4 Menit

99 Keinginan #27

Permintaan-permintaannya tidak pernah besar. Justru itu sebabnya aku terlalu sering menundanya. Sampai suatu hari aku sadar, ada hal-hal yang tidak gagal kita lakukan karena sulit, melainkan karena kita terlalu yakin besok masih ada.

Permintaan-permintaannya tidak pernah besar. Justru itu sebabnya aku terlalu sering menundanya.

Aku mengenalnya di antrean apotek, pada sore yang bau hujan dan obat batuk. Ia berdiri di depanku sambil memegang resep dengan satu tangan dan ujung rambutnya yang masih lembap dengan tangan lain. Kasir apotek salah memanggil namanya dua kali. Ia membenarkan dengan sabar, lalu menoleh padaku dan tersenyum seperti orang yang sudah terlalu sering salah dipanggil dan memilih tidak memperpanjangnya.

Di luar, hujan belum benar-benar jadi. Hanya gerimis tipis yang menempel di kaca helm.

"Mas, tahu pom bensin terdekat dari sini?"

Itu kalimat pertamanya.

Aku mengantar dia sampai pertigaan karena motor kami searah. Setelah itu kami saling follow Instagram seperti dua orang yang belum berniat apa-apa. Lalu seminggu kemudian, ia membalas story-ku tentang kopi sachet terlalu manis. Lalu obrolan bergerak pelan dari jam tidur, kantor, sakit kepala, hujan, sampai hal-hal kecil yang biasanya cuma dibicarakan orang-orang yang mulai nyaman.

Ia tidak pernah masuk ke hidupku dengan cara yang heboh. Ia hadir pelan-pelan. Awalnya cuma seperti bagian kecil dari hari yang tidak terlalu kupikirkan. Lama-lama, justru itu yang paling terasa waktu hilang.

Kami mulai bertemu lebih sering. Kadang setelah kerja. Kadang hari Minggu. Kadang cuma untuk makan bakso dan pulang.

Ia suka teh yang terlalu panas. Aku suka menungguinya meniup sebelum minum. Ia tidak pernah bisa makan ikan tanpa menyisakan duri di ujung piring dengan bentuk yang rapi. Aku suka menertawakannya karena itu. Ia selalu merapikan rambut sebelum suapan pertama, seolah makan juga perlu diperlakukan dengan sopan.

Ia juga orang yang paling mudah senang oleh hal-hal kecil. Kalau langit sore kebetulan bagus, ia bisa berhenti di trotoar cuma untuk memotretnya. Kalau es krim yang ia beli tidak jatuh di jalan, ia menganggap itu pertanda hari sedang memihak. Kalau lagu yang ia suka tiba-tiba diputar di minimarket, ia akan menoleh padaku dengan mata berbinar seperti baru menang undian.

Orang jatuh cinta, rupanya, memang sering mulai dari kebiasaan yang kalau diceritakan terdengar bodoh.

Aku suka membuatnya merasa dirayakan. Mungkin itu bagian paling baik dari diriku waktu masih bersamanya.

Pada ulang tahunnya yang dua puluh tujuh, aku datang ke kosannya membawa kue kecil yang tulisannya miring karena dipesan terlalu mendadak. Ia tertawa waktu melihat krim di pinggir kotaknya sudah penyok.

"Kamu niat atau enggak, sih?"

"Sedikit."

"Sedikit banget."

Tetap saja ia meniup lilinnya pelan, lalu bertepuk tangan sendiri sebelum sempat aku mengucapkan apa-apa. Sesudah itu kami makan mie ayam malam-malam karena ia bilang ulang tahun tidak sah kalau ditutup dengan makanan yang terlalu cantik.

Ia pernah dapat kabar kecil yang membuatnya bahagia sekali, tulisan lamanya dimuat di buletin kecil komunitas kantornya. Ia meneleponku sambil tertawa, lalu menyuruhku datang. Malam itu kami merayakannya dengan martabak setengah keju setengah cokelat di parkiran minimarket dan dua teh kotak dingin. Ia membaca ulang satu paragraf tulisannya dengan suara pelan, lalu menoleh padaku seperti anak kecil yang sedang menunggu nilai ulangan.

"Bagus, kan?"

"Bagus."

"Beneran?"

"Iya."

Ia tersenyum begitu lebar sampai matanya hampir hilang. Beberapa orang memang tidak butuh panggung besar untuk terlihat bersinar. Mereka hanya butuh satu orang yang benar-benar ikut senang waktu hidup akhirnya memihak sedikit.

Kadang aku juga merayakannya tanpa alasan besar. Kalau gajian jatuh di hari Jumat, aku suka menjemputnya sepulang kerja lalu mengajaknya makan ayam goreng yang sambalnya selalu terlalu pedas untuknya. Kalau ia berhasil melewati minggu yang berat tanpa menangis di kantor, aku akan membelikan dua donat dan berkata itu sudah cukup untuk dijadikan pesta kecil. Ia selalu menertawakan caraku yang berlebihan. Tapi tetap memakan donatnya pelan-pelan, lalu berkata, "Makasih ya, aku jadi merasa hari ini enggak lewat begitu aja."

Ia pernah bilang ingin pergi ke laut pagi-pagi buta. Bukan liburan jauh. Cuma duduk melihat langit berubah warna sambil makan roti dari minimarket.

"Minggu depan, ya?" katanya waktu itu.

"Minggu depan."

Kami tidak jadi pergi. Aku lupa karena hari Sabtu masih lembur, lalu Minggunya bangun kesiangan. Ia tidak marah besar. Cuma bilang, ya sudah, dengan suara yang pelan sekali.

Laki-laki seperti aku jarang terdengar jahat di awal. Kami tidak menolak. Kami cuma terlalu sering bilang nanti.

Ia pernah ingin kutemani ke dokter untuk memeriksa benjolan kecil di lehernya.

"Temenin, ya. Aku malas pergi sendiri."

Waktu itu aku sedang di kantor, mengejar pekerjaan yang bahkan sekarang sudah tidak kuingat lagi untuk apa.

"Besok aja? Hari ini kacau banget."

Ia mengirim emoji jempol. Besoknya aku lupa menanyakan jadi atau tidak. Lusa kami malah bertemu untuk makan malam. Ia cerita soal rekan kerjanya yang rese. Aku cerita soal atasanku. Benjolan itu hilang dari obrolan seperti hal kecil yang nanti juga beres sendiri.

Beberapa minggu sesudahnya ia mengajakku datang ke acara kantor temannya.

"Biar aku enggak sendirian."

Aku bilang capek. Minggu depan lagi. Ia mengangguk.

Hal-hal seperti itu terus berulang. Bukan penolakan besar. Hanya penundaan kecil yang lama-lama menumpuk seperti cucian.

Aku tidak pernah benar-benar absen dari hidupnya. Aku masih datang. Masih mengantar pulang. Masih mengingat pesan kopi. Masih mencium keningnya sebelum ia turun dari motor. Masih merayakan hal-hal kecilnya kalau aku sempat.

Mungkin itu sebabnya aku terlalu lama mengira semuanya baik-baik saja.

Padahal ada hubungan yang tidak hancur karena satu kebohongan besar. Ia retak karena terlalu sering diminta menunggu.

Pecahnya datang pada malam Rabu. Ia menelepon tiga kali saat aku masih di kantor. Waktu kulihat, jam sudah hampir sembilan. Aku menelepon balik dari parkiran.

"Kenapa?"

Suaranya pelan. Terlalu pelan.

"Aku dari rumah sakit."

Aku langsung berdiri tegak.

"Rumah sakit? Kamu kenapa?"

"Nggak apa-apa."

Orang yang bilang nggak apa-apa dari rumah sakit biasanya justru sedang tidak baik-baik saja.

"Aku tadi periksa lagi."

Aku diam. Ada angin malam lewat membawa bau bensin dan gorengan dari luar pagar kantor.

"Terus?"

"Dokternya minta biopsi."

Kalimat itu jatuh begitu saja. Tidak dramatis. Tidak juga keras. Tapi dadaku terasa kosong sebentar, seperti ada yang turun tanpa sempat kutahan.

"Kok baru bilang sekarang?"

Ia tertawa kecil. Bukan tertawa yang senang. Bukan juga tertawa yang lucu. Jenis tertawa yang dipakai orang waktu tidak ingin kedengaran tersinggung.

"Aku udah bilang dari dulu."

Aku tidak punya jawaban yang baik untuk itu.

"Aku ke sana sekarang," kataku.

Ia diam cukup lama.

"Nggak usah."

"Aku serius."

"Nggak usah," ulangnya. "Aku capek minta ditemani."

Setelah itu kami bertengkar, tapi dengan suara rendah. Yang paling menyakitkan memang sering tidak datang sebagai teriakan. Ia datang sebagai kalimat-kalimat pelan yang sudah terlalu lama ditahan.

"Kamu tuh enggak pernah nolak, tapi juga enggak pernah benar-benar hadir."

"Aku lagi kerja terus, kamu juga tahu."

"Iya. Semua orang juga tahu. Kantor dapat kamu. Teman kantor dapat kamu. Atasanmu dapat kamu. Aku dapat sisanya."

Aku berdiri di samping motor sambil menggenggam ponsel terlalu keras.

"Jangan gitu."

"Lah memang bukan begitu?"

Aku tidak ingat lagi semua kalimat sesudahnya. Yang kuingat cuma suaranya di bagian akhir. Sudah lelah sekali.

"Nggak usah ke sini malam ini. Pulang aja."

Telepon ditutup.

Aku sempat menatap layar beberapa detik. Lalu, seperti laki-laki bodoh pada umumnya, aku berpikir kami bisa membicarakannya besok dalam keadaan lebih tenang.

Besok pagi aku mengirim pesan. Tidak dibalas. Siangnya aku kirim lagi. Masih centang dua. Malamnya aku menelepon. Ponselnya aktif, tapi tidak diangkat.

Aku tetap belum benar-benar panik. Masih saja ada bagian dalam diriku yang percaya semua hal bisa menunggu satu hari lagi.

Kabar itu datang lusa sore, dari nomor kakaknya.

Kecelakaan. Perdarahan. Terlambat.

Aku membaca tiga kata terakhir itu berkali-kali sampai kepalaku tidak lagi bisa menangkap artinya dengan utuh.

Rumah duka penuh sandal, suara doa, dan bau melati yang terlalu manis. Aku datang dengan baju yang salah, napas yang pendek, dan kepala yang masih menolak percaya.

Di ruang tengah, orang-orang duduk rapat sambil bicara pelan. Ada yang menangis. Ada yang menunduk. Ada yang sibuk menjawab telepon.

Aku berdiri di ambang pintu beberapa detik sebelum kakaknya melihatku. Ia tidak marah. Justru itu yang membuat semuanya terasa lebih buruk. Ia cuma mengangguk ke arah kamar depan.

Di sanalah ia.

Perempuan yang dulu kutemui di antrean apotek. Perempuan yang selalu merapikan rambut sebelum makan. Perempuan yang ingin ke laut pagi-pagi buta. Perempuan yang bertepuk tangan sendiri setelah meniup lilin ulang tahunnya. Perempuan yang bisa membuat martabak parkiran terasa seperti pesta kecil. Perempuan yang kutinggalkan dalam keadaan marah.

Ia terbaring sangat tenang. Terlalu tenang.

Orang-orang selalu bilang mayat menyeramkan. Dulu aku juga percaya begitu.

Ternyata tidak.

Mayat tidak menjadi menyeramkan jika itu orang yang kamu cintai.

Yang datang justru sesuatu yang lain. Dorongan kecil yang sangat akrab. Aku ingin membetulkan anak rambut di dekat telinganya. Ingin menarik selimutnya sedikit lebih tinggi. Ingin bilang aku datang, meski sangat terlambat dan sangat tidak berguna.

Tanganku gemetar waktu akhirnya menyentuh ujung kain di dekat bahunya. Dingin. Tapi tidak asing.

Aku berdiri di sana cukup lama sampai kakaknya menepuk pundakku pelan.

"Semalam dia masih marah sama kamu," katanya.

Aku mengangguk. Tidak ada gunanya pura-pura tidak tahu.

"Tapi sebelum tidur dia sempat bilang satu hal."

Aku menoleh.

"Dia bilang, kalau kamu datang besok, jangan bertengkar lagi. Dia capek."

Kalimat itu terasa lebih tajam daripada semua tangis di rumah itu.

Ada banyak hal yang tidak sempat kulakukan bersamanya. Pergi ke laut pagi-pagi buta dan melihat rambutnya diterbangkan angin. Membelikan es krim di hari panas lalu mendengar dia mengeluh tangannya lengket. Duduk lebih lama waktu ia membacakan tulisannya, lalu ikut senang tanpa setengah-setengah. Membawakan donat lagi di hari ketika kantornya jahat dan membuatnya merasa hidup tidak cuma lewat begitu saja. Merayakan hal-hal receh yang dulu selalu bisa membuatnya senang, gajian, langit bagus, lagu favorit yang tiba-tiba diputar minimarket. Menemani ke dokter. Datang malam itu. Meminta maaf tanpa menunggu suasana lebih baik.

Yang paling kejam dari kehilangan kadang bukan perpisahannya. Yang paling kejam adalah semua hal kecil yang dulu sempat kita anggap masih bisa dilakukan besok.

Dan di antara bau melati, doa yang dibaca berulang, dan tubuhnya yang sudah tidak bisa kubuat marah lagi, untuk pertama kalinya aku benar-benar mengerti bahwa laki-laki seperti aku tidak gagal mencintai karena kurang rasa.

Kami gagal karena terlalu sering mengira waktu adalah pihak kita.

Di depan tubuhnya yang dingin dan tidak asing itu, aku akhirnya tahu keinginanku terlalu sederhana untuk datang seambat ini.

Aku cuma ingin satu hari biasa lagi. Satu pagi untuk benar-benar menepati Minggu depan. Satu siang untuk membiarkan dia cerita panjang tanpa kulirik jam. Satu sore untuk duduk di ruang tunggu dokter tanpa melihat jam. Satu malam untuk datang waktu ia bilang jangan usah.

Tapi beberapa keinginan memang baru terdengar jelas setelah dunia tidak lagi punya tempat untuk menaruhnya.