4 Menit

99 Keinginan #30

"Syukur masih ada yang mau terima kamu." Kalimat itu tidak pernah diucapkannya sambil berteriak. Justru karena keluar dengan tenang, ia tinggal lebih lama, sampai aku benar-benar percaya bahwa direndahkan adalah harga yang wajar untuk tetap dicintai, bahkan setelah aku sempat tahu rasanya diperlakukan dengan baik.

"Syukur masih ada yang mau terima kamu."

Kalimat itu tidak pernah diucapkannya sambil berteriak. Justru karena keluar dengan tenang, ia tinggal lebih lama.

Lebih lama daripada makiannya. Lebih lama daripada pintu yang dibanting. Lebih lama daripada semua malam ketika lelaki itu pergi lalu kembali lagi seperti amarah yang hafal alamat.

Ia tidak pernah mengetuk dengan sopan. Tiga kali cepat. Satu kali keras. Lalu diam sebentar.

Malam itu jam hampir sebelas ketika suara itu datang lagi. Aku sedang melipat baju kerja di lantai, dengan kipas kecil yang bunyinya seret dan teh yang sudah dingin di meja. Begitu mendengar ketukan itu, tubuhku langsung tahu siapa yang datang bahkan sebelum aku sempat berpikir.

Harusnya aku diam saja. Harusnya aku membiarkannya berdiri di luar sampai lelah. Harusnya aku sudah belajar dari semua malam sebelumnya.

Tapi ada kebiasaan buruk yang lama-lama menyamar jadi cinta.

Aku tetap membuka pintu.

Rafi berdiri di sana dengan kaus hitam kusut, mata merah, dan bau rokok yang menempel di rambutnya. Di tangannya ada helm. Di wajahnya ada kemarahan yang bahkan tidak repot-repot ditutupi.

"Lama banget."

Kalimat pertamanya selalu seperti itu. Bukan halo. Bukan maaf ganggu.

Aku bergeser memberi jalan. Ia masuk tanpa menunggu dipersilakan.

Kami putus dua bulan lalu setelah ia melempar ponselku ke dinding karena aku menolak memberikan password Instagram. Layarnya pecah. Akunya tetap tidak kuberikan. Malam itu ia pergi sambil bilang aku perempuan paling bikin capek yang pernah ia kenal. Besoknya ia kirim pesan panjang, minta maaf, bilang emosinya sedang jelek. Dua hari kemudian ia datang bawa kopi. Seminggu sesudahnya ia datang lagi karena katanya cuma ingin ngobrol. Lalu sejak itu ia tidak pernah benar-benar pergi.

Padahal di antara putus itu, aku sempat bertemu laki-laki lain. Namanya Damar. Aku kenal dia dari Lala. Tidak heboh. Tidak pandai bikin deg-degan dengan cara yang melelahkan. Ia cuma baik.

Kalau aku lembur, ia mengirim pesan menanyakan aku sudah makan atau belum. Kalau aku flu, ia datang bawa bubur, obat, dan air mineral tanpa banyak bicara. Pernah lampu kamar kosku mati, dan ia datang malam-malam cuma untuk menggantinya lalu pulang setelah memastikan saklarnya normal lagi. Kalau kami makan, ia selalu lebih dulu menuangkan air minum ke gelasku. Kalau hujan, ia berdiri di sisi jalan yang kena cipratan.

Ia royal tanpa membuatku merasa berutang. Ia loyal tanpa membuatku merasa dia sedang menjaga tawanan. Ia memperlakukanku dengan cara yang sangat sederhana, tapi entah kenapa justru itu yang membuatku gelisah.

Pernah sekali kami keluar makan, dan ia memindahkan sambal karena tahu aku tidak kuat pedas. Lalu ia bilang, "Pelan-pelan aja makannya. Enggak usah buru-buru."

Kalimat sesederhana itu membuatku diam cukup lama. Aku tidak terbiasa diperlakukan selembut itu. Aku tidak terbiasa dipikirkan sampai ke hal kecil. Ada bagian dalam diriku yang justru merasa salah waktu diperlakukan seperti ratu, seolah-olah perhatian semacam itu terlalu baik untuk orang sepertiku.

Waktu itu aku tidak paham. Sekarang aku tahu, ada luka yang membuat perempuan lebih akrab dengan perlakuan buruk daripada kasih sayang yang sehat. Kalau terlalu lama hidup di dekat marah, perhatian bisa terasa asing. Ketika ada orang baik datang, kita malah curiga. Kita kira yang lembut itu berlebihan. Kita kira yang kasar itu biasa.

Dan di situlah aku membuat kesalahan paling bodoh.

Rafi datang lagi, bilang ia berubah. Aku bilang pada Damar aku belum siap membuka hati. Kalimat yang lebih jujur seharusnya begini: aku sudah terlalu terbiasa disakiti sampai kebaikan terasa tidak masuk akal. Aku kembali pada lelaki yang membuatku sesak, lalu meninggalkan lelaki yang bahkan tidak pernah meninggikan suara.

Kadang datang buat minta maaf. Kadang datang buat marah. Kadang datang cuma untuk memastikan pintuku masih bisa dibuka olehnya.

Malam itu ia duduk di kursi plastik dekat meja, lalu menatap tumpukan baju yang belum masuk lemari.

"Kamu habis dari mana tadi?"

"Dari kantor."

"Sama siapa?"

Aku menatapnya.

"Rafi, kita sudah putus."

Ia tertawa pendek. Tawa yang tidak pernah terdengar hangat.

"Jangan mulai."

Aku diam. Sudah terlalu sering aku melihat malam bergerak ke arah yang sama.

"Aku cuma nanya."

"Dan aku cuma jawab."

Ia menoleh cepat. Rahangnya mengeras.

"Nadanya enggak usah begitu."

Aku hampir ingin tertawa karena bahkan nadaku pun masih harus dijaga di rumahku sendiri. Tapi aku terlalu lelah untuk lucu.

"Kamu ngapain datang malam-malam?"

"Kangen."

Jawaban itu seharusnya terdengar lembut. Di mulutnya, justru terasa seperti ancaman.

Ia berdiri. Berjalan mondar-mandir di kamar sempitku. Tangannya memegang helm terlalu keras.

"Kamu tuh ya," katanya sambil menatapku, "selalu bikin orang ngomong kasar."

Aku menatap ujung jemariku. Ada sisa detergen yang belum hilang dari kuku telunjuk.

"Aku enggak bikin kamu ngomong kasar."

"Oh, jadi aku salah terus?"

"Aku enggak bilang begitu."

"Tapi kamu mikir begitu."

Ia selalu pandai membuat percakapan terasa seperti jebakan. Kalau aku diam, aku dianggap menantang. Kalau aku menjawab, aku dianggap melawan. Kalau aku menangis, aku dibilang drama. Kalau aku tenang, aku dibilang dingin.

Pernah suatu sore Lala, sahabatku, bilang satu hal yang waktu itu tidak benar-benar kudengar.

Kalau seseorang datang cuma untuk melampiaskan amarahnya, yang ia cari bukan kamu. Ia cuma cari tempat yang aman untuk jadi jahat.

Waktu itu aku membela Rafi. Bilang ia tidak seburuk itu. Bilang ia sebenarnya sayang. Bilang ia cuma tidak pandai bicara.

Perempuan memang sering lebih setia pada alasan-alasan daripada pada lukanya sendiri.

"Jawab aku," kata Rafi lebih keras.

Aku mengangkat kepala.

"Apa?"

"Tadi habis dari mana?"

"Kantor."

"Jangan bohong sama aku."

Ia mendekat. Tidak cukup sampai memukul. Tapi cukup dekat untuk membuatku otomatis mundur satu langkah. Tubuhku sudah hafal gerakan itu. Itu bagian yang paling membuatku malu. Ternyata sebelum kepala mengaku takut, tubuh bisa lebih dulu belajar.

"Kamu kira enggak ada yang lihat kamu ketawa-ketawa sama cowok di parkiran?"

Aku langsung tahu maksudnya. Rian dari tim finance tadi memang mengantarku sampai depan gerbang kantor karena hujan. Kami cuma bicara soal printer lantai tiga yang rusak lagi. Hal paling biasa di dunia.

"Itu teman kerja."

"Teman kerja, teman kerja." Ia menirukan suaraku sambil tertawa sinis. "Semua juga awalnya teman kerja."

"Perempuan kayak kamu tuh harusnya tahu diri."

Aku memejamkan mata sebentar.

"Rafi, pulang."

Ia menatapku seperti baru saja kutampar.

"Apa?"

"Pulang."

"Kamu ngusir aku?"

"Kita sudah putus."

Kalimat itu akhirnya keluar utuh. Terlambat dua bulan, tapi malam itu untuk pertama kalinya aku tidak mengecilkan suara waktu mengucapkannya.

Ia mendekat lagi.

"Putus dari mana? Kamu aja masih nerima aku datang."

Dan itulah kalimat yang paling menyakitkan. Bukan karena salah. Justru karena benar.

Aku masih nerima. Masih membuka pintu. Masih mendengarkan makiannya. Masih berdiri diam waktu ia menyebutku perempuan enggak tahu diri, enggak punya otak, bikin laki-laki naik darah.

Dan yang paling jahat, ia sering menyelipkan kalimat itu dengan wajah tenang, seolah sedang menolongku memahami kenyataan.

"Syukur masih ada yang mau terima kamu."

Pertama kali ia mengatakannya, kami bahkan belum putus. Waktu itu aku menangis karena ia membatalkan janji lagi. Ia menatapku sebentar, lalu berkata seperti orang yang sedang memberi nasihat,

"Sikap kamu kayak gini, cerewet, nangisan, maunya dimengerti terus. Syukur aku masih mau terima."

Kalimat itu tinggal lebih lama daripada makiannya. Karena makian terdengar kasar, tapi yang seperti itu masuk pelan-pelan dan mulai terdengar seperti kebenaran kalau kamu mendengarnya cukup sering.

Sesudahnya, setiap kali ia marah, aku jadi sibuk memeriksa diri sendiri. Mungkin aku memang terlalu sensitif. Mungkin aku memang kebanyakan menuntut. Mungkin aku memang sulit dicintai.

Padahal pernah ada seseorang yang tidak membuatku merasa terlalu banyak. Pernah ada laki-laki yang mengantarku pulang, menunggu angkotku jalan dulu, lalu baru pergi. Pernah ada yang mengganti galon tanpa diminta, mengingat merek roti favoritku, dan menaruh obat di meja tanpa merasa sedang jadi pahlawan.

Aku yang mengacaukannya. Bukan karena aku tidak tahu mana yang baik. Tapi karena aku sudah terlalu lama salah mengenali cinta. Aku lebih percaya pada hubungan yang membuatku menebak-nebak daripada pada seseorang yang hadir dengan niat jelas.

Aku sering bilang pada diriku sendiri bahwa aku bertahan karena cinta. Padahal mungkin yang tertinggal cuma kebiasaan. Takut sendirian. Takut memulai lagi. Takut mengakui bahwa selama ini aku sudah memberi terlalu banyak pada orang yang salah.

Ada cinta yang membuatmu tumbuh pelan-pelan, membuatmu nyaman jadi dirimu sendiri, membuatmu tidak takut salah bicara, tidak takut meminta, tidak takut sekadar jadi manusia yang kadang lelah dan berantakan. Ada juga cinta yang membuatmu hidup dalam keadaan siaga, sibuk menyusut supaya tidak memancing marah, sibuk memperbaiki nada suara, cara duduk, cara menjawab, sampai akhirnya kamu selalu merasa kurang bahkan di depan dirimu sendiri.

Kalau setiap kali ia datang aku harus mengatur wajah, suara, dan napas supaya tidak memancing ledakan, itu bukan cinta. Itu cuma hidup dalam keadaan siaga.

Cinta tidak pernah diciptakan untuk membenarkan makian. Tidak juga untuk membuat perempuan merasa beruntung hanya karena masih dipilih oleh orang yang terus menyakitinya.

Rafi masih bicara. Suara tinggi. Kata-kata kasar. Semua terdengar seperti malam-malam sebelumnya. Tapi entah kenapa, kali ini aku justru merasa sangat lelah. Bukan takut. Bukan sedih. Lelah.

Lelah menjadi rumah bagi kemarahan orang lain. Lelah menyebut sisa harga diri sebagai setia. Lelah mengira cinta bisa menggantikan hormat.

Ia menunjuk wajahku.

"Ngapain sih pasang muka kayak gitu? Merasa paling tersiksa?"

"Kalau bukan aku, memang siapa yang tahan sama kamu?"

Aku menatap tangannya. Lalu menatap pintu yang masih terbuka. Lalu menatap pantulan diriku di kaca jendela.

Rambut berantakan. Kaos rumah kusam. Mata capek.

Tiba-tiba aku sadar aku sudah lama sekali tidak terlihat seperti perempuan yang sedang hidup. Lebih mirip orang yang terus menunggu ledakan berikutnya.

Dan lebih menyedihkan lagi, aku sudah terlalu lama melihat diriku sendiri lewat matanya.

Kalau semua yang kamu punya cuma cinta, hati-hati, kata Lala pernah bilang. Cinta sendirian bisa bikin orang rela hidup tanpa harga diri lalu menyebutnya setia.

Malam itu kalimat itu akhirnya benar-benar sampai.

"Rafi," kataku.

Ia masih marah. "Apa lagi?"

"Keluar."

Ia tertawa.

"Serius?"

"Iya."

"Kalau aku enggak mau?"

Aku berjalan ke pintu. Membukanya lebih lebar.

"Keluar."

Suara tanganku gemetar. Tapi kalimatnya tidak.

Ia menatapku lama. Mungkin menunggu aku lunak seperti biasa. Mungkin menunggu aku minta maaf seperti malam-malam yang lalu.

Aku tidak.

Untuk pertama kalinya, aku lebih takut kehilangan diriku sendiri daripada kehilangan dia.

Ia mengumpat. Mengambil helmnya. Lalu berjalan ke pintu sambil menendang kaki kursi plastik sampai bergeser sedikit.

"Enggak ada yang bakal tahan sama kamu."

Aku menggenggam gagang pintu lebih erat.

"Kalau harus ditahan dengan cara begini, memang enggak usah ada yang tinggal."

Ia berhenti sebentar. Mungkin kaget karena aku akhirnya menjawab. Lalu ia keluar.

Aku menutup pintu. Menguncinya. Lalu berdiri di sana dengan napas pendek dan tangan dingin.

Kamar itu tiba-tiba sangat sepi. Kursi plastik miring. Teh di meja sudah dingin sekali. Tumpukan baju masih di lantai.

Aku tidak langsung menangis. Aku duduk dulu. Merapikan napas dulu. Memastikan ia benar-benar pergi.

Baru beberapa menit kemudian, saat aku sadar malam ini tidak ada lagi yang harus kutenangkan selain diriku sendiri, mataku mulai panas.

Aku menangis bukan karena masih ingin dia tinggal. Aku menangis karena akhirnya mengerti betapa rendahnya aku memandang diriku sendiri selama ini.

Karena aku pernah berpikir tidak apa-apa dimaki, asal masih dicari. Tidak apa-apa direndahkan, asal masih dibilang sayang. Tidak apa-apa pulang dengan dada sesak, asal tidak sendirian.

Bodoh memang kadang bukan soal kurang pintar. Bodoh bisa juga berarti tahu itu menyakitkan, tapi tetap menyebutnya cinta karena belum berani hidup tanpa itu. Bodoh bisa juga berarti pernah dipertemukan dengan yang baik, lalu tetap kembali ke yang melukai karena yang sehat terasa terlalu asing.

Kalau ada perempuan lain yang hidupnya mulai mirip hidupku malam itu, aku ingin bilang sesuatu yang dulu tidak berani kukatakan pada diriku sendiri.

Kalau kamu merasa salah waktu diperlakukan baik, itu bukan karena kamu tidak layak. Itu cuma tanda kamu terlalu lama hidup di tempat yang salah.

Kalau hubungan itu sudah mati, jangan dipanggil pulang cuma karena kamu takut sepi. Yang sudah selesai tidak selalu harus dihidupkan lagi. Ada hal-hal yang memang membaik setelah dibiarkan benar-benar pergi. Dan cinta tidak pernah jadi alasan yang cukup untuk tetap tinggal di tempat yang terus merendahkanmu.

Malam itu aku baru mengerti, harga diri tidak selalu pergi dalam satu kejadian besar. Ia sering hilang pelan-pelan, setiap kali kita membuka pintu untuk orang yang sudah berkali-kali membuktikan bahwa ia tidak datang membawa hormat.

Dan di kamar sempit dengan kursi yang masih miring dan teh yang keburu dingin itu, aku akhirnya tahu satu hal yang paling kuinginkan.

Aku ingin bisa mencintai diriku sendiri lebih besar daripada kebiasaanku memaafkan laki-laki yang salah.