ingin sesudah ini punya hati yang cukup sehat untuk tidak lagi memanggil pulang orang yang sejak awal tidak benar-benar tinggal.

Dari dalam rumah, ponselku yang tadi kupadamkan menyala lagi karena kuhubungkan ke charger sebelum subuh. Layar kecilnya berkedip satu kali di meja dapur. Nama Nadine sempat muncul di permukaannya.

Aku tidak langsung masuk.