2 Menit

99 Keinginan #20

Kita cuma punya satu lukisan pernikahan. Karena itu aku ingin menuliskan semua yang tidak sempat ditampung cat, supaya anak-anak kita kelak tahu rumah ini dibangun dari lebih banyak hal daripada satu hari yang rapi.

"Kita cuma punya satu lukisan pernikahan."

Aku bilang itu sambil berdiri di bawah pigura kayu yang mulai kusam di ruang tengah.

Pukul empat lewat sedikit. Cahaya sore masuk miring dari jendela depan dan jatuh di lantai seperti kain tipis berwarna madu. Kipas angin berputar pelan. Di luar, ada suara anak-anak pulang mengaji dan knalpot motor yang sesekali lewat terlalu keras.

Sore itu kamu sedang melipat baju sekolah anak kita di atas karpet ruang tengah. Yang satu hilang kaus kakinya sebelah. Yang satu lagi meninggalkan remah biskuit di sofa. Di dapur, air untuk teh hampir mendidih. Bau bawang goreng dari rumah tetangga sempat masuk lalu hilang lagi.

Aku menoleh ke lukisan itu.

Aku masih muda di sana. Kamu juga. Wajah kita terlalu tenang. Baju kita terlalu rapi. Tidak ada bekas kurang tidur. Tidak ada tagihan listrik. Tidak ada noda minyak di dastermu. Tidak ada rambutku yang mulai beruban di dekat telinga.

"Iya," katamu. "Satu doang."

Lalu entah kenapa aku jadi berpikir, sayang sekali kalau pernikahan selama ini cuma ditinggal dalam satu gambar yang diam.

Sebab lukisan itu tidak bisa menunjukkan bagaimana tanganku gemetar waktu pertama kali mengucapkan janji. Ia juga tidak bisa menunjukkan bagaimana kita pernah diam dua hari penuh karena pertengkaran bodoh soal ibu kota mana yang lebih baik untuk ditinggali, lalu baikan hanya karena kamu meletakkan teh manis hangat di samping sikuku tanpa bilang apa-apa.

Lukisan itu tidak tahu malam ketika anak pertama kita lahir dan aku mondar mandir di lorong rumah sakit yang dingin sambil lupa sandalku tertukar dengan sandal orang lain. Ia tidak tahu tahun-tahun ketika uang kita tipis, ketika satu ekor ayam harus cukup untuk dua kali makan, ketika aku bilang bagian paha untukmu padahal kamu tahu dari kecil itu potongan favoritku.

Ia juga tidak tahu betapa seringnya kita nyaris menyerah.

Nyaris, tapi tidak jadi.

Karena selalu ada sesuatu yang kecil lalu menahan kita. Teh hangat. Punggung yang dipijat pelan. Tangan yang lebih dulu mencari tangan lain di bawah selimut saat listrik padam. Kalimat sederhana seperti, "Besok kita pikirkan lagi."

Maka kupikir, mungkin kita memang cuma punya satu lukisan pernikahan. Tapi kita tidak boleh cuma meninggalkan satu bukti.

Aku ingin menuliskan semuanya.

Bukan supaya anak-anak kita mengira kita selalu bahagia. Bukan juga supaya mereka tumbuh dengan bayangan bahwa cinta yang baik tidak pernah retak.

Aku justru ingin mereka tahu yang sebaliknya.

Bahwa rumah ini pernah berisik. Pernah sempit. Pernah hampir roboh oleh capek dan salah paham.

Tapi tetap berdiri karena dua orang yang tinggal di dalamnya tidak berhenti pulang.

Nanti akan kutulis bagaimana kamu selalu pura-pura tidak lapar supaya anak-anak kenyang lebih dulu. Akan kutulis bagaimana aku pernah mendengar kamu menangis diam diam di kamar mandi dan tahu itu hanya dari suara gayung yang terlalu lama tidak bergerak. Akan kutulis bagaimana pada hari-hari biasa, cinta sering kali cuma terlihat seperti siapa yang mengunci pintu, siapa yang mematikan kompor, siapa yang bangun lebih dulu saat anak kita batuk tengah malam.

Anak-anak kita akan mulai belajar membaca dengan buku itu.

Mereka akan mengeja nama kita pelan pelan. Mereka akan tahu ayahnya pernah gugup. Mereka akan tahu ibunya pernah keras kepala. Mereka akan tahu pernikahan bukan cuma hari ketika dua orang tampak bagus di depan tamu.

Pernikahan adalah hari-hari sesudahnya. Hari ketika lipstik habis. Hari ketika gaji telat. Hari ketika tubuh lelah. Hari ketika cinta harus bekerja lebih keras dari mulut.

Di luar, azan magrib mulai terdengar tipis dari ujung gang. Air di dapur pasti sudah mendidih penuh sekarang. Sebentar lagi anak-anak akan berebut masuk sambil membawa lapar dan cerita mereka masing-masing.

Dan kalau buku itu cukup panjang untuk bertahan lebih lama dari kita, aku ingin anak-anak mereka juga membacanya.

Supaya cucu-cucu kita tahu bahwa keluarga ini tidak lahir dari kisah yang mulus. Ia lahir dari dua orang biasa yang berkali kali memilih duduk lagi di meja yang sama.

Satu lukisan hanya menyimpan wajah kita.

Aku ingin buku itu menyimpan hidup kita.