Kritis Bukan Kriminal
Sekolah Rusak, Pidato Mulus
Negara Masuk Lewat Meja Makan
99 Keinginan #22
“Pak, tinggal tanda tangan.” Kalimat itu terdengar kecil, tapi sesudahnya jam pulang ayah berubah, ibu lebih sering memanaskan lauk, dan rumah kami mulai belajar takut pada negara.
Kolom Utama
"Pak, tinggal tanda tangan."
Ayah bilang kalimat itu diucapkan pelan, hampir seperti orang menawarkan kursi. Map biru didorong ke depannya. Kolom tanda tangan sudah dibuka. Pena diletakkan di atas meja, rapi sekali, seolah semua orang di ruangan itu tahu urusan akan selesai dalam lima detik.
Tidak ada bentakan. Tidak ada meja digebrak. Tidak ada ancaman yang terdengar seperti ancaman.
Tapi sejak hari itu, jam pulang ayah berubah.
Dan rumah kami berubah bersamanya.
Orang jujur biasanya memang tidak langsung dihukum dengan bunyi keras.
Mereka dipelankan dulu hidupnya sedikit demi sedikit.
Aku tahu itu dari ayah.
Dulu, sebelum semua menjadi begini, suara motornya sudah terdengar dari ujung gang sebelum azan magrib. Ibu akan mematikan kompor sebentar, aku menutup buku, adikku berlari ke teras sambil membawa mobil-mobilan yang rodanya tinggal tiga.
Ayah masuk sambil melepas helm, mengibas debu dari pundak kemejanya, lalu bertanya hal-hal kecil yang selalu sama.
"Hari ini siapa yang paling bikin ribut di rumah?"
Atau,
"Nasi masih panas?"
Kalimatnya biasa saja, tapi dari situ rumah tahu bahwa satu hari kerja sudah selesai.
Sekarang ayah pulang lebih malam.
Sering sesudah isya. Kadang ketika nasi di meja sudah dingin dan sayur bening harus dipanaskan untuk ketiga kali. Kadang ketika adikku tertidur dengan pensil warna masih di tangan.
Ibu tidak banyak bertanya di depan kami. Ia cuma memanaskan lauk lagi. Menggeser piring ke sisi ayah. Lalu bilang, "Makan dulu."
Ayah mengangguk seperti orang yang baru saja kalah dalam sesuatu, tapi belum siap menceritakannya.
Belakangan aku tahu semuanya berawal dari satu tanda tangan yang tidak ia berikan.
Ayah bekerja di kantor yang mengurus sekolah-sekolah negeri di kota kami. Beberapa minggu lalu ada berkas yang harus selesai cepat. Angka-angka sudah dirapikan. Foto-foto sudah dipilih. Laporan itu akan naik ke atas meja orang yang lebih tinggi jabatannya, lalu turun lagi jadi kabar baik di televisi.
Tapi ayah bilang ia tidak bisa menandatanganinya.
Ia tidak bisa menulis bahwa semuanya baik-baik saja saat plafon dua ruang kelas di sekolah pinggir kota masih bocor. Ia tidak bisa bilang program sudah berjalan mulus saat buku paket belum sampai dan beberapa anak masih pulang dengan formulir daftar ulang yang membuat orang tua mereka menunduk lama di meja. Ia tidak bisa pura-pura bangga pada makan siang gratis yang difoto dari banyak sudut kalau sesudahnya guru-guru tetap patungan membeli kapur dan lakban.
Ayah cuma bilang yang benar.
Dan rupanya di negeri ini, itu sudah cukup untuk membuat hidup seseorang dipersempit pelan-pelan.
Mejanya dipindah. Rapat-rapat mulai digelar tanpa namanya. Pesan-pesan datang malam-malam dari nomor yang tidak dikenal. Seseorang menyarankan ia "jangan terlalu lurus" kalau masih ingin kariernya panjang.
Yang paling aneh, tidak ada satu pun yang terdengar seperti ancaman besar.
Semuanya justru halus. Sopan. Rapi.
Seperti orang-orang yang ingin menghukummu tapi tetap menjaga dasi mereka tidak miring.
Lalu suatu malam, kami melihat kabar yang lebih buruk dari televisi ruang tengah.
Seorang pembela HAM bernama Andrie diserang dua orang tak dikenal saat naik motor di Salemba, sekitar pukul sebelas lewat tiga puluh tujuh malam. Air keras mengenai wajahnya, mata kanan, tangan, dan dada. Di bawah layar tertulis ia dirawat intensif di RSCM dengan luka bakar sekitar dua puluh empat persen.
Ibu memelankan suara televisi. Ayah tidak ikut duduk. Ia berdiri di dekat pintu dapur dengan kedua tangan terlipat, menatap layar seperti sedang melihat masa depan dari sudut yang tidak ingin ia kenali.
Berita berikutnya bilang tidak ada barang yang hilang. Jadi orang-orang curiga ini bukan rampok biasa. Banyak yang menduga serangan itu berkaitan dengan apa yang Andrie kerjakan belakangan ini, ikut membongkar kekerasan aparat dalam kerusuhan Agustus tahun lalu, keras mengkritik RUU TNI, dan baru selesai merekam podcast di YLBHI tentang militerisme sebelum kejadian itu.
Besok paginya tagar tentang keberanian memakai namanya beredar di mana-mana. Kapolri memberi atensi khusus, kata berita siang. Komisi III DPR menggelar rapat, kata pembaca acara sore.
Tapi di meja makan kami, semua kabar itu cuma berubah jadi satu hal yang lebih sederhana dan lebih menakutkan.
Orang yang jujur bisa dibakar. Dan rupanya, orang yang kritis juga.
Sesudah Andrie, berita lain seperti ikut menumpuk di rumah kami.
Nama Tom Lembong masih disebut-sebut orang sebagai contoh bagaimana satu keputusan bisa diseret jadi perkara panjang. Nama Nadiem Makarim masuk berita sidang kasus laptop sekolah. Empat aktivis muda sempat dituntut dua tahun penjara hanya karena mengajak orang turun ke jalan dan membuka posko aduan.
Lalu berita lain menyusul dari segala arah.
Presiden bicara soal kemungkinan perang dunia ketiga. Di hari lain, Indonesia masuk ke forum keamanan untuk Gaza, tapi Palestina sendiri tidak ada di dalam kelompok itu. Di ponsel ibu, video tentang mobil dinas miliaran demi menjaga gengsi pejabat lewat di antara resep sahur dan promo minyak goreng. Pada malam yang lain, televisi menyiarkan buka puasa para pejabat di meja-meja panjang yang terang sekali, sementara ibu di rumah kami mematikan lampu dapur lebih cepat supaya token listrik cukup sampai akhir bulan.
Negara terasa kacau dengan cara yang aneh.
Besar di pidato. Kecil di sekolah. Ramai di layar. Tapi pelit sekali saat harus memperbaiki hidup orang biasa.
Besoknya di sekolah, beberapa temanku membicarakan berita itu seperti orang membicarakan hujan di kota lain.
"Yang penting kita masih bisa makan." "Yang penting masih bisa tidur." "Ngapain mikirin negara, toh nggak ngaruh ke kita."
Dulu mungkin aku juga akan mengangguk.
Baru sekarang aku tahu negara tidak selalu datang sebagai pidato, bendera, atau wajah-wajah di televisi. Kadang ia datang sebagai plafon kelas yang bocor. Sebagai formulir daftar ulang yang membuat orang tua menunduk lama. Sebagai ibu yang mulai menghitung beras lebih pelan. Sebagai ayah yang pulang makin malam hanya karena menolak bilang yang salah itu benar.
Baru sekarang aku tahu orang bisa merasa negeri ini jauh hanya selama akibatnya belum sampai ke rumah mereka sendiri.
Dan saat akibat itu benar-benar datang, ia tidak akan terasa seperti pelajaran kewarganegaraan. Ia terasa seperti lauk yang dingin. Seperti orang tua yang lebih kurus. Seperti tubuh yang dibakar karena terlalu berani bicara.
Aku pernah mendengar ibu bertanya saat mereka mengira aku sudah tidur.
"Kenapa harus kamu?"
Lama sekali ayah tidak menjawab. Aku bisa mendengar suara sendok kecil menyentuh bibir gelas.
Lalu ayah berkata pelan,
"Karena kalau aku ikut tanda tangan, namaku ada di bawah kebohongan itu."
Ia berhenti sebentar.
"Dan besok, yang pulang ke rumah bukan cuma aku. Bohong itu ikut pulang juga."
Sejak malam itu, aku tidak pernah lagi melihat tanda tangan sebagai coretan biasa.
Ia bisa berubah jadi paku. Bisa juga jadi duri yang ikut dibawa orang pulang.
Yang paling menyakitkan dari semua ini justru hal-hal kecil.
Ayah jadi lebih sering lupa mencukur kumis. Sepatu kerjanya tidak segera dibersihkan. Ia mulai duduk lebih lama di motor yang sudah terparkir, seolah rumah pun butuh waktu untuk dimasuki.
Kadang ia tetap berusaha terdengar seperti ayah yang dulu.
"Nilai matematikamu gimana?"
Atau,
"Adik jangan kebanyakan main game."
Tapi suaranya tidak lagi jatuh di rumah dengan cara yang sama. Ada sesuatu yang tertahan di tenggorokannya, seperti orang yang sedang mencoba menelan batu kecil tanpa membuat siapa pun khawatir.
Ibu juga berubah.
Ia sekarang lebih sering menghitung belanja sambil menggigit ujung pulpen. Lebih sering mematikan lampu yang tidak dipakai. Lebih lama berdiri di depan rak beras.
Namun setiap ayah pulang, ia tetap memanaskan lauk dengan gerakan yang sama. Tetap mengambil piring yang paling tidak retak. Tetap memisahkan duri ikan kalau ayah terlalu lelah untuk memperhatikan.
Melihat itu, aku jadi paham sesuatu yang tidak pernah diajarkan buku pelajaran mana pun.
Bahwa di rumah-rumah seperti rumah kami, keberanian sering kali tidak tampak seperti pidato.
Ia tampak seperti perempuan yang tetap memasak walau cemas. Seperti anak-anak yang pura-pura tidur supaya ayahnya bisa makan tanpa ditanya macam-macam. Seperti laki-laki yang pulang lebih malam, lebih pelan, tapi tetap pulang dengan tangan yang belum dipakai menandatangani kebohongan.
Malam ini motor ayah kembali terdengar dari ujung gang saat jam di dinding hampir menunjukkan pukul sembilan.
Aku sudah duduk di meja makan. Ibu baru saja menurunkan sayur dari kompor. Adikku setengah tertidur di kursi sambil memeluk buku gambar.
Ayah masuk, meletakkan helm, lalu tersenyum kecil seperti biasa. Capeknya tidak hilang, tapi senyum itu masih ada.
"Belum tidur?"
"Belum," jawabku.
Ia menarik kursi pelan. Duduk. Mencuci tangan. Memandang kami satu per satu seperti orang yang baru saja sampai di tempat yang membuatnya masih sanggup bertahan sampai besok.
Dan di saat seperti itu, keinginanku selalu datang sederhana sekali.
Aku tidak ingin ayah jadi pahlawan di koran. Tidak ingin namanya dipuji di podium.
Aku cuma ingin negeri ini berhenti membakar orang jujur. Berhenti melelehkan keberanian orang kecil sedikit demi sedikit. Berhenti memudarkan wajah ayahku setiap kali ia pulang.
Aku cuma ingin orang jujur bisa pulang sebelum lauk dingin.