Jam 07.18 pagi.
Reno masih duduk di komputer tiga.
Tab iklan kos itu belum ditutup. Nomor WhatsApp dengan nama Tuti masih nongol di sudut kanan layar, kecil tapi cukup buat bikin dadanya sesek sesek sendiri.
Dia pegang mouse, geser kursor ke tombol chat, berhenti, mundur lagi.
Geser. Berhenti. Mundur lagi.
Tiga kali.
Pak Wahyu melirik dari balik meja kasir.
"Mouse lu rusak, atau nyali lu?"
Reno ngelus muka. "Belum siap aja, Pak."
"Belum siap apa, ngobrol?"
"Ngebuka masa lalu."
Pak Wahyu ngangguk kecil, lalu balik ke monitor kasir. "Kalau belum siap ya jangan dipaksa. Tapi jangan juga kebanyakan gaya."
Reno ketawa tipis. "Nasihat bapak selalu bikin pengin marah tapi bener."
"Itu skill."
Warnet itu mulai hidup.
Cyber Star, atau Bintang Lima kalau kata anak anak gang, selalu punya cara sendiri buat terasa ramai.
Bunyi kipas CPU. Bau kabel panas. Kursi plastik yang kalau didudukin bunyinya minta ampun. Poster game lama yang sudutnya udah melengkung.
Dan Pak Wahyu yang tiap pagi nyetel lagu lawas pelan, volume cukup buat ngusir sepi tapi nggak cukup kenceng buat ganggu orang push rank.
Kalau dilihat sekilas, tempat ini biasa banget.
Kalau dipakai bertahan, tempat ini mewah.
"Kenapa namanya Bintang Lima sih?" tanya Reno sambil setengah tiduran di kursi.
Pak Wahyu nggak ngangkat kepala. "Karena harapan gratis."
"Apaan."
"Semua yang nginep di sini punya harapan masing masing. Ada yang mau lulus. Ada yang mau menang turnamen. Ada yang mau kerjaan baru. Ada yang cuma mau jangan tidur di jalan. Lima bintang itu dari situ."
Reno diem sebentar.
"Berarti gue bintang berapa?"
"Lu?"
Pak Wahyu akhirnya nengok. "Lu ini ulasan jujur. Kadang bintang lima, kadang satu."
Reno ketawa keras.
Setengah jam kemudian, anak SMA masuk dua orang. Sewa paket dua jam. Satu main game balap, satu ngerjain tugas sambil nyontek jawaban dari forum lawas.
Jam 09.00, abang ojek online masuk numpang ngecas.
Jam 10.15, mas mas kurir nanya print resi.
Jam 11.00, listrik sempet turun sebentar lalu balik lagi.
Hari jalan terus.
Reno bantu apa aja yang bisa dia bantu.
Ngelap meja. Benerin kabel LAN yang ketarik kaki pelanggan. Ngangkat dus minuman ke kulkas kecil belakang. Ngecek keyboard mana yang tombol spasinya ngadat.
Nggak ada kontrak. Nggak ada slip gaji. Nggak ada aturan resmi.
Tapi ada ritme yang diam diam bikin dia ngerasa masih kepake.
Menjelang dzuhur, Pak Wahyu naruh semangkuk mie rebus di meja Reno. Plus telur setengah matang yang putihnya belum rapi.
"Makan."
"Nanti gue ganti."
"Udah dibilang belakangan."
"Belakangan tuh kapan sih."
Pak Wahyu ngeloyor ke rak rokok. "Kalau lu udah jadi orang."
"Kejam banget."
"Biar cepet."
Reno ngaduk mie pelan. Uapnya naik ke muka. Buat ukuran mie rebus warnet, ini enak parah.

"Pak."
"Hm?"
"Bapak dulu kenapa buka warnet?"
Pak Wahyu mikir sebentar. "Karena dulu nggak keterima jadi guru."
Reno ngangkat alis.
"Serius?"
"Serius. Tes tiga kali. Gagal tiga kali."
"Terus?"
"Terus gue kesel. Daripada nganggur, gue buka warnet. Taunya sekarang malah jadi satpam nasib anak orang."
Reno nyengir. "Bapak kalau jadi guru galak banget kayaknya."
"Lah sekarang emang nggak galak?"
Mereka ketawa kecil.
Setelah itu hening.
Bukan hening canggung.
Hening orang yang lagi makan bareng dan tahu kalau nggak ngomong pun tetap ditemenin.
Jam 13.40, hujan turun.
Tipis dulu. Lalu tebel. Lalu bikin jalan depan warnet jadi kaca buram.
Reno berdiri di dekat pintu, ngeliat titik titik air mantul di aspal.

"Kalau hujan, stop kontak mahal," kata Pak Wahyu dari belakang.
"Kenapa?"
"Karena semua orang butuh tempat nancep."
Reno nengok. "Bapak kalau ngomong kadang ngelantur."
"Lu aja yang telat paham."
Sore mulai turun.
Tiga komputer penuh. Dua kursi tunggu ikut kepake. Kulkas minuman tinggal separuh. Mie instan tinggal lima bungkus.
Reno ngitung cash kecil sambil nulis di buku catatan warnet yang kertasnya udah mulai kuning.
Tangan kirinya kena tinta pulpen.
Dia ngeliat punggung tangan itu.
Nama Lastri masih ada. Nama Wahyu yang dia tulis pagi tadi belum pudar.
Dan di tas, spidol hitam masih nyelip.
Kebiasaan aneh itu bikin dia ngerasa aman.
Kayak kalau suatu hari dia lupa semuanya, setidaknya ada bukti bahwa hidupnya pernah disentuh orang orang baik.
Jam 17.12, notifikasi WhatsApp bunyi.
Bukan dari nomor baru.
Dita.
Dita:
Lu hidup?
Reno ngetik.
Reno:
Sayangnya iya.
Typing...
Dita:
Receh. Makan?
Reno:
Udah.
Dita:
Jujur.
Reno ngeliat mangkuk mie yang udah kosong.
Reno:
Mie rebus.
Typing...
Dita:
Berarti belum makan.
Reno geleng geleng sendiri.
Reno:
Lu kenapa sih selalu bener.
Pesan berikutnya masuk tanpa jeda.
Dita:
Karena lu selalu sok kuat.
Reno baca pesan itu dua kali.
Lalu tiga kali.
Dia nggak bales.
Bukan karena nggak mau.
Karena ada kalimat yang kalau dibales buru buru, nanti jadi bohong.
Dia lock layar. Taruh HP. Balik ke kasir.
Pak Wahyu ngeliat sekilas. "Dita?"
"Iya."
"Masih marah?"
"Nggak tau."
"Lu nanya?"
"Belum."
Pak Wahyu nyender di kursinya. "Lu ini lucu ya. Kalau urusan colokan, lu jago cari. Kalau urusan orang, lu muter muter."
"Kena juga gue."
"Iya."
Malam turun pelan.
Hujan belum berhenti.
Pelanggan terakhir keluar jam 21.07. Rolling door setengah ditutup. Lampu depan dimatiin satu.
Warnet jadi lebih sunyi dari biasanya.
Reno balik duduk di komputer tiga.
Tab iklan kos masih kebuka dari pagi.
CP: Tuti.
Kursor berkedip di kolom chat.
Reno buka tas. Ambil spidol.
Di bawah nama Wahyu, dia tulis satu kata kecil.

Tuti?
Ada tanda tanya. Bukan karena nggak kenal. Karena takut ternyata kenal.
Dia narik napas panjang.
Klik chat.
Jempolnya ngetik pelan.
Mbak, ini bener kos mingguan di Melati Dalam?
Kirim.
Terkirim.
Dua centang abu.
Reno nunggu.
Satu menit. Dua menit. Tiga menit.
Belum dibales.
Dia mau nutup laptop kasir waktu balon chat baru muncul.
Tuti:
Iya, benar.
Tuti:
Ini siapa?
Reno ngerasa tenggorokannya kering.
Jarinya diem di atas keyboard.
Lama banget.
Sampai Pak Wahyu dari belakang nyeletuk, "Ngetik nama sendiri aja lama amat."
Reno nggak nengok.
Dia mulai ngetik pelan.
Saya Reno.
Belum dikirim.
Kursor kedip kedip, kayak nunggu dia mutusin mau jadi orang yang lama, atau orang yang baru.
