Jam 06.04 pagi.
Reno baru tidur dua jam waktu pintu kamarnya diketuk, tiga kali, keras, dengan nada orang yang sudah latihan dari semalam.
Dia tidak buka mata. Mungkin salah kamar.
Ketukan kedua. Lebih keras.
Atau nggak.
"Reno."
Suara Bu Lastri. Pemilik kos. Perempuan enam puluhan yang koleksi sandalnya lebih banyak dari koleksi kesabarannya.
Reno buka mata. Plafon kamarnya ada noda bocoran berbentuk mirip peta Sulawesi. Dia sudah hapal itu sejak bulan pertama. Sekarang bulan kesepuluh.
"Reno. Ibu tahu kamu di dalam."
Ya iya, Bu. Kos ini dindingnya triplek.
Dia duduk. Ambil HP, layar retak tiga jalur, tapi masih nyala. 06.04. Notifikasi 0. Seperti biasa.
"Satu menit, Bu."
Bu Lastri tidak tunggu satu menit.
Pintu terbuka, dikunci dari luar memang, tapi Reno lupa pasang gerendel dalam. Kesalahan lama yang tidak pernah dia perbaiki karena "ah, nggak ada yang mau masuk juga."
Bu Lastri berdiri di ambang pintu dengan daster bunga bunga dan muka orang yang sudah memutuskan sesuatu sebelum sarapan.
Di tangannya ada selembar kertas.
Reno kenal kertas itu.
Rekap tunggakan.
"Tiga bulan, Reno."
"Iya, Bu."
"Ibu udah sabar."
"Iya, Bu."
"Sekarang..."
"Ibu mau gue keluar." Reno berdiri, ambil ranselnya dari bawah kasur, satu satunya barang yang dia pack setiap malam sebelum tidur, kebiasaan dari panti, kalau harus pergi cepat. "Gue ngerti."
Bu Lastri terdiam sebentar. Mungkin sudah siapkan speech panjang dan Reno memotong bagian terbaiknya.
"Kamu... nggak mau nego?"
"Nego pakai apa, Bu."
Hening.
Bu Lastri melipat kertas itu, memasukkannya ke saku daster. Ekspresinya berubah sedikit, tidak lagi tegas, lebih ke sesuatu yang tidak enak dilakukan tapi tetap dilakukan.
"Maaf ya, Ren."
"Nggak papa." Reno pasang ranselnya. Satu tas. Isinya dua baju, satu jaket, charger yang kabelnya hampir putus di pangkal, dan powerbank yang dari kemarin nggak mau ngisi. "Bu Lastri boleh minta tolong satu hal nggak?"
"...Apa?"
"Foto bareng."
Bu Lastri tidak mengerti.
Reno juga tidak terlalu menjelaskan. Dia ambil HP retak itu, minta Bu Lastri berdiri di depan pintu kamar, kamar dengan bekas lakban, bekas rak kayu palet, dan bekas hidup sepuluh bulan yang kelihatannya tidak banyak tapi terasa berat.
Klik.
Foto itu jelek. Cahaya pagi dari jendela kecil terlalu keras dari samping. Bu Lastri mukanya setengah bingung setengah tidak nyaman.
Tapi Reno lihat fotonya, dan bilang, "Bagus."
Bu Lastri tanya, "Buat apa?"

"Buat kenangan."
"Kamu... kenangan kos?"
"Kenangan orangnya." Reno mengunci layar. "Makasih udah nampung gue sepuluh bulan, Bu. Maaf nunggaknya."
Dia keluar.
Bu Lastri berdiri di ambang pintu kamar kosong itu cukup lama.
Di gang depan kos, Reno berhenti sebentar.
Jalan masih sepi. Tukang sayur belum lewat. Udara jam 6 pagi bau tanah basah dan asap dari warung nasi di ujung gang. Reno tarik napas dalam, bukan karena dramatis, tapi karena dia sedang menghitung.
Oke. Inventaris.
Uang di dompet tinggal 43 ribu. Cukup untuk makan dua kali kalau pilih yang benar, satu kali kalau lapar. Baju bersih dua. Kosan yang mau terima bayar belakangan, tidak ada. Teman untuk numpang ada, tapi Dita tinggal di kos putri dan Reno tidak mau bikin drama. Opsi paling masuk akal cuma warnet Pak Wahyu.
Selalu warnet Pak Wahyu.
Reno mulai jalan.
Warnet itu namanya "Cyber Star". Tulisannya sudah pudar, huruf C dan S setengah mati, jadi dari kejauhan kelihatan seperti "yber tar." Anak anak sekitar lebih kenal tempat itu sebagai Bintang Lima. Pak Wahyu tidak pernah menggantinya. "Masih kebaca kan," katanya suatu kali.
Buka jam 7. Sekarang 06.21.
Reno duduk di bangku plastik di depan rolling door yang masih tutup. Ransel di pangkuan. Langit mendung tipis, bukan tipe yang hujan beneran, cuma tipe yang bikin hari terasa abu abu tanpa alasan jelas.
Dia keluarkan spidol hitam kecil dari saku samping ransel.
Buka punggung tangan kiri.
Ada beberapa nama di sana, tulisan kecil kecil, rapi, beberapa sudah pudar hampir hilang. Dia temukan satu ruang kosong di bawah jempol, lalu nulis "Lastri."

Ditiup pelan biar cepat kering.
Ini bukan hal yang pernah dia jelaskan ke siapa pun dengan benar.
Bukan ritual. Bukan obsesi. Bukan juga sesuatu yang dia mulai dengan sadar. Dia hanya ingat suatu hari di panti, waktu umur sebelas tahun, ada satu kakak pengurus yang namanya Mbak Tuti, menyelipkan sebungkus biskuit ke bawah bantalnya sebelum Lebaran karena Reno tidak ke mana mana sementara anak anak lain dijemput keluarga.
Mbak Tuti pindah tiga bulan kemudian. Reno takut lupa wajahnya. Takut lupa namanya. Jadi dia tulis.
Dan setelah itu, setiap kali ada orang yang melakukan sesuatu yang kecil tapi terasa besar, dia tulis.
Bu Lastri nunggak tiga bulan tapi tidak pernah kasar. Layak ditulis.
"Udah dari jam berapa?"
Pak Wahyu muncul dari gang samping, bawa kantong kresek yang berbau minyak dan bawang goreng. Sudah ganti baju, sudah sisiran, sudah siap buka, tinggal rolling door yang belum.
"Sekitar jam enam lewat setengah."
"Diusir?"
Reno tidak menjawab. Yang artinya iya.
Pak Wahyu menghela napas, bukan kasihan, lebih ke napas orang yang sudah sering melihat hal yang sama. Dia buka rolling door, lampu dalam menyala satu per satu dengan bunyi ketek ketek yang sudah jadi semacam lagu pembuka.
"Masuk. Komputer tiga, yang lain lagi ada yang service."
"Bayarnya..."
"Belakangan."
"Pak..."
"Belakangan, Reno." Pak Wahyu sudah masuk ke balik meja kasir, mulai keluarin isi kantong kresek, nasi kuning bungkus daun, dua bungkus. "Udah makan?"
"Belum."
Satu bungkus digeser ke tepi meja. Ke arah Reno.
Reno lihat bungkusan itu. Lihat Pak Wahyu yang sudah sibuk nyalain komputer kasir dan pura pura tidak melakukan apa apa barusan.
Dia ambil nasi itu. Duduk di depan komputer tiga.

Tidak bilang terima kasih, karena Pak Wahyu tidak suka diterima kasih. Pernah dicoba sekali, responnya "Lebay."
Tapi sebelum buka bungkusan, Reno keluarkan spidol lagi.
Di bawah nama "Lastri" yang baru kering, dia tulis "Wahyu."
Sudah ada sebelumnya, nama itu. Sudah pudar. Dia tulis ulang.
Jam 07.00 pagi.
Di luar, motor mulai ramai. Warung nasi di ujung gang mulai bising. Dunia mulai jalan seperti biasa, tidak tahu dan tidak peduli bahwa ada seorang anak delapan belas tahun dengan ransel satu satunya, baru kehilangan atap untuk kesekian kalinya, sedang makan nasi kuning di depan komputer warnet, dan merasa untuk beberapa menit ke depan semuanya cukup.
Reno buka browser.
Ketik "kos murah daerah [nama jalan] bayar mingguan."
Enter.
Gue nggak butuh kasihan, pikirnya sambil scroll hasil pencarian yang hampir semuanya di luar budget.
Gue cuma butuh stop kontak sama WiFi.
Dan mungkin satu atap.
Lalu satu iklan kecil muncul di halaman kedua.
Kost Harian Murah, bayar mingguan boleh, daerah Melati Dalam.
Alamatnya bikin Reno berhenti napas sebentar.
Melati Dalam.
Nama gang panti lamanya.
Dia hampir tutup tab waktu nomor WhatsApp di bawah iklan itu kebaca jelas.
CP: Tuti.
Reno menatap layar cukup lama.
Spidol di tangannya belum dia tutup.
Dan untuk pertama kalinya pagi itu, dia bingung harus mulai dari cari atap, atau cari jawaban.