3 Menit

99 Keinginan #23

“Aku cuma mau duduk sebentar.” Dulu kalimat itu selalu membuatku menggeser kursi dan menenangkan suaraku sendiri, sampai satu malam aku sadar laki-laki itu tidak pernah datang untuk tinggal.

"Aku cuma mau duduk sebentar."

Dulu, kalimat itu selalu berhasil membuatku membuka pintu.

Tidak peduli jam sudah terlalu malam. Tidak peduli besok aku harus bangun pagi. Tidak peduli siang harinya kami baru saja bertengkar karena ia menghilang tiga hari tanpa kabar, lalu muncul lagi dengan suara lelah seolah aku yang berutang pengertian.

Ia akan berdiri di depan rumahku dengan wajah kusut, kaus yang belum diganti sejak pagi, dan mata yang kelihatan seperti belum tidur cukup. Kadang ia membawa hujan di pundaknya. Kadang bau rokok yang bukan miliknya. Kadang cuma diam yang terlalu berat untuk dibawa pulang sendirian.

Lalu aku akan menggeser satu kursi dari meja makan. Menyeduhkan teh. Mendorong toples biskuit ke tengah. Membiarkan ia duduk di rumahku seperti orang yang tahu tempat itu selalu akan menerima berat tubuhnya.

Barangkali aku mulai jatuh cinta justru dari hal-hal seperti itu.

Bukan dari kata sayang. Bukan dari janji.

Tapi dari caranya hafal aku tidak suka minum teh terlalu manis. Dari caranya mengambil rambutku yang jatuh di punggung baju dengan gerakan pelan. Dari caranya suatu sore membelikanku jeruk dingin saat aku sedang demam.

Ia tidak pernah memberiku sesuatu yang besar. Ia hanya memberiku cukup banyak hal kecil untuk membuatku bodoh.

Ia tahu bagaimana membuat seorang perempuan merasa dilihat. Lalu setelah itu, ia memperlakukannya seenaknya.

Kalau sedang kacau, ia datang. Kalau sedang kosong, ia mencariku. Kalau sedang kalah, ia tahu jalan ke rumahku.

Tapi kalau hidupnya membaik, aku kembali jadi pesan yang dibalas besok. Jadi rencana yang dibatalkan. Jadi perempuan yang disuruh mengerti.

Yang paling menyakitkan, ia tidak pernah bilang aku tidak berarti. Ia justru datang dengan cukup lembut untuk membuatku bertahan.

"Kamu paling ngerti aku."

"Aku tenang kalau di sini."

"Aku cuma capek."

Kalimat-kalimat seperti itu rupanya bisa membuat seseorang tinggal terlalu lama di hubungan yang bahkan tidak pernah diberi nama dengan benar.

Puncaknya datang pada malam ketika hujan turun dari magrib dan listrik di rumah sempat mati dua kali.

Aku baru selesai mengeringkan rambut. Ruang tamu masih bau sampo. Di meja ada semangkuk mi rebus yang keburu lunak karena kutinggal menjawab pesan kantor.

Ponselku menyala.

"Aku di depan."

Sesederhana itu. Tidak ada maaf. Tidak ada tanya aku sedang bisa atau tidak. Tidak ada penjelasan kenapa baru minggu lalu ia berjanji akan datang menemuiku untuk makan malam, lalu menghilang sampai kursi restoran yang kupesan untuk dua orang terasa seperti orang bodoh yang ikut duduk bersama.

Aku membuka tirai sedikit.

Ia memang ada di sana. Berdiri di bawah teras dengan wajah yang tampak kalah lagi.

Dulu, pemandangan seperti itu cukup untuk melunakkan apa pun di dadaku. Malam itu, untuk pertama kalinya, aku capek.

Tetap kubuka pintu. Mungkin karena sebagian diriku masih ingin melihat apakah ia akan datang dengan sesuatu yang baru. Satu penjelasan yang masuk akal. Satu usaha yang pantas.

Ia masuk sambil mengusap air dari rambutnya. Memandangku sebentar. Lalu menatap meja makan.

"Aku belum makan."

Kalimat itu yang pertama keluar dari mulutnya.

Bukan, "Maaf." Bukan, "Aku tahu aku salah." Bukan, "Kamu pasti marah."

Hanya lapar. Seolah semua perempuan yang mencintainya memang diciptakan untuk mengurus lapar dan sedihnya saja.

Ia melangkah mendekati meja. Tangannya sudah mau menyentuh sandaran kursi.

Dan untuk pertama kalinya, aku menahan kursi itu dengan tanganku sendiri.

"Jangan duduk dulu."

Ia mengangkat kepala. Mungkin baru saat itu ia benar-benar melihat wajahku.

"Kenapa?"

Aku tertawa kecil. Pendek. Kering.

"Lucu ya. Kamu masih sempat nanya kenapa."

Ia mengerutkan dahi. "Aku lagi capek. Jangan mulai malam ini."

Kalimat itu jatuh seperti korek api ke bensin.

Banyak sekali hal yang selama ini kutelan tanpa bunyi. Semua berdiri sekaligus di tenggorokanku.

"Jangan mulai?" suaraku naik sebelum sempat kutahan. "Kamu yang datang seenaknya ke rumahku tiap hidupmu berantakan, terus kamu bilang aku yang mulai?"

Ia diam.

Aku maju satu langkah.

"Kamu tahu yang paling jahat dari kamu apa?"

Ia membuka mulut, tapi aku tidak memberinya tempat.

"Bukan karena kamu pergi. Bukan karena kamu suka hilang. Tapi karena setiap kali kamu datang lagi, kamu datang dengan cukup lembut untuk bikin aku percaya semuanya masih bisa dibenerin."

Hujan memukul seng teras lebih keras. Panci kecil di dapur masih menyimpan panas. Mi di mangkukku mengembang terlalu lama.

Aku bisa mendengar napasku sendiri patah-patah.

"Kamu hafal aku suka teh tawar. Kamu hafal aku selalu nyingkirin daun bawang dari soto. Kamu hafal cara bikin aku diem kalau lagi marah. Tapi kamu nggak pernah benar-benar belajar cara memperlakukan aku."

"Aku nggak pernah minta kamu nungguin aku," katanya pelan.

Kalimat itu membuat dadaku seperti ditarik dari dalam.

"Nah, itu dia." Aku mengangguk. "Kamu tidak pernah minta. Kamu cuma membiarkan. Kamu membiarkan aku nunggu. Membiarkan aku terus ngerti. Membiarkan aku yang ngalah. Kamu pakai semua yang kuberi, lalu bersikap seolah aku yang terlalu banyak berharap."

Ia menatap lantai. Tangannya turun dari sandaran kursi.

Untuk sesaat aku benci karena bahkan saat diam pun ia masih tampak seperti orang yang ingin dikasihani.

"Aku capek jadi tempat istirahatmu," kataku. "Aku capek jadi rumah yang kamu datangi waktu dunia jahat, tapi kamu tinggalkan begitu keadaanmu reda."

Matanya akhirnya naik lagi ke wajahku.

"Aku sayang sama kamu."

Aku menutup mata sebentar. Kalimat itu telat. Telat sekali.

"Jangan bilang itu sekarang."

Suaraku lebih pelan, tapi justru itu yang paling sakit.

"Karena kalau memang sayang, kamu tidak akan membuat seseorang mempertanyakan harga dirinya tiap minggu."

Hening berdiri di antara kami cukup lama. Ia tampak ingin mendekat, tapi tidak jadi. Aku masih menahan kursi itu. Seolah kalau kulepaskan sedikit saja, seluruh hidup lama akan duduk lagi di rumahku.

Di luar, air menetes dari ujung atap. Tetangga sebelah mematikan televisi. Jam dinding bergerak satu menit lagi.

Lalu ia mengangguk. Kecil sekali.

"Aku pulang, ya."

Aku tidak menjawab.

Ia membuka pintu sendiri. Keluar. Menutupnya pelan.

Untuk beberapa detik aku tetap berdiri di sana dengan tangan masih di sandaran kursi, seperti tubuhku belum paham bahwa malam ini akhirnya berbeda.

Setelah suara langkahnya hilang, aku duduk di lantai dapur. Bukan untuk menangis keras. Bukan untuk memanggil siapa-siapa.

Aku cuma duduk cukup lama sampai mi di meja benar-benar dingin dan rumah ini terdengar seperti milikku lagi.

Setelah itu aku membuang mi yang terlalu lunak, mencuci satu gelas yang tadi nyaris kuseret untuknya, lalu mematikan lampu teras lebih cepat.

Aku tidak menunggu pesan. Tidak mengecek ponsel. Tidak menebak-nebak apakah ia akan menyesal di jalan pulang.

Kalau pun selama ini aku tidak pernah menemukan cinta yang tulus darimu, setidaknya aku tahu aku tidak pernah gagal memberi ketulusan. Dan malam itu, untuk sekali ini, ketulusan itu kukembalikan ke diriku sendiri.

Empat bulan sesudahnya tidak membuat apa-apa jadi ajaib. Aku tetap bangun pagi. Tetap kerja. Tetap pulang ke kamar yang kadang terlalu sepi. Hanya saja, pelan-pelan aku tidak lagi menoleh ke layar ponsel setiap beberapa menit seperti orang yang masih ingin dipilih.

Empat bulan kemudian, sepulang kerja, aku mampir ke minimarket dekat gang karena pasta gigi di rumah habis. Jam hampir sebelas. Pendingin minuman berdengung.

Aku berdiri sebentar di depan rak makanan instan, lalu sadar itu pertama kalinya aku membeli makan malam tanpa memikirkan selera siapa-siapa selain seleraku sendiri.

Saat mau mengambil botol air di rak paling atas, ujung jariku cuma menyentuh plastiknya sedikit.

Seorang laki-laki di sebelahku menjangkau rak itu lebih dulu.

"Yang ini?"

Aku mengangguk. "Iya. Terima kasih."

Ia menyerahkan botol itu, lalu bergeser sedikit supaya aku bisa lewat lebih dulu ke kasir.

Di pintu kaca, ia menahannya sebentar karena kedua tanganku penuh.

"Hati-hati."

Cuma itu. Tidak lebih.

Di luar, aspal masih basah dan udara malam bau hujan.

Di jalan pulang, aku sadar keinginanku sudah berubah. Bukan lagi tentang kamu yang akhirnya belajar tinggal.

Mungkin cuma tentang satu kemungkinan kecil. Bahwa suatu hari nanti, kalau ada yang datang lagi, ia datang tanpa membuatku harus kehilangan diriku sendiri lebih dulu.