99 Keinginan #26
Di kota rantau, pagi terakhir Ramadan datang dengan udara dingin, suara wajan dari dapur tetangga, dan obrolan tentang tiket pulang yang memenuhi lorong kos. Tahun itu aku juga ingin pulang, sampai ibu menghitung ongkos lebih cepat daripada rinduku.
Di kota rantau, pagi terakhir Ramadan selalu datang dengan cara yang lembut.
Udara masih dingin. Lantai lorong kos masih sejuk di telapak kaki. Dari dapur bersama naik bau bawang goreng, telur ceplok, dan nasi yang baru matang. Ada orang yang sudah mandi dan wangi sabun. Ada yang masih mengucek mata sambil menunggu air mendidih. Ada yang sejak selesai sahur sibuk membuka aplikasi travel, mengecek harga tiket, lalu mengumpat pelan karena semuanya naik menjelang Lebaran.
Tahun itu aku juga begitu.
Di atas meja lipat kecil, permintaan cuti dua hariku sudah disetujui atasan sejak seminggu sebelumnya. Tiket bus ke kampung juga belum kubeli, tapi aku sudah beberapa kali membuka jadwal keberangkatan, menimbang jam, rute, dan uang yang harus keluar.
Aku membayangkan rumah. Bukan yang besar-besar. Cuma hal-hal kecil yang selalu terasa berbeda kalau sedang jauh. Suara pagar didorong dari luar. Karpet ruang tamu yang lebih tipis dari ingatanku. Kipas angin yang bunyinya agak pincang. Bau opor dari dapur. Ibu yang pura-pura sibuk supaya tidak terlihat senang waktu aku datang.
Mungkin itu sebabnya pulang selalu terdengar sederhana, sampai seseorang mulai menghitung ongkosnya.
Pagi itu, setelah salat Subuh, aku menelepon ibu. Kudengar suara televisi dari rumah. Mungkin berita pagi. Mungkin sinetron religi yang selalu diputar bapak sambil menunggu matahari naik.
"Bu, kalau aku pulang H-2 masih sempat, kan?"
Ibu diam sebentar. Bukan diam yang terharu. Diam yang sedang menghitung sesuatu.
"Tiketnya berapa?"
Aku menyebut angkanya. Di ujung sana ibu menghela napas pelan.
"Mahal."
"Iya, tapi masih bisa."
"Kalau segitu, mending enggak usah pulang dulu."
Aku tertawa kecil, kukira ibu bercanda. Ternyata tidak.
"Maksud ibu?"
"Ya sayang uangnya. Perjalanan jauh cuma beberapa hari. Habis di jalan doang. Lebih baik kerja aja. Kalau memang ada rezeki lebih, kirim ke rumah. Di sini juga biasa saja."
Di kamar sebelah ada orang membanting koper ke lantai. Lalu tertawa karena resletingnya macet. Di lorong, seseorang berseru ke temannya, menanyakan oleh-oleh apa yang belum dibeli.
Aku menatap dinding kamarku yang lembap di pojok atas.
"Tapi aku pengin pulang, Bu."
Ibu tidak langsung jawab. Suara televisi dikecilkan. Lalu suaranya datang lagi, kali ini lebih pelan, lebih seperti nasihat daripada larangan.
"Kamu pikir ibu enggak pengin? Pengin. Tapi kalau uangmu habis buat ongkos, nanti habis Lebaran kamu hidup pakai apa?"
Sebelum aku sempat menjawab, bapak mengambil telepon.
"Kalau masih bisa masuk, masuk aja. Lagi pula di sini ramai. Kamu pulang juga paling cuma tidur bentar, salat, makan, terus balik lagi. Sayang cutinya."
Lalu, seperti orang yang menambahkan sesuatu yang menurutnya masuk akal sekali, bapak berkata,
"Lebih baik kerja. Nanti THR-mu jangan banyak kepakai di jalan."
Kalimat itu tidak keras. Justru itu yang membuatnya tinggal lebih lama.
Ada rumah yang tidak benar-benar melarangmu pulang. Ia cuma pelan-pelan membuat ongkosmu terdengar lebih besar daripada rindumu, lalu berharap kamu mengerti sendiri.
Setelah telepon ditutup, aku duduk cukup lama di ujung kasur. Di luar, motor-motor mulai ramai. Orang-orang di grup kantor saling membalas ucapan hati-hati di jalan. Di grup kos, ada yang menawarkan tumpangan ke terminal.
Aku membuka aplikasi bank. Menghitung uangku. Lalu membuka lagi jadwal bus. Lalu menutup semuanya tanpa jadi membeli apa-apa.
Siang harinya ibu mengirim pesan.
"Kalau jadi enggak pulang, nanti ibu masakin opor pas kamu ada waktu."
Di bawahnya, satu pesan lagi.
"Kalau THR sudah cair, kirim saja secukupnya. Beras di rumah mau habis."
Aku membaca dua pesan itu berkali-kali. Yang pertama seperti pelukan yang datang terlambat. Yang kedua seperti alasan mengapa pelukan itu tidak pernah benar-benar sampai.
Aku akhirnya tidak jadi membeli tiket.
Mungkin kalau Sasa masih ada, aku akan meneleponnya setelah itu. Atau minimal mengirim satu pesan pendek yang isinya tidak perlu rapi.
Tapi kami putus sebulan sebelumnya. Bukan karena orang ketiga. Bukan juga karena satu pertengkaran besar. Kami hanya terlalu lama bertahan di hubungan yang makin sering diisi penundaan. Aku menunda pulang. Ia menunda marah. Aku menunda memberi kepastian. Ia menunda pergi. Sampai akhirnya tidak ada lagi yang benar-benar tinggal selain capek.
Pesan terakhirnya masih kusimpan.
"Aku ngerti kamu sibuk."
Di bawahnya:
"Tapi lama-lama aku merasa semua orang dapat bagian dari hidupmu, kecuali aku."
Waktu itu aku membacanya sambil berdiri di gudang, di antara kardus-kardus tinggi dan suara forklift yang mondar-mandir. Aku tidak langsung membalas. Kubilang nanti malam. Lalu nanti malam jadi lusa. Lalu semuanya terlambat.
Hari-hari menjelang Lebaran terasa panjang dengan cara yang aneh. Sore terakhir Ramadan, satu per satu penghuni kos pulang. Lorong yang biasanya penuh sandal mendadak lengang. Pintu-pintu terkunci. Rice cooker di dapur bersama tinggal satu. Dispenser tidak lagi ramai menjelang sahur.
Di warung dekat pertigaan, mbak yang biasa jual gorengan bertanya,
"Mas enggak mudik?"
Aku menggeleng.
"Belum."
Ia mengangguk seperti orang yang sudah terlalu sering melihat jawaban itu.
"Saya juga."
Malam takbiran turun pelan ke kota. Dari mushala ujung gang, suara takbir datang patah-patah tertiup angin. Anak-anak kecil berlari bawa lampion murah. Beberapa motor lewat sambil membonceng dus kue dan kantong plastik besar. Semua orang seperti sedang menuju seseorang.
Aku tidak.
Di kamar, aku melipat sajadah dan menaruhnya di kursi. Ponselku menyala beberapa kali. Grup keluarga penuh foto. Ketupat yang baru matang. Sepupu-sepupu yang sudah datang. Meja ruang tamu yang dipindah. Bapak memegang pisau untuk motong daging.
Di bawah semua itu, ada satu unggahan baru dari Sasa. Foto jalan tol malam hari dari balik kaca mobil. Caption-nya pendek.
"Pulang."
Tak ada satu pun yang salah dari foto-foto itu. Tapi malam itu semuanya terasa seperti rumah yang bisa kulihat tanpa benar-benar kumasuki lagi.
Ibu menelepon lagi sesudah Isya.
"Sudah makan?"
"Sudah."
"Besok salat Ied di mana?"
"Mungkin di lapangan dekat pasar."
"Jangan telat."
Aku menunggu. Berharap ada kalimat lain. Apa saja. Misalnya hati-hati. Atau andai kamu di sini. Atau tahun depan pulang, ya.
Yang datang justru ini.
"Nanti habis salat kabari. Biar ibu transfer sedikit kalau kamu butuh beli lauk."
Aku memejamkan mata.
"Aku enggak kekurangan lauk, Bu."
Ibu terdiam.
"Ibu cuma takut kamu sendirian."
"Aku memang sendirian," kataku pelan.
Di ujung sana ibu menarik napas. Lalu, seperti orang yang tidak tahu harus meletakkan kalimat di mana, ia bertanya,
"Kalau uang yang bulan ini, jadi kirim kapan?"
Aku tidak marah waktu itu. Marah butuh tenaga, dan aku terlalu lelah untuk itu. Aku cuma merasa ada sesuatu yang turun pelan-pelan di dalam dada, lalu menetap di sana seperti debu di atas lemari yang jarang dibuka.
"Besok aku transfer."
Setelah telepon ditutup, aku duduk di lantai cukup lama. Takbir masih terdengar dari jauh. Dari kamar depan, seorang mahasiswa dari Bima memutar lagu pelan-pelan sambil video call dengan keluarganya. Ia tertawa. Lalu menangis sebentar. Lalu tertawa lagi.
Aku sempat membuka kontak Sasa. Namanya masih ada. Foto profilnya sudah ganti. Jempolku berhenti di layar beberapa detik, lalu menekan tombol mati lagi.
Aku menatap pintu kamarku sendiri dan tiba-tiba sadar, mungkin yang paling menyakitkan dari tumbuh besar bukan bekerja atau menanggung hidup. Mungkin yang paling menyakitkan dari tumbuh besar adalah ini. Rumah masih punya alamat yang sama, tapi tidak lagi pandai memanggilmu pulang.
Pagi Lebaran, aku bangun sebelum subuh meski tidak ada suara ibu dari dapur dan tidak ada bunyi panci yang ditutup terlalu keras. Kukeluarkan baju koko dari lemari plastik. Kusetrika bagian depannya pelan-pelan. Di luar, langit masih biru tua. Ada bau tanah basah sisa hujan semalam.
Sesudah salat Ied, aku pulang berjalan kaki. Lapangan cepat kosong. Orang-orang saling bersalaman, lalu menyebar ke rumah masing-masing seperti air yang sudah tahu jalurnya. Aku membeli lontong sayur dari ibu-ibu di dekat tikungan. Satu porsi, bungkus. Ia memberiku telur balado tambahan karena melihatku datang sendirian.
"Buat Lebaran," katanya.
Aku mengucapkan terima kasih terlalu pelan.
Di kamar, aku makan di atas meja kecil sambil mendengar suara video call dari lorong. Seseorang tertawa keras. Seseorang lain memanggil nama ibunya berkali-kali karena sinyal putus-putus. Seorang bapak kos mengetuk pintu, membagikan dua toples kue kering sisa kiriman anak perempuannya.
Sesaat aku membayangkan Sasa mungkin sedang duduk di ruang tamu rumahnya, dikelilingi sepupu, bau opor, dan orang-orang yang memanggil namanya dari dapur. Lalu kubuang bayangan itu cepat-cepat sebelum lontong di depanku terasa makin hambar.
Menjelang siang, aku transfer uang ke ibu. Tidak banyak. Hampir sepertiga THR-ku habis di situ. Nominalnya menatapku dari layar beberapa detik sebelum kukirim, seperti ingin memastikan aku benar-benar rela.
Beberapa menit kemudian, ibu membalas.
"Sudah masuk."
Lalu:
"Makasih ya."
Lalu:
"Buat beli daging sama beras."
Sesudah itu tidak ada apa-apa lagi. Tidak ada foto opor. Tidak ada panggilan video. Tidak ada kalimat yang bilang kursi di rumah terasa kurang satu.
Sore harinya aku naik ke atap kos. Dari sana kota terlihat tenang dan sedikit pucat. Jemuran kaus di rumah sebelah bergerak pelan. Di kejauhan, suara anak-anak masih bermain petasan sisa semalam. Langit mulai berubah warna.
Ponselku berbunyi sekali. Ibu mengirim foto meja makan di rumah. Ada opor, sambal goreng kentang, kerupuk, semangka potong, dan tangan bapak yang separuh tertangkap kamera.
Di bawahnya cuma ada satu kalimat.
"Tadi ramai."
Aku menatap foto itu cukup lama. Ramai. Seperti rumah memang bisa tetap utuh, bahkan tanpa aku di dalamnya.
Aku tidak membalas cepat-cepat. Angin sore menyentuh muka. Dari mushala, suara anak kecil sedang belajar iqra terdengar putus-putus.
Lalu aku mengetik pelan.
"Iya, Bu."
Hanya itu.
Sesudah pesan itu terkirim, lama sekali tidak ada balasan. Angin sore membalik satu ujung sajadah yang kujemur di pagar atap.
Dan di Lebaran yang kujalani sendirian itu, aku cuma ingin suatu hari nanti punya satu rumah yang lebih dulu menunggu langkah kakiku daripada bunyi transfer masuk.