4 Menit

99 Keinginan #28

Mereka menyalakan lilin, menyuruhku tersenyum, lalu bertepuk tangan ketika aku meniupnya. Malam itu aku sadar, ada orang-orang yang begitu lama hidup dalam mode bertahan sampai bahkan hari bahagia pun terasa seperti tugas yang selesai dikerjakan.

Mereka menyalakan lilin sebelum aku sempat duduk.

Di pantry kantor, lampu putih terlalu terang. Brownies dari toko depan dipotong buru-buru. Ada kopi dingin, plastik garpu, dan buket bunga murah yang dibeli entah oleh siapa.

"Cepat, cepat. Dia datang," bisik Dita.

Lalu lagu ulang tahun dinyanyikan dengan nada berantakan. Ada yang salah lirik. Ada yang sibuk merekam. Ada yang bertepuk tangan terlalu semangat.

"Satu lilin buat ulang tahun, satu lagi buat promosi," kata Arga.

Semua orang tertawa.

Aku ikut tersenyum. Lalu meniup lilin. Lalu mengucapkan terima kasih. Lalu berfoto. Lalu menerima ucapan selamat satu per satu.

Semuanya kulakukan dengan benar.

Masalahnya cuma satu.

Aku tidak merasakan apa-apa.

Bukan karena ini bukan hari baik. Aku tahu ini hari baik. Naik jabatan. Ulang tahun. Orang-orang yang mengingat.

Tapi yang ada cuma kosong.

Seperti tubuhku tahu apa yang harus dilakukan saat sesuatu yang menyenangkan terjadi, tapi bagian dalam diriku tidak ikut datang.

"Lo kenapa datar banget?" tanya Dita sambil menyenggol lenganku. "Harusnya senang, dong."

Aku tersenyum lagi.

"Senang, kok."

Kalimat itu keluar terlalu mudah. Seolah aku sudah sering memakainya.

Dan memang begitu.

Sudah hampir setahun aku hidup seperti itu.

Waktu proyek divisi kami gagal dan satu tim dimarahi direksi, aku tidak panik. Aku cuma membuka laptop lagi dan mulai memperbaiki hal-hal yang masih bisa diperbaiki. Waktu ibuku masuk rumah sakit karena gula darahnya naik, aku tidak menangis di lorong IGD. Aku cuma menandatangani formulir, beli makan, lalu menelepon adikku. Waktu laki-laki yang selama dua tahun terakhir paling sering ada di sampingku memilih pergi, aku juga tidak menangis. Aku cuma duduk, mendengarkan, lalu bilang, iya, kalau itu yang kamu mau.

Namanya Naren.

Ia bukan cinta yang meledak-ledak. Ia datang dengan sabar. Dengan kebiasaan kecil yang rapi. Mengirim makan siang waktu aku lupa makan. Mengingatkan minum air putih. Datang ke kos sambil membawa jeruk kalau aku batuk. Membelikanku makanan yang kubilang enak sekali tiga bulan lalu, padahal aku sendiri sudah lupa pernah bilang.

Orang seperti Naren tidak sulit dicintai. Yang sulit adalah tetap terasa hidup di dekat orang yang begitu telaten menjagamu.

Awalnya ia mengira aku cuma capek kerja. Lalu ia mengira aku sedang banyak pikiran. Lalu ia mengira aku butuh waktu.

Lama-lama ia mulai mengerti bahwa masalahnya bukan suasana hati yang buruk. Masalahnya, aku memang hampir tidak pernah benar-benar bereaksi lagi.

Waktu ia mengajakku makan malam di tempat baru, aku bilang terserah. Waktu ia menunjukkan lagu yang menurutnya indah, aku cuma bilang bagus. Waktu ia datang bawa kabar bahwa lamaran beasiswanya lolos tahap akhir, aku memeluknya sebentar lalu bertanya besok jadi berangkat kantor jam berapa.

Ia tidak langsung marah. Naren bukan tipe seperti itu.

Ia justru terus mencoba.

Pernah satu malam ia datang ke kos dengan sekotak martabak mini dan dua lilin angka.

"Buat apa?" tanyaku.

"Buat ngerayain kamu berhasil lewat tiga bulan paling sinting di kantor tanpa resign."

Aku tertawa kecil.

"Aneh banget."

"Emang," katanya. "Makanya lucu."

Ia tetap menyalakan lilinnya. Memaksaku duduk. Menyuruhku meniup. Lalu bertepuk tangan sendirian setelahnya.

Aku ikut tertawa. Tapi hanya di mulut.

Naren pasti tahu itu. Ia selalu tahu.

Pecahnya bukan di hari besar. Bukan di ulang tahun. Bukan di malam hujan.

Pecahnya justru pada hari Minggu siang yang sangat biasa.

Ia datang bawa dua gelas es teh dan satu kabar baik. Presentasi proyeknya diterima klien besar. Wajahnya terang sekali waktu bercerita. Tangannya bergerak ke sana-sini. Ia bahagia dengan cara yang penuh.

Aku duduk di lantai, mendengarkan, sambil melipat baju yang sudah kering.

"Terus nanti tim gue kemungkinan dibawa ke Bali tiga hari," katanya. "Kalau jadi, gue pengin banget nambah sehari. Kita ke laut. Mau, ya?"

Aku mengangguk kecil.

"Lihat nanti."

Ia diam.

"Lihat nanti itu mau atau enggak?"

"Tergantung kerjaan."

Ia menatapku lama. Bukan marah. Lebih seperti orang yang kelelahan menunggu pintu dibuka sedikit saja.

"Aku lagi cerita hal yang bikin aku senang, Na."

"Iya, aku dengar."

"Tapi kamu enggak ada di sini."

Kalimat itu sederhana. Tapi pas.

Aku berhenti melipat baju.

"Aku ada."

"Secara badan, iya."

Setelah itu heningnya panjang. Kipas angin di sudut kamar bunyinya gesek-gesek kecil. Dari luar ada tukang bakso lewat. Seseorang menyalakan motor berkali-kali karena mesinnya sulit hidup.

Naren meletakkan gelas es teh di meja tanpa meminumnya.

"Aku capek jadi satu-satunya orang yang terus berusaha bikin sesuatu terasa," katanya pelan.

Aku tidak langsung menjawab. Bukan karena tidak paham. Justru karena aku paham.

"Aku enggak tahu harus gimana," kataku akhirnya.

"Aku tahu."

"Aku lagi capek."

"Kamu udah capek terlalu lama sampai semuanya keburu mati."

Kalimat itu menghantam justru karena tidak terdengar seperti tuduhan. Lebih seperti laporan dari seseorang yang terlalu lama tinggal di tempat yang dingin.

"Aku sayang sama kamu," katanya. "Tapi aku enggak bisa terus hidup di sebelah orang yang bahkan waktu bahagia pun rasanya kayak lagi nunggu lift."

Sesudah itu ia pergi.

Tidak membanting pintu. Tidak menangis. Tidak memintaku menahannya.

Aku juga tidak menangis. Aku menutup pintu. Merapikan baju yang tadi belum selesai kulipat. Menyimpan satu gelas es teh ke kulkas. Membuang es teh satunya lagi yang mulai encer. Lalu mandi. Lalu besok pagi masuk kantor seperti biasa.

Orang-orang menyebut itu dewasa.

Bagus deh, kalian pisah baik-baik.

Lo kuat juga, ya.

Salut sih, tetap fokus kerja.

Tidak ada yang tahu barangkali itu bukan kuat. Barangkali itu cuma mati rasa yang sudah terlalu terlatih.

Malam ini, di pantry kantor yang penuh tepuk tangan, aku sadar aku masih hidup dengan cara yang sama. Orang-orang merayakan sesuatu yang bahkan tidak bisa kurasakan.

Setelah semua selesai, aku membawa sisa brownies dan buket bunga itu pulang ke kos.

Di lift, pantulanku terlihat rapi. Lipstik masih utuh. Blazer masih licin. Aku tampak seperti perempuan yang hidupnya sedang baik-baik saja.

Di kamar, aku melepas heels, menaruh tas, lalu duduk di tepi kasur tanpa mengganti baju. Kipas kecil berputar pelan. Di meja ada charger, sisir, dan dua gelas kaca yang salah satunya retak tipis di bibirnya.

Aku membuka bungkus brownies itu. Menggigit sedikit. Manis. Terlalu manis. Tetap saja tidak membuat apa-apa bergerak di dalam dadaku.

Pesan masuk terus berdatangan.

Bangga banget sama kamu.

Akhirnya naik juga.

Naren pasti nyesel lihat kamu sekarang.

Aku berhenti di pesan terakhir itu.

Naren pasti nyesel.

Kalimat itu aneh. Seolah keberhasilanku baru sah kalau bisa melukai orang yang dulu pergi. Padahal kalau Naren ada di sini malam ini, aku tahu persis ia tidak akan bicara soal promosi dulu. Ia akan melihat wajahku sebentar, lalu bertanya,

"Kamu benar-benar senang, enggak?"

Aku meletakkan ponsel. Telentang di kasur. Menatap langit-langit.

Di titik itulah aku mulai takut.

Bukan takut sendirian. Bukan takut putus. Bukan takut kerjaan baru.

Aku takut karena mungkin selama ini semua orang salah. Mungkin aku bukan dewasa. Mungkin aku cuma terlalu lama hidup dalam mode bertahan, sampai bahkan waktu sesuatu yang baik datang, aku cuma tahu cara menerimanya seperti menerima tugas baru.

Kubuka laci meja. Di dalamnya masih ada satu benda milik Naren yang belum sempat kukembalikan. Dua lilin angka dari martabak mini waktu itu. Salah satu ujungnya sudah meleleh.

Aku menatapnya cukup lama. Lalu membuka galeri ponsel.

Ada satu video dari malam itu. Naren sedang menancapkan lilin ke martabak sambil tertawa karena bentuknya miring. Aku dari balik kamera protes, bilang jelek. Ia menjawab, enggak apa-apa, yang penting dirayakan dulu.

Di video itu aku tertawa. Benar-benar tertawa. Bukan senyum sopan. Bukan suara tipis buat menyenangkan orang lain.

Aku memutar video itu sekali. Lalu sekali lagi. Lalu sekali lagi.

Di putaran keempat, layar mulai buram. Baru setelah itu aku sadar aku sedang menangis.

Bukan tangis yang rapi. Bukan tangis yang kuat.

Aku menangis sambil masih memakai baju kantor dan name tag yang belum kulepas. Menangis karena Naren pergi dalam keadaan lelah. Karena aku terlalu sering membiarkan hal baik berdiri terlalu lama di depan pintu. Karena ada begitu banyak hal kecil yang dulu ingin ia rayakan bersamaku, lalu kubiarkan lewat seperti pengingat kalender yang tinggal disapu. Karena malam ini orang-orang bertepuk tangan untuk perempuan yang terlihat kuat, padahal yang sebenarnya mereka rayakan mungkin cuma caraku tidak merasakan apa-apa.

Setelah tangis itu reda, kamar jadi sangat sunyi. Brownies-nya mengering di ujung wadah. Buket bunga itu tetap tampak murahan. Makeup-ku rusak.

Tapi untuk pertama kalinya setelah lama, aku merasa benar-benar ada di dalam tubuhku sendiri.

Malam itu aku mengerti, mati rasa tidak selalu datang karena perasaan hilang. Kadang ia datang karena perasaan itu terlalu lama dipaksa menunggu giliran.

Dan di kamar kos yang sempit, dengan video Naren yang berhenti di layar, aku akhirnya tahu satu hal yang selama ini paling kuinginkan.

Aku ingin bisa ikut merayakan hidup selagi orangnya masih ada.