3 Menit

99 Keinginan #24

“Yang ini?” Itu kalimat pertama darinya, di minimarket dekat gang, setelah berbulan-bulan aku belajar pulang ke kamar tanpa berharap ada pesan yang masuk. Waktu itu aku belum tahu ada orang yang bisa datang tanpa membuatku kehilangan diriku sendiri lebih dulu.

"Yang ini?"

Itu kalimat pertama yang keluar dari mulutnya.

Waktu itu aku sudah berbulan-bulan belajar hidup tanpa menunggu seseorang kembali. Luka yang lama memang sudah tidak seramai dulu, tapi beberapa malam masih terasa ngilu di tempat yang sama.

Malam itu aku masuk ke minimarket dekat gang cuma untuk beli pasta gigi, air mineral, dan sedikit alasan supaya tidak buru-buru pulang ke kamar yang terlalu sepi.

Botol air di rak paling atas cuma tersentuh ujung jariku. Ia yang mengambilkannya. Lalu menahan pintu kaca ketika aku keluar.

"Hati-hati."

Cuma itu. Kupikir kisahnya selesai di sana.

Belakangan aku tahu ia tinggal di kos ujung gang, dua rumah setelah depot air isi ulang. Ia kerja dengan jam yang aneh. Aku juga. Karena itu kami mulai sering bertemu di jam-jam yang tidak ramah. Di minimarket menjelang tutup. Di warung nasi goreng dekat lampu merah setelah hujan. Di halte ketika aku pulang lembur dan ia baru turun dari ojek.

Mula-mula kami cuma saling angguk. Lalu saling tahu nama. Lalu sesekali berbagi meja plastik kalau warung terlalu penuh.

Aku belum pandai percaya pada laki-laki yang lembut setelah kisah yang lalu. Ada orang yang datang dengan suara pelan, perhatian kecil, lalu pelan-pelan membuatmu lupa cara menjaga diri. Aku pernah hancur oleh satu jenis luka seperti itu.

Jadi aku menjaga semuanya tetap biasa. Tetap ringan. Tetap di permukaan.

Sampai malam ketika listrik padam satu jam di blok belakang dan aku duduk di teras kos dengan mata bengkak, sandal yang belum kulepas sejak pulang kerja, dan kepala yang masih panas setelah bertengkar dengan ibuku lewat telepon.

Ia lewat sambil membawa dua teh botol. Melihatku. Berhenti.

"Kalau lagi pengin hilang, bilang ke aku dulu."

Ia mengatakannya sambil menyodorkan satu botol ke tanganku.

Aku tidak menangis saat telepon dari ibu masih tersambung. Baru setelah gang jadi sepi dan kalimat itu duduk di sebelahku, mataku panas juga.

Ia duduk dua anak tangga di atasku. Tidak terlalu dekat. Tidak sok menenangkan.

"Aku nggak tahu harus jawab apa ke semua orang," kataku pelan.

"Nggak usah jawab malam ini."

Sesederhana itu. Tapi malam itu aku merasa diselamatkan.

Setelahnya, semuanya tumbuh dari hal-hal kecil.

Ia jadi orang pertama yang tahu kalau aku benci hari Senin bukan karena kerjaan, tapi karena Senin selalu membuatku merasa hidup dimulai lagi dari tempat yang salah. Aku jadi orang pertama yang tahu kalau ia tidak pernah benar-benar tidur nyenyak sejak rumahnya pecah oleh pertengkaran yang terlalu sering dan pintu-pintu yang dibanting terlalu keras.

Kami mulai sering bertemu di teras kosku. Atau di warung nasi goreng dekat lampu merah. Atau di halte setelah hujan, menunggu angkot yang tak kunjung datang sambil bertukar cerita buruk seperti dua orang yang sedang barter beban.

Ia pernah bilang lagu-lagu Hindia enak didengar saat dunia sedang terlalu berisik. Aku mengejek seleranya. Besoknya ia mengirim "Everything U Are" dan bilang aku harus mendengarnya sampai habis.

Sejak itu, lagu itu tinggal di ponselku cukup lama. Bukan karena aku langsung jatuh cinta. Tapi karena rasanya seperti mendengar dua orang yang sama-sama capek, sama-sama pernah dipukul hidup, lalu duduk sebentar dan saling bilang aku paham.

Kami memang seperti itu.

Ia datang dengan cerita tentang rumah yang membuat anak-anak tumbuh terlalu cepat, belajar diam lebih dulu sebelum belajar tenang. Aku datang dengan kepala penuh tuntutan yang tidak habis-habis. Kadang ia bercerita duluan. Kadang aku. Kadang kami cuma duduk mendengarkan motor lewat dan musik dari kamar kos sebelah.

Aku mulai hafal wajahnya dalam banyak rupa. Wajahnya saat baru bangun dari tidur yang buruk. Wajahnya saat menertawakan hal receh yang sebenarnya tidak lucu. Wajahnya saat membaca pesan dari kantor lalu mendadak diam.

Ia juga hafal wajahku. Wajahku saat pura-pura kuat. Wajahku saat habis menangis tapi bilang cuma kena asap gorengan. Wajahku saat terlalu lelah untuk memilih makanan dan akhirnya memesan yang itu-itu lagi.

Hubungan kami jadi dekat dengan cara yang pelan. Tidak ada pernyataan besar. Tidak ada momen megah.

Suatu malam ia datang membawa selembar kertas dari notes kecil yang biasa dipakainya mencatat ide. Lipatannya jelek. Tulisannya miring.

"Apa ini?"

"Baca nanti."

Di kamar, setelah ia pulang, aku membuka kertas itu. Isinya cuma beberapa kalimat pendek tentang terasku, teh botol hangat, dan caraku mendengarkan tanpa buru-buru membetulkan hidup orang lain.

"Aku suka terasmu karena di sana orang tidak harus tampak baik-baik saja untuk boleh duduk."

"Aku suka caramu mendengar. Kamu tidak sibuk menyuruhku kuat. Kamu cuma tinggal sampai kepalaku tidak terlalu berisik."

"Di dekatmu, untuk pertama kalinya setelah lama, aku tidak merasa harus jadi orang lain supaya tidak ditinggalkan."

Aku menyimpan surat itu di dompet.

Mungkin sejak malam itulah aku mulai jatuh cinta. Atau mungkin aku sudah jatuh lebih dulu, hanya tidak cukup jujur untuk mengakuinya.

Waktu kami bersama, hidup memang tidak mendadak baik. Tapi terasa lebih bisa ditahan.

Masalahnya, kami sama-sama belum selesai dengan diri sendiri.

Ia masih sering hilang saat hidupnya sedang kacau. Bukan selingkuh. Bukan bohong yang besar. Ia cuma menutup pintu, mematikan ponsel, dan menghilang dari semua orang selama dua atau tiga hari. Setelah itu datang lagi dengan mata merah dan suara pelan, seolah dunia baru saja selesai menghajarnya.

Awalnya aku mengerti. Karena bukankah selama ini kami memang saling paham dari luka.

Tapi pelan-pelan, pengertian juga bisa capek.

Aku lelah mencintai seseorang yang selalu datang setelah tenggelam, tapi tidak pernah mengajakku berenang saat air masih setinggi lutut. Aku lelah jadi tempat pulangnya, tapi tidak pernah benar-benar tahu ke mana ia pergi waktu memilih hilang.

Pecahnya datang pada malam di bulan November. Hari itu aku presentasi buruk di kantor, dimarahi atasan di depan tim, lalu pulang dengan kepala seperti kaleng kosong. Aku sudah bilang sejak siang kalau aku ingin bertemu. Tidak untuk kencan. Tidak untuk hal manis. Aku cuma ingin duduk di teras dan tidak merasa sendirian.

Ia membalas satu jam kemudian.

"Nanti aku ke sana."

Aku menunggu sampai pukul sembilan. Lalu setengah sepuluh. Lalu sebelas lewat sedikit.

Pesan terakhirku centang dua. Tidak dibaca.

Aku tahu rasa itu. Rasa ketika seseorang yang paling ingin kaudatangi justru berubah jadi layar ponsel yang dingin.

Ia baru muncul keesokan paginya. Datang dengan kaus kusut dan mata yang kelihatan belum tidur. Di tangannya ada kopi kaleng dan roti. Seperti semua hal bisa dirapikan kalau ia cukup terlihat kasihan.

Aku tidak mempersilahkannya masuk.

"Maaf," katanya. "Semalam aku kacau banget."

Aku menatap wajahnya lama sekali. Wajah yang dulu pernah terasa seperti jawaban. Pagi itu cuma terlihat seperti laki-laki yang sangat kukasihi dan sangat melelahkan.

"Aku juga kacau," kataku.

Ia diam.

"Bedanya, semalam aku tetap ada di sini."

Angin pagi menggeser jemuran handuk di samping teras. Ada tukang bubur lewat dari ujung gang. Kos sebelah memutar radio pelan.

"Aku nggak tahu cara minta tolong selain ngilang dulu," katanya akhirnya.

"Aku tahu."

Suaraku tenang. Itu justru yang membuat semuanya terasa lebih sedih.

"Tapi aku capek terus-terusan mencintaimu dalam versi yang baru muncul setelah badai. Aku juga butuh seseorang waktu hidupku berantakan. Aku juga pengin dicari. Aku juga pengin ditemani sebelum semuanya keburu runtuh."

Ia menunduk.

"Aku lagi belajar," katanya.

"Aku tahu," jawabku. "Tapi aku capek jadi tempat belajarmu terus."

Kalimat itu tinggal di antara kami cukup lama. Dan mungkin dari semua yang pernah kami bagi, itu yang paling jujur.

Ia tidak marah. Aku juga tidak.

Kami cuma berdiri di pagi yang pucat itu seperti dua orang yang akhirnya mengerti bahwa saling menyelamatkan tidak selalu berarti harus saling memiliki.

Sebelum pergi, ia mengeluarkan sesuatu dari saku tasnya. Satu kertas lagi, terlipat empat.

"Kalau yang ini jangan dibaca sekarang," katanya.

Aku tidak membuka kertas itu sampai malam.

Isinya lebih pendek dari surat pertama. Tulisannya lebih rapi dari biasanya, seolah ia memaksa tangannya tenang dulu sebelum mulai.

"Cerita kita tidak jauh berbeda. Kita sama-sama pernah dipukul hidup sampai nyaris tidak ingin membuka hari berikutnya."

"Kalau selama ini aku sering datang kepadamu dalam keadaan hancur, itu karena di dekatmu aku tidak perlu malu jadi manusia yang berantakan."

"Terima kasih karena pernah mencintaiku seutuh ini, bahkan waktu aku belum tahu cara tinggal yang baik."

"Kalau nanti seseorang bertanya kepadaku seperti apa rasanya diterima, mungkin aku akan ingat kamu. Ingat teras itu. Ingat bagaimana aku pernah dicintai seada-adanya."

Setelah itu kami benar-benar berpisah.

Tidak ada pintu yang dibanting. Tidak ada blokir-blokiran. Tidak ada orang ketiga yang tiba-tiba muncul untuk membuat semuanya tampak lebih gampang dibenci.

Kami hanya berhenti, lalu hidup berjalan ke arah yang berbeda.

Beberapa bulan kemudian aku pindah kos. Teras lamaku tidak kubawa, tentu saja. Tapi dua surat darinya ikut pindah di sela halaman buku yang jarang kubuka.

Kadang "Everything U Are" masih lewat kalau ponselku diacak. Kadang aku membiarkannya sampai habis. Kadang kuganti cepat-cepat sebelum kenangan keburu duduk terlalu nyaman.

Aku tidak lagi berharap kami kembali. Ada cinta-cinta yang memang tidak gagal. Ia hanya selesai pada tempat yang tidak pernah kita rencanakan.

Keinginanku sekarang sederhana.

Kalau suatu hari nanti aku bercerita tentang dia pada anak-anakku, atau mungkin cuma pada diriku yang sudah lebih tenang, aku ingin bisa berkata tanpa marah. Bahwa dulu aku pernah dicintai oleh seseorang yang sama rapuhnya denganku. Tidak sempurna. Tidak selamanya.

Tapi cukup sungguh untuk membuatku percaya bahwa pernah ada masa ketika dua orang yang hampir runtuh saling menahan sebentar, dan itu pun sudah indah.