3 Menit

99 Keinginan #21

“Kalau jadi orang besar, kamu pulangnya selalu malam begini?” Anak kecil di lift itu bertanya, dan untuk pertama kalinya aku merasa terlalu lelah untuk berbohong pada diriku sendiri.

"Kalau jadi orang besar, kamu pulangnya selalu malam begini?"

Anak kecil itu sudah berdiri di dalam lift waktu pintunya hampir tertutup.

Ia memakai seragam merah putih yang bagian lututnya kotor. Tasnya terlalu besar untuk punggung sekecil itu. Di tangan kirinya ada es krim cokelat yang mulai meleleh ke jari.

Jam di ponselku menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh tujuh. Lampu kantor tinggal separuh. AC tetap dingin seperti orang yang tidak punya rumah untuk dipikirkan. Di luar dinding kaca, kota tampak seperti halaman Excel yang belum selesai. Di layar ponsel, pengingat tagihan listrik muncul lagi, lalu kututup tanpa kubaca sampai habis.

Aku menatap anak kecil itu cukup lama sebelum sadar wajahnya adalah wajahku sendiri.

"Kamu siapa?"

Ia mengernyit, lalu menjilat es krimnya cepat-cepat sebelum tetesan berikutnya jatuh ke lantai.

"Masa lupa."

Pintu lift tertutup rapat. Angka di atas kepala kami menyala. 13.

Padahal gedung kantorku cuma sampai lantai dua belas.

Anak kecil itu menatapku dari atas ke bawah. Kemeja yang kusingsingkan asal. ID card yang masih menggantung. Mata yang seharian dipakai menatap layar.

"Jadi besar capek, ya?"

Aku tertawa kecil. Bukan karena lucu. Karena tidak tahu harus menjawab apa.

Lift mulai turun pelan.

Di lantai sebelas, pintunya terbuka sebentar.

Bukan lorong kantor yang kulihat. Melainkan halaman rumah lama kami. Pukul lima sore. Ibuku berdiri di teras dengan handuk di bahu. Ada bau gorengan dari dapur. Ada suara televisi dari rumah sebelah. Dan ada aku yang lebih kecil lagi, berlari masuk sambil kaki penuh debu.

Pintu menutup lagi.

Anak kecil di sampingku menggigit ujung es krimnya.

"Ibu masih suka manggil mandi sebelum magrib?"

"Masih," jawabku pelan. "Cuma sekarang dari kepala."

Ia mengangguk seolah paham.

Di lantai delapan, pintu lift terbuka lagi.

Kali ini ruang kelas tiga SD. Buku tulis bersampul cokelat. Pensil yang digigit ujungnya. Suara kipas yang lebih berisik daripada angin. Di papan tulis ada tulisan cita-cita.

Dokter. Guru. Pilot.

Lalu namaku. Tulisan tangan miring yang berusaha rapi.

Orang baik.

Aku memalingkan muka lebih dulu.

"Aku dulu nulis itu?" tanyaku.

Anak kecil itu mengangkat bahu.

"Iya. Soalnya waktu itu aku belum tahu orang besar lebih suka jadi sibuk daripada jadi baik-baik aja."

Kalimat itu jatuh pelan, tapi entah kenapa lebih keras daripada bunyi pintu lift.

Di lantai lima, pintu terbuka pada meja makan rumah kami. Ayah belum pulang. Ibuku sedang meniup sup yang masih terlalu panas. Aku duduk dengan seragam belum ganti, bercerita macam-macam tanpa urut. Tentang nilai matematika. Tentang teman yang menangis. Tentang capung yang masuk kelas.

Tidak ada yang penting. Tapi semua didengar.

Pintu tertutup lagi.

"Kamu sekarang kalau pulang cerita ke siapa?" tanya anak kecil itu.

Aku menatap pantulan wajahku di dinding lift.

"Kadang nggak cerita."

"Kenapa?"

"Capek."

Ia diam sebentar. Lalu menjilat es krim yang hampir habis.

"Aku kira kalau jadi besar, kita bisa beli apa aja yang kita mau."

"Nggak juga."

"Terus kenapa tetap dikejar?"

Aku ingin menjawab tagihan. Ingin menjawab tanggung jawab. Ingin menjawab uang belanja yang selalu terasa kurang menjelang tanggal tua. Ingin menjawab ibu yang sekarang suka bilang tidak usah buru buru pulang padahal suaranya jelas menunggu. Ingin menjawab hidup tidak semurah waktu uang dua ribu di saku celana pendek sudah cukup membuat satu sore terasa kaya.

Tapi di depan anak kecil yang dulu percaya masa depan adalah tempat yang terang, semua jawaban terdengar jelek.

Lift berhenti di lantai tiga.

Pintu terbuka pada lapangan sekolah setelah hujan. Sepatu basah. Seragam setengah kering. Langit pucat. Aku kecil berdiri di bawah pohon jambu sambil tertawa dengan mulut belepotan saus cilok.

Anak kecil di sampingku ikut melihat.

"Aku lucu juga, ya."

Untuk pertama kalinya malam itu aku benar-benar tersenyum.

"Iya."

"Terus kamu sekarang bahagia nggak?"

Pertanyaan itu membuat bahuku terasa lebih berat dari laptop di tas.

Aku tidak langsung menjawab.

Pintu lift menutup. Kami bergerak lagi. Aku bisa mendengar dengung mesin di atas kepala seperti napas seseorang yang ditahan terlalu lama.

"Nggak selalu," kataku akhirnya.

"Sering sedih?"

"Kadang."

"Karena capek?"

"Karena banyak yang harus dipikirin."

"Sering nangis?"

"Nggak sering."

Ia menatapku curiga.

"Bohong."

Aku hampir membantah, tapi teringat toilet kantor lantai tujuh. Keran yang kubuka terlalu deras supaya tidak ada yang mendengar. Wajah sendiri di cermin yang kulihat hanya sekilas karena takut tampak terlalu jujur. Juga teringat malam-malam ketika aku pulang dengan kepala penuh angka, lalu tetap harus terdengar tenang waktu ibu bertanya, "Kamu udah makan?"

Anak kecil itu menempelkan punggung ke dinding lift.

"Kalau aku lihat kamu sekarang, aku harus bangga atau kasihan?"

Untuk beberapa detik, lift terasa seperti tempat paling sempit di kota.

Lalu, entah dari mana, jawaban itu datang.

"Jangan kasihan."

Suaraku serak sedikit.

"Aku masih berusaha."

"Apa?"

"Tetap jadi orang baik, meski sering telat pulang."

Ia menatapku lama sekali. Lebih lama daripada banyak orang dewasa menatap wajah orang yang mereka cintai.

"Berusaha pulang, ya," katanya. "Bukan cuma berusaha kuat."

Di lantai dasar, pintu lift terbuka ke lobi kantor yang kosong. Satpam di meja depan tertidur sambil menekuk koran. Lampu luar memantul di ubin.

Aku menoleh ke samping.

Anak kecil itu sudah tidak ada. Yang tertinggal cuma satu tetes es krim cokelat di lantai lift, kecil sekali, nyaris tidak meyakinkan.

Malam itu aku tidak langsung memesan ojek.

Aku duduk dulu di tangga depan gedung. Membuka ponsel. Melihat dua puluh tiga pesan yang belum kubalas, tiga panggilan tak terjawab dari ibu, dan satu foto keponakanku yang dikirim kakakku sore tadi. Di bawahnya ada satu pesan atasan yang masuk tiga belas menit lalu. Besok pagi rapat dimajukan.

Wajahnya belepotan es krim.

Untuk pertama kalinya setelah lama, keinginanku tidak terdengar besar.

Aku tidak ingin jadi orang paling sibuk di ruangan. Tidak ingin cepat naik. Tidak ingin dipuji tahan banting.

Aku cuma ingin pulang sebelum malam terlalu tua. Menelepon ibu sebelum suaranya keburu jadi kenangan. Membeli es krim cokelat di minimarket dekat rumah. Lalu duduk sebentar di depan pintu, memakannya pelan-pelan, sambil memberitahu anak kecil yang dulu tinggal di tubuh ini bahwa jadi besar memang tidak seseru yang kami kira.

Banyak yang harus dibayar. Banyak yang harus dijaga. Banyak yang tidak bisa ditinggal begitu saja hanya karena hati sedang lelah.

Tapi besok pagi, aku tetap ingin bangun. Tetap ingin bekerja. Tetap ingin pulang. Tetap ingin suatu hari bisa menatap anak kecil itu lagi tanpa merasa terlalu kalah.

Tapi aku masih mencoba jadi orang yang tidak membuatnya malu.