4 Menit

99 Keinginan #29

Di umur dua puluh tiga, aku membeli kue ulang tahun untuk diriku sendiri dan baru sadar ada anak kecil di dalam tubuh ini yang belum pernah benar-benar dirayakan. Bukan karena ia tidak dicintai, tapi karena hidup waktu itu terlalu sibuk bertahan.

Di umur dua puluh tiga, aku membeli kue ulang tahun untuk diriku sendiri dan baru sadar ada anak kecil di dalam tubuh ini yang belum pernah benar-benar dirayakan.

Bukan karena aku tidak dicintai. Bukan juga karena ibuku atau orang-orang yang membesarkanku jahat.

Hidup kami waktu itu cuma terlalu sibuk bertahan.

Waktu kecil, ulang tahun di rumah tidak pernah datang sebagai hari yang istimewa. Kadang ibu cuma mengucapkan selamat pagi lalu buru-buru menanak nasi sebelum berangkat kerja. Kadang tante sedang sibuk menjemur cucian orang. Kadang tanggalnya lewat begitu saja, lalu baru diingat dua hari kemudian sambil tertawa kecil dan bilang, "yah, lupa."

Aku tidak marah waktu itu. Anak kecil cepat belajar mengerti kalau rumah terlalu sering kekurangan.

Yang kami hitung bukan lilin. Bukan hadiah. Bukan balon.

Yang kami hitung beras. Tagihan listrik. Uang seragam. Sisa ongkos sampai akhir minggu.

Jadi aku tumbuh jadi anak yang tidak banyak minta. Kalau lihat teman membawa goodie bag ulang tahun ke sekolah, aku ikut senang sambil diam-diam pulang membawa rasa yang tidak tahu harus ditaruh di mana. Kalau lihat kue tart di etalase toko, aku cuma berdiri sebentar lalu lanjut jalan. Kalau ibu bilang, nanti ya kalau ada uang lebih, aku mengangguk seperti anak yang sudah paham dunia lebih dulu daripada umurnya.

Padahal aku dulu anak yang gampang sekali menangis. Kalau mobil-mobilan rusak, menangis. Kalau sandal putus di jalan, menangis. Kalau jatuh waktu main bola dan lutut lecet sedikit, juga menangis.

Tante Yuli biasanya langsung tertawa.

"Udah, udah. Jangan nangis. Kamu jelek kalau nangis."

Ibu akan menyahut dari dapur, biarin aja, memang dari sananya cengeng. Lalu mereka berdua tertawa, dan entah kenapa aku sering ikut tertawa juga meski air mataku belum benar-benar berhenti.

Masalahnya, ada beberapa hal yang tubuh ingat lebih lama daripada kepala.

Jadi waktu ulang tahunku yang kedua puluh tiga datang, aku tiba-tiba ingin melakukan sesuatu yang terdengar bodoh.

Hari itu gaji baru masuk. Kerjaanku biasa saja. Tidak buruk. Tidak juga hebat. Aku makan siang sendirian di warung ayam geprek dekat kantor sambil membaca ucapan selamat di grup keluarga dan grup kerja. Semua terasa normal.

Tapi pulang kantor, kakiku malah berhenti di depan toko kue kecil dekat lampu merah.

Di etalasenya ada black forest mini, brownies cokelat, dan tart buah yang terlalu ramai. Aku berdiri cukup lama sampai mbak penjualnya keluar dan bertanya mau cari yang mana.

"Yang kecil saja," kataku.

"Buat berapa orang?"

Pertanyaan itu sederhana. Tapi entah kenapa membuat tenggorokanku terasa kering.

"Satu."

Mbak itu tidak tertawa. Tidak terlihat heran. Ia cuma mengangguk lalu mengambil kotak kue yang tidak terlalu besar.

"Mau ditulis?"

Aku hampir bilang tidak. Sudah sampai di ujung lidah.

Tapi malam itu aku capek sekali terus-terusan mengecilkan hal-hal yang sebenarnya ingin kurasakan utuh.

"Iya," kataku.

"Tulis apa, Mas?"

Aku diam sebentar. Lalu menjawab pelan,

"Selamat ulang tahun."

"Namanya?"

Aku menyebut namaku sendiri, dan aneh sekali bagaimana dua suku kata itu terdengar lebih gugup waktu ditujukan kepadaku.

Dari toko kue aku tidak langsung pulang. Aku mampir ke minimarket. Membeli satu lilin angka dua dan tiga. Satu botol teh kotak dingin. Satu bungkus keripik kentang.

Lalu, tanpa rencana, aku menyeberang ke toko mainan kecil yang sudah hampir tutup.

Di sana aku melihat mobil-mobilan remote yang dulu sering kulihat dari luar kaca waktu pulang sekolah. Bukan yang mahal sekali. Tapi tetap cukup mahal untuk ukuran rumah kami dulu.

Waktu aku masih kelas tiga SD, aku pernah minta satu. Ibu bilang nanti kalau uangnya sudah agak longgar. Tapi tahun itu ada terlalu banyak yang harus didahulukan. Sesudahnya aku tidak pernah minta lagi.

Malam itu aku membeli mobil-mobilan warna biru tua dengan remote hitam sederhana. Kasirnya bertanya,

"Buat adik, Mas?"

Aku hampir menjawab iya karena itu lebih mudah. Tapi aku lelah sekali terus-terusan menyembunyikan hal kecil yang sebenarnya rapuh.

"Buat saya."

Kasirnya tersenyum.

"Oh. Bagus ini. Bannya kuat."

Sesederhana itu. Tapi kalimat itu tinggal cukup lama di kepalaku.

Kosku sempit. Ada meja lipat. Ada kipas kecil yang bunyinya kadang seret. Ada satu kursi plastik. Ada jemuran handuk di belakang pintu.

Malam itu aku menaruh kue di meja. Menyalakan lampu paling kecil. Melepas sepatu. Duduk. Lalu menatap semuanya seperti orang yang baru sadar ia tidak pernah belajar merayakan dirinya sendiri.

Kue kecil. Teh kotak. Keripik kentang. Mobil-mobilan biru.

Tidak mewah. Tidak juga sedih. Tapi tanganku gemetar waktu membuka kotaknya.

Aku menancapkan lilin angka dua dan tiga pelan-pelan. Krim cokelatnya sedikit menempel di jari. Kujilat tanpa berpikir. Manis sekali.

Di kamar sebelah ada orang tertawa keras sambil main game. Di lorong, seseorang sedang video call dengan ibunya. Di luar jendela, motor lewat satu-satu.

Aku mematikan lampu utama. Menyalakan lilin. Lalu duduk sendiri di depan api kecil itu.

Tidak ada yang menyanyikan lagu. Tidak ada yang merekam. Tidak ada yang bilang make a wish.

Aku justru jadi bingung. Keinginan apa yang harus kupikirkan kalau yang paling kuinginkan malam itu sebenarnya sudah ada di depan mata. Aku cuma sedang terlambat memberikannya.

Lalu aku meniup lilinnya.

Dan justru setelah api kecil itu padam, dadaku mulai terasa penuh.

Aku teringat semua ulang tahun yang lewat biasa saja. Nasi goreng bungkus yang dimakan sambil nonton televisi. Ibu yang bilang maaf belum sempat beli apa-apa. Bapak yang menepuk kepalaku sambil bilang tahun depan ya, padahal kami semua tahu tahun depan belum tentu lebih longgar.

Aku tidak pernah menyalahkan mereka. Sampai sekarang juga tidak.

Tapi malam itu aku akhirnya mengerti, memahami keadaan tidak selalu berarti luka itu hilang.

Ada anak kecil dalam diriku yang dulu terlalu cepat belajar bilang tidak apa-apa. Terlalu cepat bilang enggak usah. Terlalu cepat pura-pura tidak ingin apa-apa supaya rumah tidak merasa makin sempit.

Aku membuka mobil-mobilan itu pelan-pelan. Memasang baterainya. Mencobanya di lantai keramik kos yang sempit. Mobil itu bergerak miring sedikit ke kiri. Lalu menabrak kaki kursi plastik.

Aku tertawa. Benar-benar tertawa. Bukan karena lucu sekali. Mungkin karena untuk pertama kalinya setelah lama aku melihat sesuatu yang kubeli bukan karena butuh, melainkan karena dulu aku pernah ingin.

Sesudah itu aku duduk lagi. Makan kue langsung dari kotaknya. Minum teh kotak dingin. Membiarkan remah keripik jatuh ke meja.

Di tengah hal-hal kecil itu, mataku mulai panas.

Aku menangis pelan. Bukan tangis yang keras. Lebih seperti sesuatu yang akhirnya menemukan jalan keluar setelah lama tidak diberi tempat.

Aku menangis untuk anak kecil yang terlalu cepat belajar mengerti. Untuk semua keinginan kecil yang dulu kuberi tahu supaya diam dulu. Untuk ulang tahun yang lewat tanpa lilin. Untuk hadiah-hadiah yang tidak pernah jadi dibeli. Untuk versi diriku yang sering sekali terlihat tenang padahal sebenarnya cuma sudah terbiasa tidak meminta.

Di tengah tangis itu, entah dari mana, aku malah ingat suara Tante Yuli.

"Jangan nangis. Kamu jelek kalau nangis."

Kalau tante ada di kamar itu malam itu, mungkin ia akan tetap bilang begitu sambil tertawa. Dan mungkin aku akan tetap kesal setengah mati, lalu tetap menangis juga.

Malam itu aku baru tahu, merayakan diri sendiri tidak selalu berarti bahagia besar. Kadang itu cuma berarti duduk di kamar sempit, meniup lilin sendirian, lalu membiarkan anak kecil di dalam dirimu mendengar satu hal.

Bahwa terlambat bukan berarti tidak jadi.

Setelah tangisku reda, kue itu tinggal setengah. Krimnya berantakan. Lilin angkanya miring. Mobil-mobilan biru itu masih diam dekat kaki kursi.

Tidak ada apa-apa yang sempurna. Tapi untuk pertama kalinya, malam itu terasa cukup.

Dan di depan sisa kue, lilin yang padam, dan mainan yang seharusnya datang bertahun-tahun lalu, aku akhirnya tahu keinginanku sederhana sekali. Aku cuma ingin anak kecil itu tahu bahwa ia tidak pernah terlalu merepotkan untuk dirayakan.