CHAPTER #34
Sisa Harapan

99 Keinginan #34

Beberapa hidup tidak gagal karena kurang cinta. Mereka selesai karena satu orang datang terlalu siap, sementara yang lain terlalu lama menoleh ke belakang. Dan sesudah semuanya benar-benar lewat, yang paling menyakitkan justru semua kehidupan kecil yang tidak pernah lahir.

Menjelang subuh, Nadine masih belum tidur.

Lampu kamar kosnya mati. Hanya layar ponsel yang sesekali membuat wajahnya terlihat pucat. Ia sudah mengetik banyak kalimat malam itu. Terlalu banyak, malah.

aku minta maaf.

hapus.

rumahmu indah.

hapus.

aku telat, ya?

hapus lagi.

Pada akhirnya, yang terkirim justru kalimat paling pendek dari semuanya.

aku sampai. makasih buat tehnya.

Ia menatap pesan yang sudah terkirim itu lama sekali. Lalu meletakkan ponsel di samping bantal seperti orang yang baru memberanikan diri mengetuk pintu, tapi tidak sanggup menunggu siapa yang akan membukanya.

Beberapa jam kemudian, aku membacanya di rumah.

aku sampai. makasih buat tehnya.

Tidak ada emoji. Tidak ada tambahan apa-apa. Tidak ada permintaan untuk bicara lagi.

Aku membacanya waktu matahari sudah naik. Duduk di meja makan sendirian. Masih pakai kaus tidur semalam. Rumah tenang sekali sampai bunyi air kolam di depan terdengar masuk ke sela-sela pintu.

Pesan itu kubaca dua kali. Lalu tiga kali. Bukan karena sulit dimengerti. Justru karena sesederhana itu.

Ada orang-orang yang datang ke hidupmu dengan kalimat panjang, lalu pergi tanpa benar-benar meninggalkan apa-apa. Ada juga orang yang cuma mengirim tujuh kata, tapi cukup untuk membuat satu rumah terasa lebih kosong dari biasanya.

Aku tidak membalas. Bukan karena ingin terlihat kuat. Bukan juga karena marah. Aku cuma tahu, kalau kubalas satu kata saja, akan ada bagian dalam diriku yang diam-diam mulai berharap lagi.

Jadi pesan itu kubiarkan tinggal di sana. Tidak kuhapus. Tidak juga kusentuh lagi.

Tiga minggu sesudah pesan itu, aku akhirnya membuka kotak hand mixer yang dulu kubeli untuk Nadine.

Pagi itu rumah sedang tenang. Ruang tamu krem kena cahaya tipis dari jendela. Dinding maroon di sisi kiri kelihatan lebih lembut dari biasanya. Dari depan, suara air kolam ikan masuk pelan ke dapur abu-abu.

Aku membaca lagi catatan resep cheesecake yang pernah difoto Nadine dari buku tulis kecilnya. Tulisan tangannya rapi. Ada bekas noda tipis di pojok kertas. Di bawah daftar bahan, ia pernah menulis kecil-kecil:

jangan panik kalau retak, dinginkan dulu

Aku tersenyum sebentar.

Nadine memang seperti itu. Bisa kesal setengah mati waktu kuenya gagal, lalu seminggu kemudian mencobanya lagi seolah dapur selalu pantas diberi kesempatan kedua.

Ia juga pernah bilang sesuatu yang waktu itu terdengar seperti bercanda, padahal matanya terlalu serius untuk sekadar main-main.

Kami sedang makan martabak di atas motor yang diparkir depan minimarket. Hujan baru reda. Ia menutup kotak saus sambil bilang,

"Aku belum tentu mau punya anak."

Aku menoleh. "Belum tentu atau enggak mau?"

Ia mengangkat bahu. "Bisa dua-duanya."

"Kenapa?"

Nadine diam sebentar. Lalu menjawab pelan, "Aku enggak mau anakku tumbuh kayak aku. Rumah berantakan. Orang dewasa belum selesai sama dirinya sendiri. Anak kecil disuruh ngerti sebelum waktunya."

Aku tidak langsung menjawab. Karena beberapa ketakutan memang terlalu besar untuk dibantah cepat-cepat.

Jadi aku cuma bilang, "Yaudah. Kita pelihara ikan dulu."

Nadine menoleh. "Apaan?"

"Tes dulu. Kalau dua ikan mas aja bisa kita jaga baik-baik, baru nanti rapat lagi soal anak."

Ia tertawa. Benar-benar tertawa. "Kamu mau jadi ayah ikan?"

"Daripada langsung gagal jadi ayah manusia."

"Bagus. Berarti kalau ikannya mati, pembahasan ditutup."

"Keras banget."

Waktu itu aku ikut tertawa. Tapi diam-diam aku tahu, yang membuatku jatuh hati bukan cuma lucunya percakapan itu. Melainkan fakta bahwa di tengah semua takutnya, Nadine masih mau membayangkan kemungkinan bersamaku, meski bentuknya baru sebatas dua ikan yang harus diberi makan pagi dan sore.

Cream cheese, gula, telur, sedikit vanila. Tanganku tidak selihai tangannya. Gerakanku kaku. Mixer kecil itu berdengung canggung di tangan.

Sesekali aku berhenti cuma untuk memastikan takarannya tidak terlalu jauh. Lalu, entah kenapa, di tengah bau mentega dan adonan dingin itu, kepalaku mulai membayangkan hidup yang tidak pernah jadi milikku.

Di dunia lain mungkin Nadine berdiri di tempatku sekarang. Rambutnya diikat asal. Ada sedikit tepung di pipi. Ia pura-pura kesal karena aku terlalu banyak tanya.

"Ini kurang halus enggak?"

"Sabar. Jangan diburu-buru."

Mungkin di dunia lain ada anak kecil duduk di kursi tinggi dekat meja dapur, memukul-mukul sendok plastik ke meja sambil minta ikut mengaduk. Mungkin Nadine akan melarang pelan. Mungkin aku akan tertawa dan diam-diam memberi satu tetes adonan ke ujung jarinya.

Di dunia lain mungkin cheesecake itu tidak sempat dingin sempurna karena keburu dipotong kecil-kecil oleh tangan yang belum sabar. Mungkin ada remah di lantai. Mungkin ada suara kecil memanggil dari ruang tamu,

"Ayah, lihat."

Lalu aku menoleh dan melihat langkah pertama yang goyah di lantai krem itu. Dari dinding maroon ke arah lututku. Satu langkah. Lalu satu lagi.

Dan mungkin di dunia lain itu, Nadine akan berdiri di ambang dapur dengan mata lelah tapi bahagia, seperti orang yang capeknya pulang ke tempat yang benar.

Adonan di mangkuk hampir tumpah karena aku terlalu lama diam. Aku mematikan mixer. Menghela napas. Rumah kembali sunyi.

Tidak ada sendok plastik yang dipukul-pukul. Tidak ada tawa kecil. Tidak ada suara yang memanggilku ayah.

Hanya aku, oven, dan jam dinding.

Yang paling sedih dari orang-orang yang tidak jadi bersama kadang bukan perpisahannya. Yang paling sedih justru semua kehidupan kecil yang ikut tidak pernah lahir.

Sepatu sekolah yang tidak pernah berjajar di dekat pintu.

Botol minum kecil yang tidak pernah tertinggal di meja. Hari pertama masuk TK yang tidak pernah kami tebak siapa yang akan lebih dulu menangis, anaknya atau ibunya.

Aku pernah membayangkan semua itu terlalu jelas. Mungkin itu sebabnya hilangnya terasa seperti kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat datang.

Cheesecake itu akhirnya jadi juga. Bagian tengahnya sedikit turun. Permukaannya tidak secantik buatan Nadine. Tapi tidak retak.

Aku menaruhnya di meja makan. Memotong satu bagian kecil. Rasanya tidak seimbang. Kejunya terlalu tebal. Bagian bawahnya terlalu padat.

Aku tetap menghabiskannya pelan-pelan.

Setelah itu aku bawa satu potong ke teras. Belum benar-benar habis waktu anak tetangga depan rumah datang sama ayahnya. Anak itu masih kecil. Jalannya belum terlalu stabil. Setiap dua langkah sekali, tangannya mencari jari ayahnya lagi.

"Pelan," kata ayahnya sambil jongkok sedikit.

Anak itu tertawa. Lalu, seperti hal paling biasa di dunia, memanggil,

"Yah."

Sederhana sekali. Pendek sekali. Tapi suara itu masuk ke rumahku seperti sesuatu yang salah alamat.

Aku melihat mereka cukup lama. Ayah itu membetulkan sandal kecil di kaki anaknya. Anaknya menunjuk kolam ikanku tanpa malu. Ayahnya tersenyum minta izin dengan mata.

"Lihat ikan?" tanyaku.

Anak kecil itu mengangguk cepat.

Aku jongkok di dekat kolam. Menunjukkan ikan oranye yang paling sering naik ke permukaan. Anak itu tepuk tangan. Ayahnya tertawa kecil.

Dan entah kenapa, di tengah suara air dan cheesecake yang masih dingin di piringku, aku kembali melihat hidup yang tidak pernah jadi milikku.

Di dunia lain mungkin aku bukan orang asing yang jongkok di dekat kolam sambil menjelaskan warna ikan. Di dunia lain mungkin ada tangan kecil yang dari awal sudah tahu cara memanggil namaku.

Sambil makan, aku membayangkan pagi lain di dunia lain. Aku pakai baju kusut. Nadine sibuk mengecek bekal. Ada anak kecil rewel karena kaus kakinya terbalik. Aku jongkok di depan pintu, membetulkan sepatu kecil itu, lalu mendengar suara paling sederhana dan paling tidak mungkin lagi untuk kudengar:

"Ayah, cepetan."

Dan dari dapur:

"Tama, jangan lupa botol minumnya."

Hidup kadang seperti itu. Terlambat sedikit saja, bentuknya sudah lain. Masih ada rasa. Masih ada sisa hangat. Tapi tidak bisa dipulangkan ke bentuk semula.

Ada hal-hal yang nasibnya seperti nasi yang telanjur jadi bubur. Masih hangat. Masih bisa disantap pelan-pelan sambil mengingat rasanya. Tapi tidak bisa diminta kembali jadi beras.

Di sore yang lain, Nadine juga sedang hidup bersama hal-hal yang tidak pernah jadi.

Sore itu ia berhenti di depan toko perlengkapan anak, awalnya cuma karena macet. Di dalam etalase ada tas sekolah kecil bergambar awan. Botol minum warna biru muda. Sepasang sepatu dengan lampu kecil di tumit.

Ia menatap terlalu lama. Sampai penjaga toko sempat mengira ia sedang mencari hadiah.

"Cari umur berapa, Kak?"

Nadine tersenyum tipis. "Enggak. Cuma lihat-lihat."

Padahal yang ia lihat bukan barangnya. Ia sedang melihat hidup yang dulu sempat ia tinggalkan sebelum sempat berbentuk.

Dan yang membuatnya makin sesak, ia tahu betul dulu ia bukan tipe perempuan yang gampang membayangkan diri sebagai ibu. Ia pernah bilang ke Tama bahwa ia bahkan bisa saja tidak ingin punya anak sama sekali. Bukan karena ia benci anak kecil. Ia cuma takut satu hari nanti ada anak yang tumbuh di dekatnya lalu belajar menahan takut terlalu cepat, seperti dirinya dulu.

Ia masih ingat betul cara Tama menanggapi pengakuan itu. Tidak menertawakan. Tidak juga buru-buru bilang semua akan baik-baik saja. Ia malah bilang, "Yaudah, kita lulusin dua ikan dulu."

Nadine sampai ketawa waktu itu. "Ikan enggak bisa manggil kamu ayah."

"Bagus. Berarti tekanannya masih rendah."

"Dan kalau aku tetap enggak mau punya anak?"

Tama memasukkan potongan martabak terakhir ke mulut, lalu menjawab sambil susah bicara, "Yaudah. Berarti aku fokus jadi suami yang rajin bersihin kolam."

Nadine mendengus. "Garing."

"Tapi kamu ketawa."

Dan memang ia ketawa. Mungkin justru karena untuk pertama kalinya ada orang yang tidak memaksa ketakutannya berubah jadi jawaban malam itu juga.

Di dunia lain mungkin ia sedang memilih tas sekolah itu sambil debat kecil dengan Tama soal warna. Mungkin Tama akan bilang yang polos lebih gampang dipakai lama. Dan Nadine akan tetap memilih yang ada gambarnya karena anak kecil tidak seharusnya tumbuh terlalu cepat.

Di dunia lain mungkin ia pulang ke rumah krem itu sambil bawa stroberi. Masuk ke dapur abu-abu. Menyalakan mixer. Anak kecil itu berdiri di samping meja, ujung dagunya masih belepotan biskuit.

"Ibu, boleh jilat sendoknya enggak?"

Mungkin ia akan pura-pura galak. Mungkin Tama akan membela. Mungkin mereka akan tertawa karena remah kue jatuh lagi di tempat yang baru saja disapu.

Dan saat cheesecake itu keluar dari oven, mungkin tidak ada yang benar-benar sempurna. Mungkin bagian atasnya sedikit retak. Mungkin stroberinya miring. Tapi ada dua tangan kecil yang bertepuk senang, dan satu suara kecil yang terdengar cukup untuk menenangkan satu rumah:

"Ibu bikin enak."

Sesudah dari sana, Nadine benar-benar masuk ke supermarket kecil di ujung jalan. Tanpa rencana, ia mengambil satu bungkus cream cheese. Lalu berhenti cukup lama di rak biskuit.

Jemarinya menyentuh dua bungkus yang biasa ia pakai untuk dasar cheesecake. Dan untuk beberapa detik, ia seperti melihat hidup lain berdiri sejajar dengan lorong belanja itu.

Di dunia lain mungkin ia sedang kirim pesan ke Tama dari supermarket:

stroberinya ambil yang kecil atau yang besar?

Lalu Tama akan balas lama karena bingung. Dan ia akan kesal-kesal lucu sambil tetap mengambil dua-duanya.

Di dunia lain mungkin ada anak kecil duduk di troli, kaki mungilnya menendang-nendang udara, rewel minta yogurt rasa stroberi. Mungkin Tama akan diam-diam memasukkannya ke keranjang. Mungkin Nadine akan pura-pura tidak lihat.

Malamnya, Nadine benar-benar mencoba membuat cheesecake lagi di dapur kecil kos yang cuma cukup untuk satu orang berdiri.

Mejanya sempit. Pisaunya tumpul. Kulkasnya bahkan tidak dingin betul. Ia tetap membuka cream cheese itu pelan-pelan, menghancurkan biskuit, lalu menakar gula sambil sesekali berhenti hanya untuk menatap kosong ke mangkuk.

Tidak ada suara Tama yang bertanya takarannya sudah pas atau belum. Tidak ada tangan lain yang menahan mangkuk waktu ia mengaduk terlalu cepat. Tidak ada orang yang berdiri di pintu dapur cuma untuk mencicipi satu sendok lalu bilang terlalu asam padahal sebenarnya enak.

Dan entah kenapa, justru di situ bayangan itu datang lagi.

Di dunia lain mungkin Tama berdiri di belakangnya sambil bawa piring kotor bekas makan malam. Mungkin ia pura-pura mencuri stroberi dari mangkuk topping. Mungkin Nadine akan menepis tangannya.

"Jangan diambil, itu buat atasnya."

"Satu doang."

Lalu mungkin dari ruang tamu ada langkah-langkah kecil mendekat. Piyama kebesaran. Rambut acak-acakan habis tidur sore. Suara kecil yang belum fasih betul memanggil,

"Ibu, aku bangun."

Mungkin Tama akan lebih dulu menoleh. Mengangkat tubuh kecil itu ke pinggangnya. Mungkin Nadine akan tetap melanjutkan adonan sambil diam-diam tersenyum, karena beberapa kebahagiaan memang paling indah justru saat sedang sibuk-sibuknya.

Sampai di titik itu, mixer kecil di tangannya terlalu lama diam. Nadine baru sadar air matanya jatuh satu-satu ke punggung tangan. Ia buru-buru mengusapnya. Bukan karena ingin berhenti sedih. Lebih karena takut kalau ia membiarkannya terlalu lama, seluruh malam itu akan ikut runtuh.

Ia tetap memanggang kuenya. Tetap menunggu oven. Tetap duduk di depan kaca oven kecil sambil memeluk lutut seperti orang yang sedang menjaga sesuatu agar tidak amblas.

Sesudah kuenya matang, Nadine duduk di tepi ranjang sambil masih memikirkan etalase itu. Lampu kamar menyala kuning. Kipas berputar pelan. Ponselnya di samping bantal, diam.

Cheesecake kecil itu masih mendingin di meja. Permukaannya retak tipis di tengah.

Ia tidak membuka chat siapa-siapa. Ia hanya menatap langit-langit, lalu berpikir sesuatu yang selama ini selalu ia hindari karena terlalu menyakitkan untuk diucapkan dengan jujur:

barangkali di dunia lain, ia memang sampai.

Barangkali di dunia lain ia cukup berani tinggal di sesuatu yang baik sebelum semuanya terlambat. Barangkali di dunia lain, ia tidak kembali pada orang yang membuatnya ragu. Barangkali di dunia lain, ia memilih tenang, bukan akrab.

Dan di dunia lain itu mungkin ada anak kecil yang melangkah pertama kali di ruang tamu krem. Mungkin ada pagi sibuk yang melelahkan. Mungkin ada hari sekolah pertama. Mungkin ada malam ketika ia dan Tama bergantian menenangkan demam pertama, sama-sama panik tapi pura-pura tidak. Mungkin ada sore ketika hasil gambar rumah-rumahan dibawa pulang dari sekolah dan ditempel di kulkas abu-abu itu. Mungkin ada tangan kecil yang bergantian memanggil,

"Ibu."

lalu,

"Ayah."

Dan mungkin mereka berdua akan saling memandang sebentar dari dua sisi rumah yang sama, sama-sama capek, sama-sama kurang tidur, tapi diam-diam tahu hidup itu sudah tepat.

Pikiran itu membuat dada Nadine sesak dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Bukan sesak karena dikejar. Bukan juga karena bingung. Lebih seperti sedih yang akhirnya duduk tenang dan mengaku namanya sendiri.

Ia sedih bukan hanya karena kehilangan Tama. Ia sedih karena akhirnya mengerti bahwa beberapa orang tidak datang untuk menyakitimu, melainkan untuk menunjukkan bentuk hidup yang sebenarnya kamu butuhkan, lalu pergi karena kamu belum cukup berani memilihnya.

Dan yang lebih membuatnya muram, ia tahu hidup itu tidak gagal karena kurang cinta. Ia gagal karena waktu itu ia masih mengira akrab selalu lebih aman daripada tenang. Ia gagal karena saat ada seseorang sungguh-sungguh datang membawa masa depan, ia justru pulang ke tempat yang membuatnya terus menebak-nebak.

Pada malam yang sama, aku mencuci piring bekas cheesecake sendirian di rumah itu. Dan di kosnya, Nadine membiarkan cheesecake buatannya mendingin terlalu lama di meja.

Pagi buta keesokan harinya, kami berdua melakukan hal yang hampir sama di tempat yang berbeda. Aku memotong sisa cheesecake buatanku lalu menyimpannya di kulkas. Nadine memotong kue buatannya sendiri, mencicipi satu suap kecil, lalu menutup kotaknya lagi.

Kueku terlalu padat. Kuenya sedikit retak di atas. Tidak ada yang sempurna di dua dapur itu. Tapi mungkin memang bukan soal hasil akhirnya. Mungkin yang membuat semuanya sesak justru karena kami berdua tahu, kalau hidup sedikit saja bergerak ke arah lain, dua kue itu mungkin akan diletakkan di meja yang sama.

Kami tidak saling menghubungi. Tidak juga saling memanggil pulang.

Tapi mungkin pada jam yang hampir sama, kami sama-sama berhenti di satu kalimat yang serupa:

di dunia lain mungkin kita sampai.

Mungkin ada rumah yang tetap sama warnanya. Krem di ruang tamu. Maroon di satu sisi. Abu-abu di dapur. Kolam ikan kecil di depan. Dan suara anak yang berlari dari teras ke dalam rumah seperti sesuatu yang dari awal memang pantas lahir.

Tapi dunia ini bukan dunia itu.

Barangkali inilah perpisahan terakhir kami. Bukan yang ditutup pintu keras-keras. Bukan juga yang ditandai kalimat besar. Hanya dua orang yang akhirnya menerima bahwa mereka tidak bisa bersama lagi, dan kenyataan itu lebih menyakitkan daripada yang dulu sempat kami bayangkan.

Mungkin kami memang tidak pernah sepenuhnya memahami satu sama lain. Tapi itu tidak membuat yang pernah kami rasakan jadi palsu. Kalau ada yang tetap layak disyukuri, mungkin ini: kami pernah saling menunjukkan seperti apa rasanya dipilih, dipedulikan, dibayangkan dalam sebuah masa depan. Dan sayangnya, kami juga saling menunjukkan seperti apa rasanya patah hati ketika masa depan itu berhenti jadi jalan yang sama.

Aku tidak tahu apakah jarak ini kelak akan terasa seperti kehilangan atau kedamaian. Mungkin dua-duanya. Tapi kalau memang ini satu-satunya bentuk baik yang masih tersisa, semoga jarakku cukup untuk memberimu ruang bernapas. Semoga jarakmu juga cukup untuk membuatku berhenti menunggu hal yang tidak lagi menuju ke arahku.

Kami benar-benar sudah mencoba. Dengan cara yang kami tahu. Dengan tenaga yang kami punya. Dengan cinta yang, meski tidak cukup menyelamatkan semuanya, tetap pernah terasa sungguh.

Dan mungkin bentuk paling dewasa dari cinta yang gagal memang begini: tetap bisa membayangkan hidup yang indah bersama seseorang, lalu menerima bahwa hidup itu tidak akan pernah jadi milik kita.

Sesudah ini, mungkin yang tersisa memang hanya latihan kecil yang berat: hidup dengan keheningan yang ditinggalkan orang lain, hari demi hari.

Keinginanku sederhana. Kalau dunia paralel itu benar-benar ada, semoga di sana kami tidak saling terlambat.

Kalau tidak ada pun, semoga hidup ini cukup baik untuk membuat kami pelan-pelan sembuh dari semua kehidupan kecil yang tidak sempat lahir.