EDISI #31
99 Keinginan

99 Keinginan #31

Kami pernah membicarakan rumah itu seperti orang-orang yang benar-benar punya masa depan. Dinding warna krem, sedikit maroon di ruang tamu, abu-abu di dapur, dan kolam ikan kecil di depan. Pada akhirnya ia memilih kembali ke masa lalunya, dan aku tetap membangun rumah itu seorang diri.

"Kalau suatu hari kita punya rumah, ruang tamunya jangan putih semua ya. Bosen."

Kalimat itu dulu terdengar manis. Sekarang justru jadi salah satu yang paling lama tinggal di kepalaku.

Waktu Nadine mengatakannya, kami sedang duduk di warung soto pinggir jalan, piring hampir kosong, langit habis hujan, dan masa depan terasa seperti sesuatu yang mungkin benar-benar bisa disentuh.

Ia bilang ruang tamu sebaiknya warna krem, hangat tapi tidak terlalu pucat. Ada satu dinding maroon supaya rumahnya tidak terasa datar. Dapur boleh abu-abu, karena menurutnya warna itu tenang dan gampang kelihatan bersih. Di depan rumah, ia ingin kolam ikan kecil.

"Biar ada yang gerak-gerak pas pagi," katanya sambil tertawa.

Aku ingat semuanya. Terlalu ingat, malah.

Masalahnya, waktu itu aku mengira kami sedang membicarakan masa depan yang sama. Padahal bisa jadi Nadine hanya sedang membayangkan sesuatu yang indah tanpa benar-benar berniat membangunnya bersamaku.

Ia perempuan yang baik. Setidaknya begitu yang selalu kubilang pada diriku sendiri waktu semuanya mulai kacau. Ia tidak kasar. Tidak pernah membentak. Tidak juga sengaja menghancurkan hidupku dengan cara yang kelihatan jahat.

Caranya salah justru karena terlihat lembut.

Ia tahu cara membuat laki-laki sepertiku merasa dipilih, tanpa benar-benar memilih. Ia tahu cara hadir, memberi waktu, memberi perhatian, lalu mundur satu langkah ketika aku mulai percaya.

Waktu aku baru bangkit dari masa sulit, Nadine ada di sana. Ia mendengar cerita-ceritaku. Ia tahu aku sedang berusaha menyusun hidup lagi. Ia tahu aku sedang belajar percaya bahwa masa depan masih ada.

Ia juga tahu bahwa aku sungguh-sungguh.

Itu sebabnya semuanya terasa lebih menyakitkan.

Kalau ia jahat sejak awal, mungkin aku tidak akan sejauh itu. Kalau ia dingin dari awal, mungkin aku bisa mundur lebih cepat.

Tapi Nadine datang seperti orang yang sedang serius. Ia membawaku bertemu bagian-bagian kecil dari hidupnya. Mengirim foto langit sore. Menanyakan aku sudah sampai rumah atau belum. Mengingatkan makan. Membahas cicilan, harga tanah, dan bentuk rumah seperti kami benar-benar akan sampai ke sana.

Pernah suatu malam kami berhenti cukup lama di depan satu rumah yang sedang dibangun di daerah pinggir kota. Dinding luarnya belum dicat. Lampu terasnya belum ada. Halamannya masih tanah kasar.

"Rumah setengah jadi kayak gini aja bikin aku tenang," katanya.

"Kenapa?"

"Karena kelihatan banget kalau orang yang bangun percaya ada sesuatu yang patut diselesaikan."

Waktu itu aku menoleh ke dia dan merasa, mungkin aku juga begitu. Mungkin aku sedang membangun sesuatu karena percaya ada seseorang yang patut diperjuangkan sampai selesai.

Kami bahkan sempat bertaruh soal pilihan. Bukan taruhan besar. Cuma percakapan bodoh yang waktu itu terasa lucu.

"Kalau suatu hari aku balik ke masa lalu, berarti kamu kalah," katanya sambil tertawa.

"Kalau suatu hari kita jadi bangun rumah itu, berarti aku menang."

"Hadiahnya apa?"

"Satu kolam ikan."

"Murah banget."

"Yaudah, dua."

Ia tertawa lama sekali malam itu. Dan aku, seperti laki-laki bodoh pada umumnya, mengira tawa adalah bukti yang cukup untuk mempercayai seseorang.

Konfliknya mulai terasa waktu nama yang dulu sering ia sebut sambil lalu mulai muncul lebih sering. Mantan.

Awalnya hanya cerita kecil. "Dia tadi ngechat lagi." "Dia minta maaf." "Dia bilang dulu dia bodoh."

Aku mencoba tenang. Berusaha jadi orang dewasa. Meyakinkan diriku bahwa masa lalu memang kadang datang cuma untuk pamit dengan benar.

Tapi ada hal-hal yang tubuh tahu lebih dulu daripada logika. Setiap kali Nadine menyebut namanya, ada bagian dalam diriku yang langsung siaga.

Ia mulai berubah pelan-pelan. Masih membalas, tapi jedanya lebih panjang. Masih datang, tapi pikirannya sering tidak benar-benar di tempat yang sama. Masih bicara rumah, tapi suaranya tidak lagi seterang dulu.

Aku bertanya beberapa kali. Ia selalu bilang tidak ada apa-apa.

Kalimat yang paling sering dipakai orang saat ada sesuatu yang tidak sanggup mereka akui.

Puncaknya datang sore hari di tanah kecil yang baru saja kubeli di pinggir kota. Tidak luas. Tapi cukup untuk satu rumah sederhana, teras depan, dan kolam ikan yang dulu kami jadikan bahan tertawaan.

Aku mengajaknya ke sana karena gambar awal dari tukang sudah jadi. Kertasnya kugulung rapi di jok motor. Aku bahkan sengaja mampir beli dua es teh sebelum berangkat.

Di lokasi, angin cukup kencang. Rumput liar bergerak pelan. Matahari hampir turun.

Aku membuka gambar itu di atas kap motor.

"Ini ruang tamunya," kataku. "Yang ini dinding krem. Yang sini maroon, sesuai maumu. Dapurnya abu-abu. Terus kolamnya di depan, kecil aja, enggak usah besar-besar."

Nadine diam. Terlalu diam.

Waktu aku mengangkat kepala, aku langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres. Nadine diam terlalu lama. Jari-jarinya meremas ujung jaket.

"Kamu kenapa?"

Ia menarik napas panjang.

"Aku harus ngomong sesuatu."

Di situ, bahkan sebelum kalimat berikutnya keluar, dadaku sudah mulai kosong.

"Aku balikan sama dia."

Tidak ada suara besar sesudah itu. Tidak ada hal dramatis. Angin tetap lewat. Rumput tetap bergerak. Es teh di tanganku masih dingin.

Dan mungkin memang begitu cara beberapa hidup pecah. Tidak dengan ledakan. Hanya dengan satu kalimat pendek yang membuat semua yang tadinya berdiri tegak tiba-tiba kehilangan tiang.

"Sejak kapan?" tanyaku.

"Belum lama."

Belum lama. Kalimat yang menyakitkan karena bisa berarti apa saja. Bisa tiga hari. Bisa dua minggu. Bisa saat aku masih sibuk memilih warna cat sambil percaya ia sedang menatap masa depan yang sama.

"Jadi selama ini?"

Nadine menunduk. "Aku enggak niat mainin kamu."

Aku tertawa kecil. Bukan karena lucu. Lebih karena kalimat itu terlalu sering dipakai orang yang hatinya salah arah.

"Tapi kamu tetap mainin."

Ia menangis. Aku tidak. Belum.

"Aku cuma bingung," katanya. "Aku sayang sama kamu. Aku nyaman sama kamu. Tapi sama dia itu... ada banyak hal yang belum selesai."

Aku menatap tanah kosong di depan kami. Tanah yang beberapa menit lalu masih terasa seperti awal.

"Kamu tahu enggak yang paling jahat dari semua ini?" tanyaku.

Nadine diam.

"Kamu datang ke hidupku waktu aku lagi berani-beraninya bangun masa depan. Kamu ikut milih warna. Ikut bikin aku percaya rumah itu ada penghuninya. Tapi ternyata dari awal kamu masih nyisain pintu buat masa lalumu masuk lagi."

Ia menangis lebih keras. "Aku enggak bermaksud—"

"Aku tahu."

Dan itu memang masalahnya.

Orang tidak harus berniat jahat dulu untuk menghancurkan seseorang. Kadang mereka cuma terlalu sibuk dengan kebingungan sendiri sampai lupa hati orang lain bukan tempat latihan memilih.

Malam itu aku pulang seperti orang yang baru kalah taruhan paling bodoh dalam hidupnya. Bukan karena aku kehilangan rumah itu. Rumahnya bahkan belum jadi.

Aku kalah karena ternyata sejak awal aku bertaruh sendirian.

Beberapa bulan sesudahnya aku hidup seperti mesin. Bangun, mandi, kerja, pulang, tidur. Menghindari lagu-lagu tertentu. Menghindari jalan yang pernah kami lewati. Menghindari tukang bangunan yang menanyakan, "Jadi lanjut, Mas?"

Yang paling menyakitkan bukan Nadine kembali ke masa lalunya. Yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa aku sempat menyerahkan rencana hidupku ke orang yang ternyata masih ragu memilih arah.

Tapi tanah itu sudah kubeli. Gambar itu sudah kubuat. Dan entah kenapa, setelah cukup lama duduk bersama rasa marah dan malu, aku sadar satu hal:

Kalau rumah itu batal dibangun hanya karena ia pergi, berarti dari awal aku memang membangunnya untuk ditinggali bayangan, bukan diriku sendiri.

Jadi aku lanjut.

Awalnya pelan. Ngobrol lagi dengan tukang. Ngukur ulang. Menghapus beberapa bagian yang terlalu dibuat untuk berdua. Mempertahankan beberapa yang memang kusuka sejak awal.

Ruang tamunya tetap krem. Bukan karena Nadine. Karena ternyata aku juga suka warna yang hangat.

Satu dinding tetap kubuat maroon. Bukan untuk mengenangnya. Tapi karena setelah dipikir-pikir, rumah memang butuh satu bagian yang berani.

Dapurnya abu-abu. Tenang. Bersih. Tidak banyak alasan.

Dan kolam ikan itu tetap kubuat di depan. Kecil saja. Isinya tidak banyak. Tapi setiap pagi selalu ada gerak kecil yang mengingatkanku bahwa hidup, sesederhana apa pun, tetap harus dijaga.

Waktu rumah itu akhirnya jadi, aku datang sendirian membawa sandal, sapu baru, dan satu termos kopi. Catnya belum hilang benar aromanya. Lantai masih dingin. Pintu depan agak seret waktu dibuka pertama kali.

Aku berdiri cukup lama di ruang tamu. Menatap dinding krem, maroon, dapur abu-abu, dan suara air kecil dari kolam depan yang masuk samar-samar.

Yang kurasakan bukan menang. Bukan juga balas dendam.

Lebih seperti lega karena akhirnya ada satu hal dalam hidupku yang benar-benar selesai tanpa menunggu siapa pun berubah pikiran.

Sore itu, tanpa banyak pikir, aku memotret beberapa sudut rumah. Ruang tamu krem dengan dinding maroon di sisi kiri. Dapur abu-abu yang bersih dan masih terlalu rapi. Kolam ikan kecil di depan yang airnya baru setengah penuh.

Lalu aku unggah ke media sosial. Tidak dengan caption panjang. Cuma:

akhirnya jadi juga

Beberapa teman mengucapkan selamat. Ada yang bercanda minta diajak ngopi di teras. Ada yang bilang rumahnya hangat walaupun cuma dilihat dari layar.

Menjelang malam, namanya muncul.

Nadine menyukai unggahan itu lebih dulu. Beberapa menit sesudahnya, masuk pesan darinya.

Tama...

Lalu jeda cukup lama.

rumahnya jadi persis seperti yang dulu kita omongin

Aku membaca kalimat itu sekali. Lalu sekali lagi.

Ada orang yang baru mengerti apa yang ia tinggalkan setelah melihat wujud nyatanya di depan mata.

Pesan berikutnya masuk.

aku senang lihatnya

Sesudah itu:

dan entah kenapa aku juga sedih

Aku duduk di lantai ruang tamu. Membiarkan punggungku bersandar ke dinding maroon yang dulu ia pilih sambil tertawa.

Untuk pertama kalinya setelah lama, aku tidak marah membaca namanya. Yang datang justru sesuatu yang lebih sunyi. Semacam paham bahwa Nadine memang tidak pernah sepenuhnya jahat. Ia cuma kalah oleh perasaannya sendiri. Kalah oleh hal-hal lama yang tidak benar-benar selesai. Kalah oleh cinta yang ia kira masih harus diselamatkan, padahal justru membodohinya sampai tidak bisa membedakan mana kenangan, mana masa depan.

Dan mungkin itu yang paling menyedihkan. Kadang seseorang tidak menghancurkanmu karena ia tidak punya hati. Kadang ia justru terlalu sibuk membereskan hatinya sendiri yang kusut, sampai lupa bahwa kebingungannya sedang melukai orang lain.

Aku mengetik balasan. Menghapus. Mengetik lagi.

Akhirnya yang kukirim hanya:

iya, akhirnya jadi

Ia langsung membalas.

aku pernah benar-benar pengin tinggal di rumah itu

Kalimat itu telat. Begitu telat sampai tidak ada lagi yang bisa dibaiki olehnya.

Aku tahu ia menyesal. Bukan menyesal dengan cara yang ribut. Bukan juga menyesal yang cukup besar untuk mengubah masa lalu. Hanya jenis penyesalan yang datang waktu semuanya sudah selesai, waktu rumahnya sudah berdiri, kolam ikannya sudah berisi, dan orang yang dulu menunggumu ternyata tetap hidup tanpa kamu.

Aku tidak membalas lagi.

Bukan karena masih dendam. Tapi karena untuk pertama kalinya aku mengerti, ada pesan-pesan yang tidak perlu diteruskan agar hidup bisa tetap tenang.

Aku pernah pikir rumah itu akan jadi bukti kalau aku berhasil dipilih. Ternyata rumah itu justru jadi bukti kalau aku bisa tetap hidup meski tidak.

Ada orang-orang yang memilih masa lalunya karena belum cukup berani memulai masa depan. Dan ada orang-orang yang, setelah dihancurkan pilihan itu, tetap harus belajar memegang semen, cat, dan dirinya sendiri agar sesuatu tetap berdiri.

Di rumah yang akhirnya jadi itu, aku tahu keinginanku berubah.

Aku tidak lagi ingin membangun sesuatu bersama orang yang masih setengah hati menghadap ke belakang. Aku cuma ingin kalau suatu hari ada yang masuk ke rumah ini, ia datang dengan langkah yang utuh.