5 Menit

99 Keinginan #25

Di rumah duka Deni, orang-orang menangis sebentar lalu mulai bertanya tentang BPJS, sisa gaji, dan cicilan motor yang belum lunas. Malam itu, saat ibu kembali menyuruhku cepat menikah, aku akhirnya paham ada rumah yang tidak dibangun untuk saling mencintai, tapi untuk saling menggantungkan lapar.

Di rumah duka Deni, tangisan hanya keras selama dua puluh menit pertama.

Sesudah itu, suara yang paling sering terdengar bukan namanya, melainkan angka.

"BPJS-nya aktif, kan?"

"Motor masih nyicil?"

"Gaji bulan ini cair penuh atau enggak?"

"Istrinya kerja, ya?"

Aku berdiri dekat dispenser, memegang gelas plastik yang airnya belum sempat kuminum, dan untuk pertama kalinya merasa ngeri menjadi laki-laki dewasa.

Bukan karena mati.

Karena kemungkinan ditinggalkan sebagai orang sebentar, lalu diteruskan sebagai masalah keuangan.

Deni baru tiga puluh satu. Kerjanya staf gudang di perusahaan yang sama denganku. Badannya besar, suaranya keras, ketawanya paling gampang pecah di ruang bongkar muat. Dua hari lalu ia sempat bilang pundaknya sakit dari pagi, tapi tetap masuk karena akhir bulan selalu paling sibuk. Siang harinya ia jatuh di samping rak barang, dibawa ke klinik, lalu ke rumah sakit, lalu malamnya tidak pulang-pulang lagi.

Istrinya duduk di dekat dinding dengan mata bengkak dan anak perempuan mereka yang masih balita tidur miring di pangkuan bibinya. Di sebelah ruang tamu, dua laki-laki yang seharusnya bicara pelan justru membahas santunan kematian seperti sedang menimbang harga material bangunan.

"Kalau BPJS Ketenagakerjaan aktif, ada klaim."

"Lumayan buat nutup kontrakan beberapa bulan."

"Motornya gimana, masih atas nama leasing?"

Aku melihat wajah Deni yang sudah diam, dan rasanya aneh sekali mengetahui bahwa bahkan sebelum tanah kuburnya rata, hidupnya sudah dipecah jadi pos-pos pengeluaran.

Pulang dari sana, aku naik motor pelan-pelan. Lampu jalan seperti lebih pucat dari biasanya. Di lampu merah, ponselku bergetar. Ibu.

"Kamu jadi Minggu ke rumahnya Sinta, kan?"

Aku tahu maksudnya. Bukan sekadar datang. Ibu ingin segera menentukan tanggal.

"Lihat nanti, Bu. Aku capek."

"Capek terus alasanmu. Umurmu dua puluh sembilan. Mau nunggu apa lagi? Bapakmu dulu nikah juga belum punya apa-apa."

Aku tidak jawab beberapa detik. Kalimat itu sering sekali dipakai orang tua seolah dunia hari ini masih serupa dengan dunia mereka dulu. Seolah harga kontrakan, biaya persalinan, uang sekolah, dan susu anak tidak berubah jadi monster yang lain.

"Bapak dulu juga enggak ngontrak tiga juta, Bu."

Di ujung sana ibu diam. Lalu suaranya turun, tapi bukan jadi lembut. Jadi tajam.

"Kalau nunggu mapan, enggak akan nikah-nikah. Rezeki itu ikut."

Aku menutup telepon dengan alasan mau menyetir. Padahal yang sebenarnya ingin kututup malam itu adalah semua orang yang bicara tentang masa depan seolah ia cuma soal keberanian.

Di kamar kontrakanku, aku membuka dompet dan mengeluarkan slip gaji yang belum sempat kubuang.

Gaji bersih bulan ini Rp5.240.000.

Aku ambil buku catatan kecil dari laci. Biasanya buku itu kupakai mencatat nomor resi barang dan daftar belanja. Malam itu, untuk pertama kali, aku menulis hidupku sendiri seperti orang yang sedang mengaudit kerusakan.

Kontrakan dan listrik: Rp1.350.000
Cicilan motor: Rp860.000
Bensin dan parkir kerja: Rp650.000
Makan: sekitar Rp1.300.000
Transfer ke ibu: Rp1.500.000
Pulsa, sabun, laundry, hal-hal kecil yang selalu pura-pura kecil: setidaknya Rp500.000

Aku jumlahkan.

Minus.

Bahkan sebelum ada tabungan. Bahkan sebelum ada dana darurat. Bahkan sebelum tubuhku sakit, motorku mogok, atau ibuku menelepon bilang adikku butuh uang daftar kuliah lagi.

Aku menatap angka-angka itu cukup lama.

Ada pengetahuan yang tidak diajarkan waktu kita tumbuh miskin. Bukan cuma cara mencari uang, tapi cara mengerti bahwa penghasilan dan kemampuan finansial adalah dua hal yang berbeda. Orang bisa punya kerja tetap, gaji bulanan, bahkan seragam rapi, lalu tetap hidup di tepi jurang kalau pengeluaran wajibnya lebih besar dari napasnya. Kami menyebutnya bertahan. Padahal secara sederhana, itu cuma arus kas yang terus berdarah.

Ponselku menyala. Sinta mengirim pesan.

"Kamu pulang?"

"Sudah."

"Gimana rumah duka temanmu?"

Aku menatap layar sebentar, lalu menelepon. Suara Sinta datang dengan pelan, seperti orang yang tahu malam sedang tidak aman.

"Sedih banget?" tanyanya.

"Bukan cuma sedih."

"Terus?"

Aku duduk di tepi kasur. Kipas kecil di sudut kamar bunyinya seperti baut longgar.

"Aku takut."

Sinta diam. Ia tidak menenangkanku buru-buru. Itu salah satu hal yang paling kusukai darinya. Ia tidak pernah tergesa-gesa membuat semuanya terdengar baik.

"Takut kenapa?"

"Kalau aku mati besok, orang rumah mungkin nangis. Tapi habis itu mereka juga akan nanya ATM-ku di mana."

Di seberang telepon, napas Sinta terdengar tipis.

"Kamu capek, ya."

"Aku baru nulis semua pengeluaranku."

"Terus?"

"Aku enggak sanggup nikah sekarang."

Kalimat itu keluar begitu saja. Bukan seperti keputusan. Lebih seperti pengakuan yang terlalu lama kutahan.

Sinta tidak langsung jawab. Aku mendengar suara pintu lemari dari rumahnya. Mungkin ia sedang berdiri sambil memegang ponsel dengan pundak.

"Aku tahu," katanya akhirnya.

"Tahu dari mana?"

"Dari cara kamu tiap bulan panik sebelum tanggal dua puluh."

Aku ketawa kecil. Pahit.

"Ibu tetap mau cepat."

"Ibumu mau cepat karena beliau takut. Bukan karena hitung-hitunganmu masuk."

"Kalau aku tunda lagi, aku dibilang enggak serius."

"Kalau kita nikah sekarang," kata Sinta, "yang kita bangun bukan rumah. Kita cuma bikin satu rumah miskin lagi."

Kalimat itu duduk lama sekali di telingaku.

Banyak nasihat tentang cinta dibuat terlalu manis. Seolah dua orang yang saling mau cukup untuk mengalahkan harga beras, uang kontrakan, biaya imunisasi, dan tagihan yang selalu datang tanpa peduli kita sedang jatuh cinta atau tidak. Padahal kehidupan dewasa tidak hancur karena kurang perasaan. Ia lebih sering retak karena matematika yang diabaikan terlalu lama.

Hari Minggu aku tetap pulang ke rumah ibu. Bukan untuk menentukan tanggal. Untuk bicara jujur pertama kali.

Rumah itu sempit, panas, dan sudah lama belajar menyembunyikan kelelahan di bawah suara televisi. Adikku yang bungsu sedang tidur siang di lantai dengan buku try out terbuka di dada. Ibu duduk di dekat meja makan, mengupas bawang dengan mata yang memang sudah mudah berair bahkan sebelum menangis.

"Gimana? Jadi kapan ke rumah Sinta?" tanyanya tanpa basa-basi.

Aku duduk. Mengeluarkan buku catatan dari tas.

"Aku mau nunjukin sesuatu dulu."

Ibu menatapku seperti aku sedang mau menjual asuransi.

Aku membuka halaman yang semalam kutulis. Lalu kubaca satu-satu. Gajiku. Pengeluaranku. Transfer bulanan. Sisa yang sebenarnya tidak pernah jadi sisa.

"Kalau aku nikah sekarang," kataku, "aku harus bayar kontrakan baru atau minimal isi rumah. Harus siap buat biaya kalau Sinta hamil. Harus punya dana kalau anak sakit. Harus punya tabungan, bukan cuma keberanian."

Ibu meletakkan pisau kecilnya.

"Semua orang juga mulai dari susah."

"Iya. Tapi susah itu beda sama minus."

Ibu mendengus pelan. "Bahasamu sekarang kayak orang bank."

"Bukan orang bank, Bu. Orang capek."

Kalimat itu keluar lebih keras dari yang kurencanakan. Adikku di lantai bergerak sedikit tapi tidak bangun.

"Aku capek karena tiap bulan hidupku habis sebelum bulan itu selesai. Aku capek karena aku selalu dibilang laki-laki harus kuat, tapi kuat di rumah ini artinya jangan pernah boleh kekurangan uang. Aku capek karena semua orang ngomong nikah seolah itu obat, padahal kalau keuangan belum siap, itu bukan obat. Itu bisa jadi penyakit baru."

Wajah ibu menegang. Aku tahu bagian paling sulit dari menjadi anak dewasa bukan mencari nafkah. Tapi berani melihat orang tua sebagai manusia yang juga bisa salah.

"Jadi sekarang Ibu beban, gitu?"

"Aku enggak bilang itu."

"Kamu ngomongnya muter-muter tapi arahnya ke situ."

Aku menatap tangan ibu yang mulai keriput di bagian buku jari. Tangan yang dulu mengucek seragam sekolahku malam-malam. Tangan yang pernah menjahit baju tetangga sampai dini hari. Tangan itu juga yang bertahun-tahun mengajarkanku satu hal tanpa pernah mengucapkannya: anak laki-laki harus jadi penyangga.

Kemiskinan memang tidak selalu membuat orang jahat. Sering kali ia cuma membuat cinta berubah bentuk. Kasih sayang jadi tuntutan. Harapan jadi tagihan. Dan anak yang lahir dari tubuhmu sendiri pelan-pelan terlihat lebih mirip aset daripada manusia.

"Bu," kataku lebih pelan, "aku tetap kirim uang. Tapi mulai bulan depan jumlahnya tetap. Satu juta."

Ibu langsung menatapku. "Kurang."

"Itu yang sanggup."

"Terus adikmu?"

"Dia bisa mulai les anak tetangga. Atau kerja paruh waktu habis ujian. Semua enggak bisa terus numpuk ke satu orang."

"Kamu ini anak sulung."

"Aku anak sulung, bukan sumur."

Setelah itu rumah jadi sepi. Sepi yang jelek. Sepi yang membuat suara sendok jatuh di dapur terdengar seperti kesalahan besar.

Ibu menangis, tapi tidak meledak. Air matanya turun sambil mulutnya tetap rapat. Aneh sekali melihat orang tua menangis. Kita selalu tumbuh dengan mengira mereka adalah bentuk final dari kekuatan. Padahal mereka juga cuma orang-orang yang lama hidup dalam takut.

"Ibu cuma enggak mau kamu susah sendirian nanti," katanya.

"Justru aku akan lebih susah kalau semua dipaksa sekarang."

"Sinta setuju?"

"Sinta yang pertama kali berani bilang."

Ibu menunduk. Mungkin malu. Mungkin terluka. Mungkin dua-duanya.

"Dulu," katanya pelan, "Ibu kira kalau anak laki-laki kerja tetap, hidup akan selesai lebih gampang."

Aku hampir tertawa, tapi tidak jadi. Itulah inti seluruh rumah ini. Kami dibesarkan oleh orang-orang yang terlalu lama percaya satu gaji tetap bisa menyelamatkan banyak orang. Padahal biaya hidup tumbuh lebih cepat dari upah. Satu orang yang dipaksa menopang terlalu banyak tanggungan hampir selalu berakhir retak, hanya saja retaknya tidak langsung terdengar.

Malamnya aku bertemu Sinta di warung soto dekat pertigaan. Kami duduk berhadapan dengan kipas besar di dinding yang mutarnya pincang.

"Gimana?" tanyanya.

"Marah."

"Ibunya?"

"Aku juga."

Sinta mengangguk. "Tapi selesai?"

Aku memikirkan pertanyaan itu. Tidak. Belum. Masalah seperti ini jarang selesai dalam satu percakapan. Ia cuma mulai berhenti diwariskan.

"Belum selesai," kataku. "Tapi mulai jujur."

Sinta menyodorkan ponselnya. Di layar ada tabel kecil yang ia buat.

"Ini apa?"

"Rencana setahun."

Aku melihatnya.

Dana darurat minimal tiga bulan biaya hidup.
Lunasi cicilan motor lebih cepat kalau THR turun.
Nikah hanya kalau tidak lagi minus bulanan.
Biaya orang tua masuk pos tetap, bukan sesuai rasa bersalah.
BPJS kesehatan aktif terus.
Tidak ambil utang konsumtif baru.

Aku menatapnya cukup lama.

"Romantis juga kamu," kataku.

Sinta tersenyum kecil. "Cinta orang miskin harus bisa ngitung."

Aku tertawa. Tawa pertama yang terasa ringan setelah beberapa hari.

Ada yang bilang pernikahan butuh yakin. Aku mulai percaya bahwa kehidupan dewasa butuh lebih dari itu. Ia butuh angka yang jujur, batas yang sehat, dan keberanian untuk mengecewakan orang hari ini supaya besok tidak menghancurkan lebih banyak hidup sekaligus.

Sebulan kemudian, aku benar-benar menurunkan jumlah transfer. Ibu sempat diam tiga hari. Adikku mulai mengajar dua anak SMP di gang sebelah. Aku menjual beberapa barang yang jarang kupakai. THR tahun itu tidak habis untuk traktir dan baju baru, tapi masuk ke rekening terpisah yang kuberi nama sederhana: jangan panik.

Jumlahnya kecil. Bahkan memalukan kalau dibandingkan video-video motivasi keuangan di internet. Tapi untuk pertama kalinya, aku punya sesuatu di antara diriku dan keadaan darurat.

Aku juga memperpanjang BPJS. Hal yang dulu selalu kutunda karena merasa tubuhku masih kuat. Setelah Deni mati, aku mengerti tidak ada laki-laki dewasa yang benar-benar terlalu muda untuk runtuh.

Beberapa minggu kemudian aku lewat depan rumah duka tempat Deni pernah dibaringkan. Tendanya sudah tidak ada. Karpetnya sudah digulung. Hidup orang-orang di dalam rumah itu pasti belum beres, tapi jalanan di depannya tampak biasa saja.

Aku berhenti sebentar di warung seberang. Membeli air mineral. Lalu memandangi arus motor yang lewat seperti orang yang baru selesai diajari sesuatu dengan cara yang mahal.

Jangan buru-buru menikah kalau belum punya uang.

Bukan karena cinta harus menunggu kaya. Tapi karena hidup yang dibangun dalam keadaan retak sering kali tidak melahirkan kehangatan. Ia melahirkan kepanikan baru, tagihan baru, anak-anak baru yang tumbuh dengan rasa lapar yang sama, lalu satu laki-laki lagi yang diajari bahwa nilai dirinya terletak pada seberapa banyak beban yang bisa ia angkut sampai tubuhnya habis.

Dulu aku kira menjadi dewasa artinya sanggup menanggung semuanya.

Sekarang aku tahu, menjadi dewasa kadang justru berarti berhenti. Duduk. Menghitung. Lalu berani berkata tidak, sebelum rumah yang kau cintai diam-diam belajar memakanmu hidup-hidup.