5 Menit

99 Keinginan #32

Aku datang ke rumah itu setelah melihat fotonya di media sosial. Waktu itulah aku sadar, yang paling menyakitkan bukan karena Tama membangunnya tanpa aku, tapi karena aku sempat memilih kembali ke masa lalu yang ternyata cuma membuatku bingung.

Aku melihat foto rumah itu waktu sore baru turun.

Ruang tamunya krem. Ada satu dinding maroon di sisi kiri. Dapurnya abu-abu. Dan di depan, kolam ikan kecil itu akhirnya benar-benar ada.

Foto itu sederhana. Caption-nya juga singkat.

akhirnya jadi juga

Tapi justru karena sesederhana itu, dadaku terasa penuh.

Aku menekan like lebih dulu. Lalu duduk lama sambil menatap layar yang sudah padam.

Tama benar-benar membangunnya. Sendirian.

Rumah yang dulu hanya kami bicarakan sambil tertawa sekarang berdiri nyata. Tanpa suaraku. Tanpa pilihanku. Tanpa kebingunganku.

Dan tiba-tiba aku merasa malu. Bukan malu karena ditinggal. Tapi malu karena baru sadar betapa sering aku menyebut masa lalu sebagai rumah, padahal yang kupegang cuma rasa familiar. Yang membuatku paling sesak justru karena aku sempat begitu dekat dengan sesuatu yang baik, lalu memilih hal yang sudah kukenal meski aku tahu ujungnya akan menyakitkan.

Di jalan menuju rumah itu, aku sempat berhenti sebentar di dekat halte. Ada lagu dari radio warung roti yang terdengar pelan:

bila tubuhku membiru, akankah kau datang, sayang

Aku tidak sengaja mendengarnya utuh. Tapi potongan itu cukup untuk membuat kepalaku langsung pindah ke Tama.

Cara Tama menunggu tanpa berteriak. Cara Tama tidak pernah memaksa aku menjelaskan diriku saat aku sedang kacau. Cara Tama menaruh teh di depanku tanpa harus menjadikan itu pertunjukan. Cara Tama membuatku merasa seperti manusia yang sedang hidup, bukan barang yang harus diperbaiki.

Dan justru karena itu, aku takut. Karena yang baik memang sering terasa asing kalau kita terlalu lama hidup di dekat yang salah.

Dan di saat yang sama, aku ingat mantanku. Ia selalu bilang mau berubah. Selalu bilang kali ini berbeda. Selalu bilang ia ingin pulang, ingin memperbaiki, ingin serius.

Tapi yang kuingat justru adalah kebiasaan lamanya: memanggilku kalau butuh, menghilang kalau aku butuh, lalu datang lagi dengan janji yang sama.

Baru saat itu aku sadar. Yang dulu kukira cinta ternyata cuma harapan yang memakai wajah lama. Dan yang benar-benar membuatku tenang justru orang yang tak pernah memintaku jadi versi yang lebih mudah ditelan.

Aku menghubunginya malam itu.

Bisa ketemu?

Tidak ada balasan lama. Lalu cuma satu jawaban pendek:

Kalau mau, datang.

Aku tahu kalimat itu bukan undangan hangat. Itu lebih mirip jalan yang dibukakan, lalu disuruh memilih sendiri apakah aku mau masuk atau tidak.

Jalan ke rumahnya terasa lebih sunyi dari biasanya.

Di sepanjang perjalanan, aku terus memikirkan satu hal yang sederhana dan menyakitkan: aku pernah begitu dekat dengan sesuatu yang baik, lalu memilih sesuatu yang lama hanya karena terasa lebih mudah dikenali.

Orang sering mengira yang paling kuat itu cinta yang besar. Padahal kadang yang paling kuat justru kebiasaan. Kebiasaan tahu jalannya. Kebiasaan mengerti nada suaranya. Kebiasaan merasa aman hanya karena semuanya pernah terjadi sebelumnya.

Aku keliru mengira kenal berarti cocok. Aku keliru mengira rindu berarti benar.

Dan di situlah aku mulai kalah.

Rumah itu lebih hangat dari yang kubayangkan.

Saat pintu terbuka, bau cat baru masih samar-samar tertinggal di udara. Aku bisa melihat ruang tamu dari depan: krem, bersih, tenang. Satu dinding maroon membuatnya tidak terlalu lembut. Dapur abu-abu terlihat rapi tanpa perlu banyak alasan. Dan dari luar, kolam ikan kecil itu mengeluarkan suara air yang pelan sekali.

Tama berdiri di ambang pintu. Ia tidak tersenyum lebar. Ia juga tidak terlihat marah. Justru itu yang membuatku tidak bisa pura-pura kuat.

"Kamu datang," katanya.

Aku mengangguk. "Aku lihat rumahnya."

"Ya."

Nada suaranya datar. Bukan dingin yang marah. Lebih seperti orang yang sudah selesai berharap pada apa pun yang lama-lama tidak memilihnya.

Hening sebentar. Lalu aku masuk satu langkah.

Di dalam rumah, semuanya terasa lebih nyata daripada semua pesan yang pernah kukirim.

"Kamu beneran bangun ini semua," kataku.

"Iya."

Kalimatnya pendek. Tapi justru karena pendek, semua alasan yang sempat kubawa terasa bodoh.

Aku menelan ludah.

"Aku pikir aku masih punya waktu."

Tama menatapku lama. Lalu berkata, datar tapi tidak kasar,

"Itu yang bikin kamu balik ke dia?"

Aku terdiam.

Karena jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak.

Aku kembali pada masa laluku bukan karena masa lalunya baik. Aku kembali karena masa lalu selalu tahu cara memanggil namaku dengan suara yang sudah kukenal sejak lama. Ia kasar, tapi familiar. Ia menyakitkan, tapi akrab. Ia membuatku bingung, tapi tidak membuatku harus memulai dari nol.

Dan aku terlalu lelah untuk mulai dari nol.

Itu kebenarannya yang paling menyedihkan.

Aku menunduk.

"Aku enggak pilih dia karena dia lebih baik," kataku pelan. "Aku pilih dia karena aku takut mulai hidup yang baru."

Tama diam. Ia menunggu aku selesai.

"Aku tahu itu bodoh," lanjutku. "Aku tahu aku sudah dikasih sesuatu yang lebih sehat, lebih tenang, lebih jelas. Tapi waktu itu yang tenang justru terasa asing. Yang jelas justru bikin takut. Aku keburu balik ke sesuatu yang sudah kukenal, walaupun ujungnya tetap nyakitin."

"Aku kira aku lagi milih cinta," lanjutku. "Ternyata aku cuma milih rasa yang lama. Yang bikin aku enggak perlu mulai dari nol."

Aku menatap dinding maroon di ruang tamu. Warna yang dulu pernah kukira hanya soal selera. Sekarang terasa seperti pengingat bahwa tidak semua yang indah harus kembali ke masa lalu untuk bisa disebut rumah.

"Aku menyesal," kataku akhirnya.

Tama tidak langsung menjawab.

Aku tahu ia mendengarnya. Aku juga tahu penyesalan seperti itu datang terlambat. Datangnya sesudah rumah jadi. Sesudah kolam ikan berisi. Sesudah seseorang belajar bangun sendiri.

"Aku datang bukan buat minta kamu balas," kataku cepat, karena aku takut ia mengira aku masih mau memutar semuanya. "Aku cuma... pengin bilang aku baru sadar."

"Sadar apa?"

Aku menatapnya.

"Kalau yang kita sebut cinta membuat kita terus kembali ke hal yang sama, mungkin itu bukan cinta. Mungkin cuma kebiasaan yang belum berani kita putus."

"Dan kalau yang satu membuatmu tenang, sementara yang lain cuma membuatmu terus menebak-nebak, mestinya aku tahu mana yang seharusnya kupilih."

Tama menghela napas. Lama. Pelan.

"Kamu tahu yang paling susah?" katanya.

Aku menggeleng.

"Bukan waktu kamu pergi."

Ia berhenti sebentar.

"Yang paling susah itu waktu aku harus tetap membangun rumah ini sambil tahu orang yang dulu ikut milih warna malah memilih tempat lain."

Aku menutup mata sebentar. Kalimat itu tidak keras. Tapi masuk seperti benda yang jatuh pelan lalu retaknya panjang.

Aku ingin bilang banyak hal. Tentang rasa takut. Tentang mantan yang selalu tahu caranya memanggil. Tentang bagaimana aku sempat mengira kembali ke yang lama berarti kembali ke yang aman. Tentang bagaimana aku dibodohi oleh perasaanku sendiri, bukan oleh orang lain.

Tapi saat itu aku sadar, penjelasan tidak bisa mengganti pilihan. Dan penyesalan tidak bisa memundurkan rumah yang sudah berdiri.

Aku duduk di teras cukup lama sebelum akhirnya pulang.

Dari kursi itu, aku bisa melihat kolam ikan kecil di depan rumah bergerak pelan. Airnya tenang. Tidak banyak suara. Tapi hidup tetap berjalan.

Tama keluar sebentar membawa dua gelas teh dingin. Ia menaruh satu di sampingku tanpa banyak bicara.

"Minum dulu," katanya.

Aku menatap gelas itu.

Hal sederhana. Tapi justru itu yang paling menyakitkan.

Karena dulu, perhatian kecil seperti ini sering membuatku merasa dipilih. Sekarang aku tahu, perhatian saja tidak cukup kalau hatiku sendiri masih terus lari ke belakang.

"Rumah ini jadi lebih bagus dari yang pernah kita bayangin," kataku pelan.

"Iya."

"Sayang aku telat lihatnya."

Tama menatap kolam ikan, bukan ke aku.

"Banyak hal memang jadi telat kalau dipaksa nunggu seseorang selesai sama masa lalunya."

Aku ingin membantah. Tapi aku tahu ia benar.

Dan mungkin itulah yang paling dewasa dari kami berdua malam itu: bukan saling memaksa mengerti, tapi mengakui bahwa ada pilihan yang sudah selesai.

Aku berdiri saat langit mulai gelap. Sebelum benar-benar pergi, aku menoleh sekali lagi ke rumah itu.

Ruang tamu krem. Dinding maroon. Dapur abu-abu. Kolam ikan kecil.

Semua yang dulu hanya obrolan kini sudah punya bentuk. Dan aku, yang dulu memilih masa lalu karena takut memulai masa depan, akhirnya cuma bisa berdiri di ambang pintu sambil belajar menerima bahwa ada hidup yang selesai tanpa kita.

Di jalan pulang, aku baru sadar: yang membuatku sedih bukan karena Tama membangun rumah itu tanpa aku. Yang membuatku sedih adalah karena aku sempat berada sangat dekat dengan masa depan, lalu menyerah demi sesuatu yang hanya terasa akrab.

Keinginanku malam itu berubah.

Aku tidak ingin lagi menyebut rasa takut sebagai pulang. Aku cuma ingin lain kali, kalau ada masa depan yang datang baik-baik, aku cukup berani tinggal di dalamnya sebelum semuanya terlambat.